Senin, 19 Juli 2010

Resusitasi pada neonatus

KSM ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN

2005

Pendahuluan

Keahlian resusitasi pada neonatal penting untuk dimiliki oleh penyelia jasa kesehatan yang berhubungan dengan bayi baru lahir. Persentase dari bayi yang memerlukan resusitasi adalah sekitar 10 % dari seluruh bayi baru lahir.

Asfiksia perinatal dan prematuritas yang berlebihan adalah 2 komplikasi dari kehamilan yang paling sering membutuhkan resusitasi yang komplek yang dilakukan oleh personel yang terlatih. Dari seluruh bayi yang mengalami asfiksia, 60 % dapat diprediksi antepartum sedangkan 40 % sisanya diketahui asfiksia setelah dilahirkan. Dari seluruh bayi yang lahir dengan berat lahir rendah, 80% dari seluruhnya memerlukan resusitasi dan stabilisasi saat dilahirkan.

Angka kematian bayi baru lahir (terutama bayi yang sangat prematur) pada 24 jam pertama sangat tinggi. Kebanyakan dari kematian ini disebabkan oleh asfiksia dan atau depresi pernapasan. Bagi bayi yang bertahan hidup, keefektifan penanganan asfiksia pada menit – menit pertama kehidupan bayi menentukan prognosis jangka panjangnya.

Walaupun prenatal care dapat mengidentifikasi banyak masalah bagi janin yang potensial timbul pada saat setelah lahir, sehingga dapat segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang memadai. Tapi banyak ibu hamil yang lahir preterm tidak teridentifikasi dengan baik. Akibatnya banyak kelahiran dari bayi yang sangat prematur terjadi di rumah sakit yang kecil. Karena itu, maka semua personel yang terlibat di ruang persalinan harus mengerti tentang resusitasi bayi baru lahir.

Fisiologi dari bayi baru lahir

Banyak perubahan kompleks yang terjadi pada sistem kardiovaskuler dan sistem respiratorius pada saat bayi baru lahir yang memungkinkan terjadinya pertukaran gas yang awalnya dari plasenta ke paru-paru. Cairan amnion yang mengisi paru-paru dikeluarkan sehingga memungkinkan terjadinya ventilasi dan perfusi dari paru-paru. Dengan adanya penutupan aliran darah dari plasenta menyebabkan penurunan PaO2, penurunan pH dan peningkatan PaCO2 sehingga terjadi penarikan nafas pertama kali. Penurunan suhu tubuh dan adanya rangsang taktil juga turut berperan. Penutupan aliran darah plasenta dan dimulainya pernafasan menyebabkan redistribusi aliran darah, dimana tekanan arteri pulmonalis menurun dan peredaran darah sistemik meningkat. Darah yang berasal dari paru-paru fetal dialirkan ke duktus arteriosus dan didistribusikan ke sirkulasi paru-paru. peningkatan PaO2 menyebabkan penutupan duktus tersebut.

Resusitasi

Resusitasi diperlukan oleh neonatus yang dalam beberapa menit pertama kehidupannya tidak dapat mengadakan ventilasi efektif dan perfusi adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi dan eliminasi karbondioksida, atau bila sistem kardiovaskular tidak cukup dapat memberi perfusi secara efektif kepada susunan saraf pusat, jantung dan organ vital lain.
Penyebab terjadinya oksigenasi yang tidak efektif dan perfusi yang tidak adekuat pada neonatus dapat berlangsung sejak saat sebelum persalinan hingga masa persalinan.

Kondisi yang memerlukan resusitasi neonatus misalnya :
1. Sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah yang jatuh

ke posterior.
2. Kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu misalnya

obat anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan sebagainya
3. Kerusakan neurologis.
4. Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat, dan /

atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan /

sirkulasi.
5. Syok hipovolemik misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahan

Resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan. Jika terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya.

Penting untuk resusitasi yang efektif :
1. Tenaga yang terampil, tim kerja yang baik
2. Pemahaman tentang fisiologi dasar pernapasan, kardiovaskular, serta proses asfiksia

yang progresif
3. Kemampuan / alat pengaturan suhi, ventilasi, monitoring
4. Obat-obatan dan cairan yang diperlukan

PRINSIP !!
Penyebab kematian yang paling cepat adalah asfiksia dan perdarahan.

Asfiksia perinatal merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang penting. Akibat jangka panjang asfiksia perinatal ini dapat diperbaiki secara bermakna bila hal ini diketahui sebelum kelahiran (misalnya pada keadaan gawat janin ), sehingga dapat diusahakan memperbaiki sirkulasi / oksigenasi janin intrauterin atau segera melahirkan janin untuk mempersingkat masa hipoksemia janin yang terjadi. Proses yang terjadi pada asfiksia perinatal dapat diramalkan meskipun penyebabnya belum diketahui. Kekurangan oksigen pada janin sering disertai hiperkapnia dan asidosis campuran metabolik-respiratorik.

Asfiksia yang terdeteksi sesudah lahir, prosesnya berjalan dalam beberapa fase / tahapan (Dawes) :
1. Janin bernapas megap-megap (gasping), diikuti dengan
2. Masa henti napas (fase henti napas primer).
3. Jika asfiksia berlanjut terus, timbul seri pernapasan megap-megap yang kedua selama

4-5 menit (fase gasping kedua), diikuti lagi dengan
4. Masa henti napas kedua (henti napas sekunder)

Bayi yang berada dalam keadaan henti napas primer, biasanya pletorik (walaupun banyak yang sianotik). Bayi dalam henti napas sekunder, berwarna biru sampai ungu dan pucat.

Bayi yang dilahirkan dalam keadaan henti napas primer, sering dapat mulai bernapas spontan setelah stimulasi sensorik (misalnya telapak kaki ditepuk, atau punggung diusap-usap dengan agak cepat dan keras).
Bayi yang berada dalam keadaan henti napas sekunder, tidak akan dapat mulai bernapas spontan, dan harus dibantu dengan ventilasi tekanan positif dan oksigen (resusitasi pernapasan artifisial / mekanik).
Makin lama selang waktu dari saat mulai henti napas sekunder sampai dimulainya resusitasi ventilasi tekanan positif, makin lama pula waktu yang diperlukan bayi untuk mulai bernapas spontan yang adekuat, prognosis makin buruk.
Selama asfiksia, curah jantung dan tekanan darah menurun. Terjadi redistribusi curah jantung untuk mempertahankan aliran darah ke otak, jantung dan adrenal. Pada asfiksia yang terus berlanjut, curah jantung makin menurun dan aliran darah ke organ-organ vital tidak mencukupi lagi.

Pada bayi dengan asfiksia, secara kasar terdapat korelasi antara frekuensi jantung dengan curah jantung. Karena itu pemantauan frekuensi jantung (misalnya dengan stetoskop, atau perabaan nadi tali pusat ) merupakan cara yang baik untuk memantau efektifitas upaya resusitasi.

Prinsip-prinsip umum prosedur resusitasi neonatus
T (temperature), baru kemudian A-B-C-D

Pengaturan suhu
Semua neonatus dalam keadaan apapun mempunyai kesukaran untuk beradaptasi pada suhu lingkungan yang dingin. Neonatus yang mengalami asfiksia khususnya, mempunyai sistem pengaturan suhu yang lebih tidak stabil, dan hipotermia ini dapat memperberat / memperlambat pemulihan keadaan asidosis yang terjadi.
Segera sesudah lahir, badan dan kepala neonatus dikeringkan dengan kain kering hangat, dan diletakkan telanjang di bawah alat / lampu pemanas radiasi untuk mencegah kehilangan panas. Namun harus diperhatikan pula agar tidak terjadi pemanasan yang berlebihan pada tubuh bayi.

Penilaian status klinik
Digunakan penilaian Apgar untuk menentukan keadaan bayi pada menit ke 1 dan ke 5 sesudah lahir.
Nilai pada menit pertama : untuk menentukan seberapa jauh diperlukan tindakan resusitasi. Nilai ini berkaitan dengan keadaan asidosis dan kelangsungan hidup.
Nilai pada menit kelima : untuk menilai prognosis neurologik.

Ada pembatasan dalam penilaian Apgar ini, yaitu :
1. Resusitasi segera dimulai bila diperlukan, dan tidak menunggu sampai ada penilaian

pada menit pertama.
2. Keputusan perlu-tidaknya resusitasi maupun penilaian respons resusitasi dapat

cukup dengan menggunakan evaluasi frekuensi jantung, aktifitas respirasi dan tonus

neuromuskular, daripada dengan nilai Apgar total. Hal ini untuk menghemat waktu.

Posisi Dari Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir rata – rata mempunyai lidah yang relatif besar yang dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas. Tempatkan kepala dalam posisi sniffing position ( posisi sedikit flexi kepala) dengan handuk yang diletakkan di bawah bahu. Hal ini dapat membantu menggerakkan lidah dari orofaring bagian posterior dan membuka jalan nafas.

Bebaskan/bersihkan jalan nafas

Pastikan bahwa jalan nafas bayi bebas dari berbagai bahan atau material yang dapat menghalangi masuknya udara ke dalam paru. Hal ini dapat dilakukan dengan :

1. Ekstensikan kepala dan leher dengan mengganjal bahu bayi menggunakan lipatan kain

2. Hisap lendir/cairan pada mulut, hidung atau jalan nafas dari cairan ketuban,

mekoneum atau bahan-bahan lainnya.

Suction tidak boleh terlalu dalam karena dapat menyebabkan laringospasme dan bradikardi karena rangsangan N. vagus (vagal reflek). Selama prosedur dilakukan sebaiknya kita memantau denyut jantung. Suctioning dilakukan dalam interval 5 detik dan dihentikan jika terjadi bradikardi yang berat.

Rangsang Taktil

Pada umumnya bayi baru lahir dengan depresi kardiorespirasi ringan – sedang akan berespon baik terhadap rangsang taktil yang ditandai dengan meningkatnya denyut jantung dan bertambahnya usaha respirasi. Usaha yang lain adalah dengan menggosok punggung bayi dan memukul telapak kaki bayi. Mengeringkan tubuh bayi, pengisapan lendir atau cairan ketuban dari mulut dan hidung, pada dasarnya adalah tindakan rangsangan. Untuk bayi yang sehat, prosedur tersebut sudah cukup untuk menimbulkan pernafasan.

Prosedur rangsangan taktil yang berbahaya

Satu atau dua kali perangsangan taktil pada umumnya sudah cukup untuk menimbulkan usaha bernafas pada bayi dengan asfiksia/depresi pernafasan ringan atau apneu primer (apneu yang terjadi sesaat setelah lahir dan tidak melebihi waktu 5 menit sehingga belum terjadi hipoksia berat atau penurunan fungsi kardiopulmonal). Bila setelah rangsangan taktil yang adekuat ternyata bayi belum bernafas, segera lakukan resusitasi. Melanjutkan rangsangan taktil pada bayi yang tidak memberikan reaksi atau respons, dianggap membuang-buang waktu dan kesempatan untuk menyelamatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir.

Ada beberapa cara perangsangan taktil yang sering dilakukan tetapi sudah tidak dianjurkan lagi karena mempunyai risiko atau dampak yang kurang menguntungkan pada bayi baru lahir.

Tindakan

Akibat

Menepuk bokong

Trauma dan melukai

Menekan rongga dada

Fraktur, pneumotoraks, gawat nafas, kematian

Menekankan paha ke perut bayi

Ruptura hati/limpa, perdarahan

Mendilatasi sfingter ani

Robek atau lecet pada sfingter

Kompres dingin/panas

Hipotermia, luka bakar

Meniupkan oksigen atau udara dingin ke muka tubuh bayi

Hipotermia

Perencanaan berdasarkan perhitungan nilai Apgar

SKOR APGAR

TAMPILAN

0

1

2

NILAI

A

APPEARANCE / WARNA KULIT

Pucat

Badan merah, ekstremitas kebiruan

Seluruh tubuh kemerahan

P

PULSE / DENYUT JANTUNG

Tidak ada

<>

> 100

G

GRIMACE / REAKSI TERHADAP RANGSANGAN

Tidak ada

Menyeringai

Bersin/batuk

A

ACTIVITY / TONUS OTOT

Tidak ada

Ekstremitas sedikit fleksi

Gerakan aktif

R

RESPIRATION / PERNAFASAN

Tidak ada

Lemah/tidak teratur

Menangis kuat

JUMLAH NILAI APGAR :


1. Nilai Apgar menit pertama 7 - 10 : biasanya bayi hanya memerlukan tindakan

pertolongan berupa penghisapan lendir / cairan dari orofaring dengan menggunakan

bulb syringe atau suction unit tekanan rendah. Hati-hati, pengisapan yang terlalu kuat /

traumatik dapat menyebabkan stimulasi vagal dan bradikardia sampai henti jantung.


2. Nilai Apgar menit pertama 4 - 6 : hendaknya orofaring cepat diisap dan diberikan O2

100%. Dilakukan stimulasi sensorik dengan tepukan atau sentilan pada telapak kaki

dan gosokan selimut kering pada punggung. Frekuensi jantung dan respirasi terus

dipantau ketat. Bila frekuensi jantung menurun atau ventilasi tidak adekuat, harus

diberikan ventilasi tekanan positif dengan kantong resusitasi dan sungkup muka. Jika

tidak ada alat bantu ventilasi, gunakan teknik pernapasan buatan dari mulut ke hidung-

mulut.


3. Nilai Apgar menit pertama 3 atau kurang : bayi mengalami depresi pernapasan yang

berat dan orofaring harus cepat dihisap. Ventilasi dengan tekanan positif dengan O2

100% sebanyak 40-50 kali per menit harus segera dilakukan. Kecukupan ventilasi

dinilai dengan memperhatikan gerakan dinding dada dan auskultasi bunyi napas. Jika frekuensi jantung tidak meningkat sesudah 5-10 kali napas, kompresi jantung harus dimulai. Kompresi dinding dada dapat dilakukan dengan melingkari dinding dada dengan kedua tangan dan menggunakan ibu jari untuk menekan sternum atau dengan menahan punggung bayi dengan satu tangan dan menggunakan ujung dari jari telunjuk dan jari tengah dari tangan yang lain untuk menekan sternum. Tehnik penekanan dengan ibu jari lebih banyak dipilih karena kontrol kedalaman penekanan lebih baik.

Tekanan diberikan di bagian bawah dari sternum dengan kedalaman ± 1,5 cm dan dengan frekuensi 90 X / menit. Dalam 3 X penekanan dinding dada dilakukan 1X ventilasi sehingga didapatkan 30 X ventilasi per menit. Perbandingan kompresi dinding dada dengan ventilasi yang dianjurkan adalah 3 : 1. Evaluasi denyut jantung dan warna kulit tiap 30 detik. Bayi yang tidak berespon, kemungkinan yang terjadi adalah bantuan ventilasinya tidak adekuat, karena itu adalah penting untuk menilai ventilasi dari bayi secara konstan.


Jika frekuensi jantung tetap di bawah 100 kali per menit setelah 2-3 menit, usahakan melakukan intubasi endotrakeal.
Kalau frekuensi jantung tetap kurang dari 100 setelah intubasi, berikan 0.5 - 1 ml adrenalin (1:10.000). Dapat juga secara intrakardial atau intratrakeal, tapi lebih dianjurkan secara intravena.
Jika tidak ada ahli yang berpengalaman untuk memasang infus pada vena perifer bayi, lakukan kateterisasi vena atau arteri umbilikalis pada tali pusat, dengan kateter umbilikalis. Sebelum penyuntikan obat, harus dipastikan ada aliran darah yang bebas hambatan. Dengan demikian pembuluh tali pusat dibuat menjadi drug/fluid transport line.

Jangan memasukkan larutan hipertonik seperti glukosa 50% atau natrium bikarbonat yang tidak diencerkan melalui vena umbilikalis, karena dapat merusak parenkim hati.
Bayi dengan asfiksia berat yang tidak responsif terhadap terapi atau mempunyai frekuensi jantung yang adekuat tetapi perfusinya buruk, hendaknya diberikan cairan ekspansi volume darah ( plasma volume expander ) : 10 ml/kgBB Plasmanate atau albumin 5% secara infus selama 10 menit.
Kalau diduga banyak terjadi perdarahan, berikan transfusi 10 ml/kgBB darah lengkap (whole blood).
Bila bradikardia menetap : ulangi dosis adrenalin. Dapat juga diberikan kalsium glukonat 10% untuk efek inotropik 50-100 mg/kgB intravena perlahan-lahan, atau sulfas atropin untuk antikolinergik / terapi bradikardia 0.01 mg/kgBB.

Asidosis respiratorik : dikoreksi dengan memperbaiki ventilasi
Asidosis metabolik : dikoreksi dengan infus natrium bikarbonat dan cairan ekspansi volume darah.

Ada 3 masalah penting berkaitan dengan pemberian natrium bikarbonat pada bayi :
1. Zat ini sangat hipertonik. Bila diberikan dengan cepat dan dalam jumlah besar akan

mengekspansi volume intravaskular.
2. Jika diberikan dalam keadaan ventilasi tidak adekuat, PaCO2 akan meningkat nyata,

pH akan turun, asidosis makin berat dan dapat terjadi kematian. Hendaknya natrium

bikarbonat hanya diberikan jika ventilasi adekuat, atau telah terpasang ventilasi

mekanik yang baik.
3. Pemberian bikarbonat dapat pula menyebabkan hipotensi.

Bagan resusitasi neonatus

Letakkan bayi dibawah radiant heater

Keringkan tubuh bayi

Sisihkan kain yang basah

Tempatkan bayi pada posisi yang benar

Penghisapan dari mulut lalu hidung

Stimulasi taktil bila perlu


Observasi bila kulit merah atau sianosis perifer

Obat-obatan bila bunyi jantung <80>

60-100

Penyulit yang mungkin terjadi selama resusitasi

Hipotermia
Dapat memperberat keadaan asidosis metabolik, sianosis, gawat napas, depresi susunan saraf pusat, hipoglikemia.


Pneumotoraks
Pemberian ventilasi tekanan positif dengan inflasi yang terlalu cepat dan tekanan yang terlalu besar dapat menyebabkan komplikasi ini. Jika bayi mengalami kelainan membran hialin atau aspirasi mekonium, risiko pneumotoraks lebih besar karena cadangan jaringan paru lebih lemah.


Trombosis vena
Pemasangan infus / kateter intravena dapat menimbulkan trauma pada dinding pembuluh darah, potensial membentuk trombus. Selain itu, infus larutan hipertonik melalui pembuluh darah tali pusat juga dapat mengakibatkan nekrosis hati dan trombosis vena.

INTRODUKSI TENTANG PERAWATAN INTENSIF NEONATUS
(NEONATAL INTENSIVE CARE)

Transfer ke unit perawatan intensif neonatus

Transfer ke unit perawatan intensif neonatus ( NICU – neonatal intensive care unit ) dipertimbangkan pada keadaan / kasus :
1. Gawat napas (sianosis, takipnea, retraksi dinding dada, pernapasan cuping hidung, atau

henti napas) yang memerlukan O2 40% atau lebih untuk mencegah sianosis sentral
2. Bayi prematur kurang dari 2000 gram atau usia gestasi kurang dari 37 minggu
3. Bayi yang sedang mengalami pemulihan dari upaya resusitasi besar
4. Bayi yang sangat mungkin memerluka bantuan respirasi atau bantuan medis besar

lainnya.

Masalah pada neonatus risiko tinggi
1. Khusus pada bayi prematur : hiperbilirubinemia akibat organ hati belum matang,

volume darah rendah, hipoglikemia, defisiensi faktor-faktor imunologik, defisiensi

surfaktan.
2. Pada neonatus risiko tinggi umumnya : rentan terhadap infeksi.

Hal yang diperhatikan pada perawatan intensif neonatus

Pengendalian infeksi

Infeksi nosokomial merupakan penyebab infeksi yang sering menyerang neonatus dalam perawatan. Penularan dapat melalui petugas medis maupun peralatan yang digunakan.
Keadaan neonatus risiko tinggi sangat lemah, dapat segera memburuk jika terserang infeksi, lebih cepat dan lebih berat dibandingkan bayi normal lainnya.
Sterilisasi dan kebersihan merupakan syarat utama suatu unit perawatan intensif pada umumnya, termasuk pada unit perawatan intensif neonatus.

Hati-hati bila ada gejala-gejala yang mengarah ke sepsis neonatorum :
1. Gejala umum : bayi tidak kelihatan sehat, tidak mau minum, suhu badan naik (febris)

atau turun (hipotermia) padahal berada dalam kontrol suhu ruangan yang benar.
2. Gejala gastrointestinal : muntah, diare, hepatomegali, perut kembung, warna

kemerahan
3. Gejala respiratorik : dispneu, takipneu, sianosis
4. Gejala kardiovaskular : takikardia, oedem, dehidrasi, produksi urine kurang
5. Gejala susunan saraf pusat : letargi, iritabel, kejang, tidak sadar
6. gejala hematologik : ikterus, splenomegali, petekiae, perdarahan lain, hitung leukosit

dan/atau trombosit menurun.

Pengendalian suhu
Neonatus tidak mampu mempertahankan suhu tubuhnya dalam lingkungan yang terlalu panas atau dingin. Hal ini karena luas permukaan tubuhnya relatif besar perbandingannya terhadap berat badan, sehingga kehilangan panas badan lebih tinggi.
Jika terdapat keadaan hipoksia dan stabilitas kardiovaskular yang rendah, daya tahan terhadap suhu lingkungan akan semakin menurun.

Monitoring
Keadaan umum, tanda vital, gejala-gejala patologis, peningkatan / penurunan berat badan, keseimbangan cairan, kadar elektrolit dan osmolaritas serum, pemeriksaan urine, dilakukan rutin.

Cairan, elektrolit dan nutrisi
Semua neonatus dalam unit perawatan intensif sebaiknya menerima cairan / nutrisi / obat melalui infus intravena.
Jumlah cairan tergantung pada usia bayi, ukuran / berat badan, status klinis dan fisiologis, serta keadaan patologik yang mungkin menyertai (misalnya diare, ikterus, anemia, dan sebagainya).
Kebutuhan cairan basal umumnya 50-100 cc/kgbb pada hari pertama, kemudian turun sampai 60-70 cc/kgbb pada hari ketiga. Jika bayi memiliki berat badan lebih rendah atau usia kehamilan lebih prematur, kebutuhan cairan menjadi lebih tinggi.
Infus cairan dimonitor setiap 6-8 jam, dengan input / output balans yang ketat. Tiap 24 jam dibuat rekapitulasi meliputi keseimbangan cairan dan elektrolit, input/output termasuk insensible water loss, fungsi ginjal, dan pemeriksaan elektrolit serum.
Elektrolit Na+ diberikan 3 mEq/dl cairan, dan K+ 2 mEq/dl.
Nutrisi maksimum diberikan 75 kalori per 100 cc cairan, dalam bentuk asam amino dan larutan glukosa, melalui infus intravena.

Jika bayi dapat minum dan ibu dapat mengeluarkan ASI, bayi harus diberikan ASI

Obat-obatan
1. Untuk asidosis, digunakan natrium bikarbonat.
2. Untuk stimulasi kardiovaskular dan vasopresor, digunakan epinefrin.
3. Kalsium glukonas meningkatkan kontraktilitas miokardium, hati2, pemberian terlalu

cepat dapat menyebabkan aritmia.


4. Glukosa untuk sumber energi. Hati-hati dalam perhitungan, dapat terjadi hipo /

hiperglikemia atau hiper/hipoosmolalitas.
5. Albumin dipakai sebagai plasma volume expander jika ada hipovolemia, terutama jika

tidak ada transfusi darah.
6. Naloxon dapat digunakan jika terjadi depresi kardiovaskular dan/atau pernapasan

akibat anastesia atau analgesia yang diberikan pada ibu sebelum persalinan.
7. Furosemide dapat dipakai jika dicurigai ada oedem paru atau gagal jantung akibat

overload cairan.
8. Antibiotik umum dipakai golongan penicillin atau aminoglikosid, dipilih yang berspek-

trum luas, dapat menembus sawar darah otak, tidak toksik , dapat diberikan secara

parenteral.

Transfusi darah
Bayi prematur sering mengalami anemia. Anemia pada neonatus jangan berdasarkan pemeriksaan kadar hemoglobin atau hematokrit, karena nilai itu tidak representatif terha-dap status oksigenasi jaringan oleh sel-sel darah merah.
Anemia pada neonatus seharusnya mempertimbangkan :
1. Jumlah absolut hemoglobin dalam sirkulasi yang menentukan transport oksigen di

dalam darah.
2. Fungsi yang menentukan kemampuan melepaskan oksigen ke dalam jaringan
Sehingga pada neonatus, massa eritrositlah yang menjadi variabel yang menentukan kapasitas angkut oksigen dalam sirkulasi, bukan nilai Hb atau Ht.
Berdasarkan prinsip itu, karena masalah utama adalah oksigenasi jaringan dan bukan semata-mata nilai Hb atau Ht,maka terapi dengan oksigenasi lebih banyak diberikan pada neonatus dibandingkan transfusi darah.
Umumnya transfusi darah jarang diberikan pada neonatus kecuali terjadi hipovolemia yang bermakna.

Ventilasi mekanik
Pada bayi dengan fungsi respiratorik yang tidak adekuat, alat bantu pernapasan (ventilasi mekanik) memegang peranan yang sangat penting.
Dalam penggunaan ventilasi mekanik di mana frekuensi pernapasan diatur oleh alat, diperlukan relaksasi otot pasien yang baik, serta depresi pernapasan spontan pasien, karena jika terjadi pola pernapasan spontan pasien yang tidak sesuai dengan pola yang diatur oleh alat, dapat terjadi pneumotoraks sampai perdarahan intrakranial. Untuk itu dapat digunakan misalnya pelumpuh otot pancuronium, atau obat golongan morfin atau barbiturat yang juga memiliki efek sedasi. Penting juga diperhatikan suhu, kelembaban, tekanan dan volume aliran oksigen yang digunakan.

Daftar Pustaka

1. Sumber : Proyek Kesehatan Wanita & Keluarga Berencana / AusAID. Departemen Kesehatan NTB & NTT. Perinasia. Mei 1998

2. Kuliah Anestesiologi dr. Sunatrio / dr. Adji Suntoro
Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Prof.dr. H..E. Monintja / dr. Nartono Kadri, FK UI 1999

3. Resuscitation of the new born infant, Brian A.Bates, Collin S. Goto.

SILAHKAN DINIKMATI, BUKAN BUATAN SENDIRI, HANYA ARSIP DARI SEORANG TEMAN


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar