Kamis, 15 Juli 2010

REFERAT PENILAIAN ANTEPARTUM ANTEPARTUM ASSESSMENT

KSM OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

BANDUNG

2009

BAB I

PENDAHULUAN

Kematian janin di Indonesia masih tinggi. Penyebab utama dari kematian janin tersebut adalah persalinan preterm, asfiksia, dan infeksi. Di Negara berkembang insidensinya sekitar 7 % dari seluruh persalinan.Angka mortalitas perinatal Indonesia masih jauh diatas rata-rata Negara maju,yaitu 60–170 berbanding kurang dari 10 per 1.000 kelahiran hidup.2

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003 mengatakan Angka Kematian Bayi (AKB), khususnya angka kematian bayi baru lahir (neonatal) masih berada pada kisaran 20 per 1.000 kelahiran hidup.15

Pemantauan kesehatan janin sangatlah diperlukan untuk mengurangi angka mortalitas dan morbiditas janin. Hal ini juga ditegaskan oleh American College Obstetry and Gynecologist(1999) bahwa, tujuan pemantauan janin antepartum adalah untuk mencegah kematian janin.1

Meningkatnya pengetahuan tentang janin dan berkembangnya alat-alat teknologi yang begitu cepat, sangat membantu dalam memantau keadaan atau kesejahteraan janin didalam kandungan ibu. Dengan teknologi pencitraan kita dapat melihat perkembangan fisik dan fungsi organ janin, sehingga apabila terdapat suatu keadaan yang membahayakan janin dapat segera diantisipasi.

Pada referat ini, akan dibahas mengenai teknik-teknik yang dapat meramalkan kesejahteraan janin terutama yang berhubungan dengan aktivitas fisik janin didalam kandungan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Pemeriksaan dan pemantauan antenatal adalah standar pelayanan kehamilan yang bertujuan memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan umum dan tumbuh kembang janin, mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, deteksi risiko tinggi (anemi, kurang gizi, hipertensi, penyakit menular seksual), memberikan pendidikan kesehatan serta mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.3

Tujuan pemantauan janin antepartum adalah untuh mencegah kematian janin. Beberapa keadaan memerlukan pemantauan karena berkaitan dengan meningkatnya morbiditas dan mortalitas perinatal, misalnya pertumbuhan janin terhambat (PJT) , gerakan janin berkurang, kehamilan post-term(≥42minggu), preeklampsia/hipertensi kronik, diabetes mellitus, ketuban pecah pada kehamilan preterm, dan solusio plasentae. Identifikasi pasien yang memiliki risiko tinggi , mutlak dilakukan karena berkaitan dengan tata laksana yang harus dilakukan. Kegagalan mengantisipasi adanya faktor risiko, dapat berakibat fatal. 4

Selama tiga dekade, pemantauan janin antepartum berdasarkan pola denyut jantung janin. Baru–baru ini, ultrasonografi dan velosimetri Doppler juga digunakan untuk mengevaluasi kehidupan janin. Beberapa teknik pemantauan janin antepartum yang digunakan antara lain; pemantauan gerakan janin, pernafasan janin, nonstress test (NST), contraction stress test (CST), tes stimulasi akustik, fetal biophysical profile (BPP), modifikasi BPP,volume cairan amnion dan velosimetri Doppler arteri.1,4

2.2 GERAKAN JANIN

Gerakan janin merupakan salah satu tanda pertama kehidupan dan menunjukan adanya kehidupan janin. Sejak Sadovsky dan Yaffe (1973) melaporkan tujuh kasus kehamilan dengan penurunan aktivitas janin yang berakhir dengan kematian janin, dikembangkan berbagai metode untuk mengukur gerakan janin untuk menilai prognosis kesejahteraan janin. Aktivitas janin pasif tanpa-rangsangan sudah dimulai sejak minggu ke-7 kehamilan dan menjadi lebih rumit dan terkoordinasi pada akhir kehamilan. Antara minggu ke-20 sampai 30, gerakan tubuh secara keseluruhan menjadi lebih teratur dan janin mulai memperlihatkan siklus istirahat-aktivitas.1,5

Metode-metode untuk memantau gerakan janin mencakup pemakaian tokodinamometer, visualisasi dengan ultrasonografi real-time dan persepsi subyektif ibu. Dalam pengamatan ini, pemantauan gerakan janin yang rasional dilakukan oleh ibu (“kick count”) sebagai pemantauan janin antepartum. Sebagian besar peneliti melaporkan korelasi yang sangat baik antara gerakan janin yang dirasakan ibu dan gerakan yang direkam instrumen. Sebagai contoh, Rayburn (1980) mendapatkan bahwa 80% dari semua gerakan yang tampak saat pemantauan USG juga dirasakan oleh ibu. Sebaliknya, Johnson dkk (1992) melaporkan bahwa setelah usia kehamilan 36 minggu, ibu hanya merasakan 16% dari gerakan tubuh janin yang direkam oleh suatu alat Doppler. Gerakan janin yang berlangsung lebih dari 20 detik lebih dapat dirasakan oleh ibu daripada yang berlangsung lebih singkat. 1

Pada trimester ketiga, pematangan gerakan janin terus berlanjut sampai sekitar 36 minggu, 80% janin normal sudah dapat diketahui keadaan perilakunya (behavioral state) pada masa ini. Empat keadaan perilaku janin yang dideskripsikan berdasarkan pola frekuensi denyut jantung janin, gerakan tubuh keseluruhan, dan gerakan mata, yaitu :

* Kedaan 1F : keadaan diam (tidur tenang), dengan variasi frekuensi denyut jantung janin yang sempit.

* Keadaan 2F : mencakup gerakan dasar tubuh janin yang sering, gerakan mata kontinyu, dan variasi frekuensi denyut jantung janin yang lebih lebar. Keadaan ini analog dengan tidur aktif atau tidur rapid eye movement (REM) pada neonatus.

* Keadaan 3F : mencakup gerakan mata kontinu tanpa gerakan tubuh dan tidak ada akselerasi denyut jantung.

* Keadaan 4F : salah satu gerakan kasar tubuh disertai gerakan mata kontinu dan akselerasi denyut jantung janin. Keadaan ini setara dengan keadaan terjaga pada neonatus.

Janin menghabiskan sebagian besar waktu mereka dalam keadaan 1F dan 2F.1

Gambar 2-1. Pengukuran volume kandung kemih bersama dengan variasi denyut jantung pada keadaan 1F dan 2F 1

Keadaan 1F dan 2F yang setara dengan tidur tenang dan tidur aktif mempengaruhi produksi urin janin . Seperti diperlihatkan di gambar 2-1, volume kandung kemih meningkat selama tidur tenang (keadaan 1F). Selama keadaan 2F, variasi frekuensi denyut jantung janin meningkat bermakna, dan volume kandung kemih berkurang pesat. Yang disebut terakhir ini terjadi karena janin berkemih serta produksi urin menurun. Fenomena ini diinterpretasikan sebagai penurunan aliran darah janin selagi janin berada dalam keadaan tidur aktif. Boito,dkk (2004) baru-baru ini melaporkan meningkatkan distensi vena umbilikalis selama keadaan state 2F, dimana mereka menginterpretasikan bahwa hal ini disebabkan oleh peningkatan tekanan vena dari peningkatan aliran darah.1

Salah satu faktor penting aktivitas janin adalah siklus tidur-bangun ibu. “Siklusitas tidur” dilaporkan bervariasi dari sekitar 20 menit sampai selama 75 menit. Volume cairan amnion adalah faktor penting lain pada aktivitas janin. Sherer dkk. (1996) menilai jumlah gerakan janin pada 465 kehamilan sewaktu uji profil biofisik dalam kaitannya dengan volume cairan ketuban yang diperkirakan dengan USG. Mereka mengamati adanya penurunan aktivitas janin seiring berkurangnya volume cairan ketuban, dan memperkirakan bahwa terbatasnya ruang intrauterin mungkin membatasi gerakan janin secara fisik.1

Sadovsky dkk. (1979) mempelajari gerakan janin pada 120 kehamilan normal dan mengklasifikasikan gerakan menjadi tiga kategori bergantung persepsi ibu dan perekaman independen yang menggunakan sensor piezoelektrik. Gerakan digolongkan sebagai lemah, kuat dan berguling dan kontribusi relative gerakan-gerakan tersebut terhadap gerakan total per minggu sepanjang separuh kehamilan dihitung. Seiring dengan kemajuan kehamilan, gerakan janin yang lemah berkurang dan digantikan oleh gerakan yang lebih kuat, yang meningkat selama beberapa minggu dan kemudian mereda pada aterm. Diperkirakan bahwa berkurangnya cairan amnion dan ruang intra uterin berperan mengurangi aktivitas pada aterm.1

Gambar 2-2. Rata-rata gerakan janin per minggu dihitung dari rekaman gerak janin perhari selama kehamilan.1

Gambar 2-2 memperlihatkan gerakan janin selama paruh akhir getasi pada 127 kehamilan dengan hasil akhir normal. Rerata jumlah gerakan per minggu yang dihitung pada periode perekaman 12 jam per hari meningkat dari sekitar 200 pada 20 minggu menjadi maksimum 575 gerakan pada 32 minggu. Gerakan janin kemudian berkurang menjadi rata-rata 282 pada 40 minggu. Jumlah gerakan janin mingguan berkisar antara 50 sampai 950, dengan variasi harian yang sangat lebar dan mencakup jumlah terendah 4 sampai 10 gerakan per 12 jam pada kehamilan normal.1

Walaupun telah digunakan beberapa protokol penghitungan gerakan, jumlah gerakan yang optimal dan durasi ideal untuk menghitung gerakan janin masih belum dapat ditetapkan. Sebagai contoh, pada salah satu metode, persepsi 10 gerakan janin dalam waktu sampai 2 jam masih dianggap normal. Pada metoda lain, seorang wanita diminta untuk menghitung gerakan janin selama 1 jam perhari dan hitungan tersebut dianggap meyakinkan apabila sama dengan atau lebih besar dari hitung basal yang sebelumnya.1

Situasi klinis yang sangat mengganggu adalah apabila wanita hamil trimester ketiga datang dengan keluhan utama merasakan gerakan janin berkurang. Walaupun jarang terjadi, apabila pemantauan ultrasonografi untuk menilai pertumbuhan janin atau velosimetri Doppler memperlihatkan hasil abnormal, dilakukan uji pemantauan frekuensi denyut jantung janin. Hasil akhir kehamilan pada wanita yang mengeluhkan berkurangnya gerakan janin tidak berbeda secara bermakna dibandingkan dengan para wanita yang tidak mengeluhkan hal tersebut. Meskipun demikian, tetap dianjurkan evaluasi untuk meyakinkan ibu.1

2.3 PERNAPASAN JANIN

Gerakan dinding dada intrauterin berbeda dari gerakan yang terjadi setelah lahir karena gerakan-gerakan tersebut bersifat diskontinyu. Gambaran menarik lain pada respirasi janin adalah gerakan dinding dada paradox. Seperti diperlihatkan di gambar 2-3, selama inspirasi dinding dada justru kolaps dan abdomen menonjol. Pada neonatus atau orang dewasa, hal ini terjadi sebaliknya. Salah satu interpretasi tentang gerakan pernapasan paradox ini mungkin berupa gerakan batuk untuk mengeluarkan kotoran cairan amnion. Walaupun dasar fisiologis untuk refleks bernapas masih belum dipahami sepenuhnya, pertukaran cairan amnion semacam ini tampaknya penting bagi perkembangn normal paru.1

Gambar 2-3 Gerakan dinding dada paradox pada respirasi janin 1

Dawes(1974) mengidentifikasi dua tipe gerakan pernapasan, yaitu:

1. Napas tersengal-sengal (gaps atau sighs) yang terjadi dengan frekuensi 1-4 permenit

2. Letupan gerakan napas irregular (irregular bursts of breathing) yang terjadi dengan laju sampai 240 siklus permenit. Gerakan pernapasan ini terjadi bersamaan dengan REM. 1

Badalian dkk. (1993) mempelajari pematangan pernapasan janin normal dengan menggunakan analisis Doppler berspektrum dan Doppler berwarna (color flow) terhadap aliran cairan hidung sebagai indeks fungsi paru. Mereka menyimpulkan bahwa laju pernapasan janin berkurang bersamaan dengan meningkatnya volume pernapasan pada sekitar minggu ke-33 sampai 36, bersamaan dengan pematangan paru. 1

Sebagian besar peneliti mempelajari gerakan bernapas janin dengan menggunakan ultrasonografi untuk menentukan apakah pemantauan gerakan dinding dada dapat bermanfaat untuk mengevaluasi kesehatan janin. Selain hipoksia, beberapa variabel terbukti mempengaruhi gerakan bernapas janin. Variabel-variabel tersebut mencakup persalinan (ketika respirasi secara normal dapat terhenti), hipoglikemia, rangsangan suara, merokok, amniosintesis, persalinan preterm yang mengancam, usia gestasi, dan frekuensi denyut jantung janin itu sendiri.1

Karena gerakan bernapas janin bersifat episodik, mungkin sulit dilakukan interpretasi kesehatan janin saat respirasi tidak terjadi. Dalam pengamatan pola pernapasan janin selama 10 minggu terakhir kehamilan, terdapat variasi diurnal, karena bernapas secara bermakna berkurang pada malam hari. Selain itu, aktivitas bernapas agak meningkat setelah ibu makan. Tidak adanya pernapasan sama sekali dapat dijumpai pada janin-janin normal ini sampai selama 122 menit, yang menunjukkan bahwa evaluasi janin untuk mendiagnosis tidak adanya gerakan bernapas memerlukan periode pengamatan yang lama.1

Kemungkinan aktivitas bernapas sebagai penanda penting untuk kesehatan janin tidak dapat terpenuhi karena banyaknya faktor yang normal mempengaruhi pernapasan janin. Kebanyakan penerapan klinis menggunakan penilaian terhadap indeks-indeks biofisik yang lain, misalnya frekuensi denyut jantung janin.1

2.4 UJI STRES KONTRAKSI (CONTRACTION STRESS TEST/CST)

Uji stress kontraksi dan uji non stress kontraksi memiliki beberapa indikasi , antara lain ; kecurigaan postmaturitas, DM ibu, hipertensi kronis, gangguan hipertensi pada kehamilan, IUGR, penyakit jantung sianotik ibu, riwayat kehamilan mati terdahulu, hipertiroidism, gravid yang tua (>35 tahun), penyakit ginjal kronis, gerak janin menurun, anemia berat pada ibu, pasien antepartum yang berisiko tinggi (ketuban pecah dini, kelahiran prematur dan perdarahan).6,7

Uji stres kontraksi (contraction stress test) merupakan uji pemantauan kehidupan janin berdasarkan respon denyut jantung janin terhadap kontraksi uterus. Karena adanya kontraksi uterus menyebabkan oksigenasi ke janin memburuk. Saat tekanan cairan amnion meningkat bersamaan dengan kontraksi uterus, tekanan miometrium akan lebih tinggi daripada tekanan pembuluh-pembuluh yang berjalan sepanjang otot uterus dan menyebabkan pembuluh-pembuluh tersebut kolaps dan akhirnya mengisolasi ruang antarvilus kemudian terjadi periode-periode singkat gangguan pertukaran oksigen, dan terdapat patologi uteroplasenta, sehingga terjadi deselerasi lambat frekuensi denyut jantung janin. Merupakan deselerasi yang dimulai terlambat dalam fase kontraksi, sampai pada titik terendah setelah puncak kontraksi dan biasanya bertahan melewati akhir kontraksi.1,4

Kontraksi uterus juga dapat menyebabkan pola deselerasi variabel akibat penekanan tali pusat yang mengisyaratkan oligohidramnion, yang sering terdapat bersamaan dengan insufisiensi plasenta. Deselerasi ini merupakan penurunan DJJ yang tajam dibawah nilai dasar, yang bervariasi dalam kedalaman nadir, awitan ke permulaan nadir adalah <>1,4

Dilakukan induksi kontraksi dengan pemberian oksitosin intravena, dan respons denyut jantung janin direkam menggunakan pemantauan standar. Frekuensi denyut jantung janin dan kontraksi uterus secara bersamaan direkam oleh suatu monitor eksternal. Apabila terdapat paling sedikit tiga kontraksi spontan yang berlangsung minimal 40 detik dalam 10 menit, stimulasi terhadap uterus tidak lagi diperlukan. Apabila jumlah kontraksi kurang dari tiga kali dalam 10 menit, dilakukan induksi dengan oksitosin atau stimulasi puting payudara. Apabila digunakan oksitosin, mula-mula diberikan infus intravena encer dengan kecepatan 0,5 mU/mnt dan dinaikkan kelipatannya setiap 20 menit sampai tercapai pola kontraksi yang memuaskan. Pemeriksaan umumnya diulang setiap minggu, dan pemeriksa menyimpulkan bahwa hasil uji stress kontraksi yang negative (normal) dapat meramalkan kesehatan bayi. Salah satu kekurangan yang disebutkan adalah bahwa rata-rata uji stress kontraksi memerlukan waktu 90 menit. 1,4

Stimulasi puting payudara dapat digunakan untuk menggantikan oksitosin sebagai pemicu kontraksi uterus. Salah satu metode yang dianjurkan adalah bahwa wanita yang bersangkutan mengusap salah satu puting payudara dibalik bajunya selama 2 menit atau sampai kontraksi dimulai. Ia diminta untuk mengulang kembali setelah 5 menit apabila stimulasi pertama tidak memicu tiga kontraksi dalam 10 menit. Keunggulan cara ini antara lain adalah biaya yang lebih murah dan waktu pengujian yang lebih singkat. Walaupun ada penelitian melaporkan bahwa stimulasi puting payudara dapat menyebabkan hiperstimulasi uterus dan gawat janin yang tidak dapat diduga, namun peneliti lain tidak menemukan bahwa aktivitas uterus yang berlebihan akibat stimulasi pting payudara membahayakan janin.1,4

Uji stress kontraksi diinterpretasikan berdasarkan ada dan tidak adanya deselerasi lambat denyut jantung janin. Hasil dari uji stress kontraksi dikategorikan sebagai berikut :

Ø Negatif : tidak ada deselerasi lambat atau deselerasi variabel yang signifikan

Ø Positif : deselerasi lambat mencapai 50% atau lebih dari kontraksi (terjadi bila frekuensi kontraksi kurang dari 3 dalam 10 menit)

Ø Equivocalsuspicious : deselerasi lambat intermiten atau deselerasi variabel yang signifikan

Ø Equivocalhyperstimulatori: deselerasi denyut jantung yang terjadi saat terjadinya kontraksi yang lebih sering setiap menit atau selama 90 detik

Ø Tidak memuaskan : kurang dari 3 kontraksi dalam 10 menit atau uninterpretable tracing. 4

Kontraindikasi relatif uji stress kontraksi pada kondisi yang berhubungan dengan peningkatan risiko persalinan prematur, ruptur uteri atau perdarahan uteri, yaitu:

· Pasien dengan risiko tinggi lahir belum waktunya

· Ruptur membran preterm

· Riwayat pembedahan uterus atau persalinan seksio sesaria

· diketahui plasenta praevia 4

2.5 UJI NONSTRES (NON STRESS TEST/NST)

Dalam pemeriksaan NST yang perlu diperhatikan adalah denyut jantung janin, variabilitas, akselerasi, deselerasi dan gerakan janin. Uji nonstres didasarkan pada hipotesis bahwa frekuensi denyut jantung janin yang tidak asidotik akibat hipoksia atau depresi neurologis secara temporer akan mengalami akselerasi secara respons terhadap gerakan janin.1,4,9

Keuntungan uji non stres kontraksi dibandingkan uji stress kontraksi adalah NST dapat dilakukan pada lingkungan rawat jalan. NST jauh dari rasa tidak nyaman walaupun menyebabkan ibu merasa lelah karena ibu harus bertahan pada 1 posisi tertentu selama 20 menit atau bisa sampai 1 jam. Uji ini menggunakan metode Doppler untuk mendeteksi akselerasi denyut jantung janin yang terjadi bersamaan dengan gerakan janin yang dirasakan oleh ibu. Secara sederhana, uji nonstres terutama adalah uji tentang kondisi janin, dan uji ini berbeda dari uji stress kontraksi, yang merupakan uji terhadap fungsi uteroplasenta. Saat ini, uji nonstres merupakan metode pemeriksaan primer yang paling luas digunakan untuk menilai kesejahteraan janin dan juga dimasukkan ke dalam sistem pengujian profil biofisik. 1,10

Uji non stress melihat 2 macam gerak janin, yaitu :

1. Gerak individual : gerakan ekstremitas, berlangsung selama 3-5 detik dengan interval lebih dari 12 detik.

2. Gerak multipel : merupakan kelompok gerakan yang meliputi gerakan ekstremitas, gerak nafas, dan mingkin gerak seluruh tubuh. Lama gerakan sangat bervariasi, terdiri dari 3-5 gerakan dengan interval kurang dari 12 detik. 11

2.5.1 Denyut Jantung Janin

Frekuensi jantung janin normalnya dapat meningkat atau menurun denyut demi denyut akibat pengaruh otonom yang diperantarai oleh impuls simpatis atau parasimpatis dari pusat-pusat di otak. Pada janin prematur yang hampir mencapai gestasi 20 minggu menunjukan nilai dasar DJJ 150-170x/menit. Pada bayi cukup bulan yang sehat, angka DJJ biasanya antara 120-160 x/menit. Disebut takikardi bila >160 x/menit dan bradikardi bila <120x/menit.>1

2.5.2 Variabilitas

Variabilitas DJJ dijabarkan sebagai tidak teraturnya irama jantung normal sebagai akibat interaksi keseimbangan yang berkesinambungan dari cabang simpatis dan parasimpatis sistem saraf otonom. Variabilitas nilai dasar denyut jantung janin didefinisikan sebagai fluktuasi nilai dasar denyut jantung 2 siklus permenit atau lebih. Fluktuasi ini tidak teratur dalam amplitudo, frekuensi dan secara visual diperlihatkan sebagai amplitudo puncak ke lembah dalam denyut permenit seperti dibawah ini.7.12

Istilah deskriptif

Rentang amplitudo

Tidak ada

Minimal

Sedang (rata-rata)

Nyata

Tidak terdeteksi

Tidak terdeteksi sampai ≤ 5x/menit

6-25x/menit

>25x/menit

Tabel 2-1 Variabilitas 4

Gambar 2-4 Klasifikasi Variabilitas 6

2.5.3 Akselerasi

Akselerasi denyut jantung janin dipercaya sebagai indikasi fungsi sistem otonom jantung. Didefinisikan sebagai peningkatan mendadak yang secara jelas terlihat dalam DJJ diatas nilai dasar. Awitan akselerasi ke puncaknya kurang dari 30 detik. 1

Usia gestasi mempengaruhi akselerasi atau reaktivitas denyut jantung janin. Rapat kerja tentang pemantauan janin oleh the National Institute of Child Health and Human Development (1997) mendefinisikan akselerasi berdasarkan usia gestasi. Puncak akselerasi adalah 15 dpm atau lebih di atas kecepatan basal dan akselerasi berlangsung 15 detik atau lebih selama kurang dari 2 menit pada janin berusia 32 minggu atau lebih. Sebelum 32 minggu, akselerasi didefinisikan sebagai puncak akselerasi 10 dpm atau lebih selama 10 detik atau lebih.1,4,9

Gambar 2-5 Akselerasi DJJ dalam pergerakan janin 8

Adanya penurunan dalam jumlah akselerasi pada janin prematur yang kemudian terbukti memperlihatkan kadar PO2 darah arteri umbilikalis yang lebih rendah daripada janin yang memiliki pola frekuensi denyut jantung normal. Karena itu, uji nonstres dianggap mencerminkan keadaan janin. 1,1,4,9

Hilangnya akselerasi secara patologis dapat dijumpai bersama dengan penurunan bermakna variabilitas denyut demi denyut laju jantung janin. Namun, hilangnya reaktivitas tersebut paling sering berkaitan dengan siklus tidur, dan mungkin disebabkan oleh depresi sentral akibat obat.1,4

2.5.4 Deselerasi

Deselerasi denyut jantung dini adalah suatu perubahan periodik yang dikaitkan dengan kontraksi uterus. Dimulai secara dini pada fase kontraksi dengan awitan sebelum puncak kontraksi uterus dan pemulihan terjadi bersamaan dengan kontraksi uterus kembali ke nilai dasar. Deselerasi dini merupakan perubahan yang tidak membahayakan, terjadi sebagai akibat dari kompresi kepala janin.7,11

Fisiologi

Tekanan pada tengkorak janin

Mengganggu aliran darah serebral

Menstimulasi saraf vagus pusat

Menghasilkan penurunan denyut jantung janin

Penyembuhan terjadi seiring pemulihan tekanan

Gambar 2-6 Deselerasi dini 8

Deselerasi lambat DJJ merupakan penurunan bertahap yang terlihat jelas dan kembali nilai dasar DJJ yang dikaitkan dengan kontraksi uterus. Deselerasi lanjut yang persisten dan tidk terkoreksi mencerminkan stress hipoksia yang berulang dan jika dikaitkan dengan ketiadaan dan minimnya variabilitas, menjadi suatu tanda peningkatan asidosis metabolik.1

Gambar 2-7 Deselerasi lambat 8

Deselerasi variabel merupakan perubahan episodik yang disebabkan oleh kompresi tali pusat. Deselerasi ini dapat terjadi setiap gangguan pada aliran darah umbilikus setiap saat selama persalinan tetapi sering bersamaan dengan kontraksi uterus.1

Gambar 2-8 Deselerasi variabel 8

Gerakan janin dapat menyebabkan deselerasi denyut jantung. Deselerasi dapat ditemui sewaktu NST dilakukan pada setengah sampai 2/3 rekaman bergantung dari kekuatan gerakan janin.11

Meis dkk (1986) melaporkan bahwa deselerasi denyut jantung selama NST dilakukan, bukan merupakan pertanda gangguan janin. The American College of Obstetricians and gynecologist (1999) menyimpulkan bahwa deselerasi variabel, apabila tidak berulang dan singkat (kurang dari 30 detik), tidak menunjukan gangguan janin atau perlunya intervensi obstetric, sebaliknya deselerasi variabel yang berulang paling tidak 3 dalam 10 menit sekalipun ringan , dilaporkan berkaitan dengan peningkatan risiko seksio sesarea atas indikasi gawat janin. Deselerasi yang berlangsung 1 menit atau lebih bahkan dilaporkan menunjukan prognosis yang lebih buruk. 1

2.5.5 Pembacaan NST

· Reaktif bila :

o Denyut jantung basal 120-160x/menit

o Gerak janin terutama gerak multipel dan berjumlah 5 gerak dalam 20 menit

o 2 atau lebih akselerasi DJJ diatas nilai dasar dari paling sedikit 15x/menit selama paling sedikit 15 detik dalam periode 20 menit. Kecepatan nilai dasar dalam batas normal.

o Variabilitas rata-rata 6-25x/menit. 1,4,9

Tes reaktif menunjukan janin dalam kondisi baik apabila kelahiran terjadi dalam beberapa hari. Bila NST digunakan untuk kelangsungan hidup janin primer, maka harus dilakukan 1-2x/seminggu pada pasien yang berisiko tinggi, terutama ibu diabetes. Selama NST ulangan menunjukan reaktif, maka kehamilan berisiko dapat diteruskan. 6

Gambar 2-9 NST reaktif 1

Definisi hasil non stress yang normal berdasarkan ACOG adalah 2 atau lebih akselerasi yang memuncak 15 dpm atau lebih masing –masing berlangsung 15 detik atau lebih dan semua terjadi dalam 20 menit selama pengujian dimulai. Walaupun jumlah dan akselerasi normal mencerminkan kesejahteraan janin, akselerasi yang kurang memadai tidak selau menunjukkan gangguan janin. Hal ini dikarenakan pada janin sehat mungkin tidak bergerak sampai selama 75 menit. Selain itu, reproduksibilitas interpretasi hasil juga bermasalah karena bersifat subyektif. Oleh karena itu, Pardey dkk (2002) membentuk suatu sistem komputerisasi Sonicaid Fetal Care, yang diklaim lebih baik daripada interpretasi subyektif pada nonstress tests.1

· Non reaktif bila:

o Denyut jantung basal 120-160x/menit

o Variabilitas berkurang atau tidak ada

o Gerakan janin tidak ada, kurang dari 5 gerakan dalam 20 menit

o Tidak ada akselerasi denyut jantung meskipun diberi rangsangan dari luar.1,4,9

Gambar 2-10 NST non reaktif dilanjutkan dengan contraction stress test. Menunjukan adanya deselerasi ringan, lambat. Seksio sesaria dilakukan dan terdapat asidosis pada janin yang tidak dapat diresusitasi 1

Terdapat pola-pola uji nonstres abnormal yang dapat diandalkan untuk memperkirakan adanya kelainan pada janin serius. Hammacher dkk. (1968) melaporkan tidak saja akselerasi yang merupakan respons terhadap gerakan, melainkan juga rekaman frekuensi denyut jantung janin antepartum dengan apa yang mereka sebut sebagai silent oscillatory pattern (pola osilasi senyap). Pola ini terdiri dari frekuensi denyut jantung basal janin yang naik turun (osilasi) kurang dari 5 dpm dan mungkin menunjukkan tidak adanya akselerasi serta variabilitas denyut demi denyut. Hammacher mengganggap pola ini kurang menggembirakan. 1

Vaiser dkk. (1980) menjelaskan suatu “kordiotokogram terminal”, yang meliputi :

1. Osilasi basal kurang dari 5 dpm.

2. Tidak adanya akselerasi.

3. Deselerasi lambat disertai kontraksi uterus spontan.1

Ketidakmampuan janin mempercepat denyut jantungnya, apabila bukan disebabkan oleh sedasi ibu, merupakan temuan yang kurang menggembirakan. Demikian juga, Devoe dkk. (1985) menyimpulkan bahwa uji nonstres yang non reaktif selama 90 menit hampir selalu (93 persen) berkaitan dengan patologi janin yang bermakna.1

2.5.6 Interval antara pemeriksaan

Interval antara dua pengujian, yang semula secara semena-mena ditetapkan 7 hari, tampaknya semakin dipersingkat berdasarkan pengalaman yang berkembang pada uji nonstres. Menurut the American College of Obstetricians and Gynecologist (1999), sebagian peneliti menganjurkan frekuensi pengujian yang lebih sering untuk wanita dengan kehamilan postmatur, diabetes tipe 1, hambatan pertumbuhan janin, atau hipertensi akibat kehamilan. Pada keadaan-keadaan ini, diajukan penelitian 2 kali seminggu dengan pengujian tambahan dilakukan apabila terjadi perburukan keadaan ibu atau janin, tanpa memandang waktu sejak pemeriksaan terakhir. Sebagian dokter melakukan uji nonstres setiap hari atau bahkan lebih sering. Sebagai contoh, Charry dkk. (1995) menganjurkan pengujian janin setiap hari pada wanita dengan preeklamsia berat yang jauh dari aterm.1

2.6 UJI STIMULASI VIBROAKUSTIK

Pada kebanyakan tes non reaktif yang disebabkan kondisi tidur bayi, harus dilakukan suatu usaha manipulasi untuk menstimulasi janin dengan memanipulasi uterus atau uji stimulasi vibroakustik serta melanjutkan pemantauan janin pada periode 20 atau 30 menit. 6

Uji stimulasi akustik mengevaluasi respon DJJ terhadap stimulasi akustik. Akselerasi DJJ dengan stimulasi vibroakustik, juga gerakan janin merupakan perkiraan hasil akhir janin. Tes ini disebut juga fetal acoustic stimulation test atau FAST. 6

Bunyi eksternal yang keras pernah digunakan untuk mengagetkan janin, memicu akselerasi denyut jantungnya. Eller dkk. (1995) menggunakan suatu stimulator akustik komersial (corometrics model 146) untuk mengukur tingkat bunyi intrauterus. Intensitas suara antara 100 sampai 105 dB (100dB dihasilkan oleh pesawat jet yang lepas landas) dipertahankan sampai stimulator dipindahkan lebih dari 20 cm dari perut ibu. Untuk melakukan stimulasi akustik , dipasang sebuah laring buatan di abdomen ibu dan diberikan rangsangan selama 1 sampai 2 detik. Hal ini dapat diulang sampai 3 kali dan lamanya sampai 3 detik (American College of Obstetricians and Gynecologist, 1999). 1

2.7 PROFIL BIOFISIK (BPP)

Profil biofisik merupakan tes non invasif yang digunakan untuk memprediksikan ada tidaknya asfiksia dan akhirnya berisiko terjadinya kematian janin pada periode antenatal. Ketika BPP mengidentifikasikan adanya keadaan janin yang mencurigakan, dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan sebelum terjadi asidosis metabolik yang progresif yang dapat menyebabkan kematian janin. 14

BPP menyatukan data dari 2 sumber yaitu gambaran ultrasonografi dan monitoring denyut jantung janin. Ultrasonografi Dynamic realtime B-mode digunakan untuk menghitung volume cairan amnion (AFV) dan untuk mengobservasi beberapa tipe pergerakan janin. Denyut jantung janin yang didapat dengan menggunakan pulsed Doppler transducer diintegrasikan high-speed microprocessor yang menyediakan pembacaan terbaru secara kontinyu. Biasanya, pemeriksaan BPP ini memerlukan waktu 30 sampai 60 menit. 1,14

Manning dkk. (1980) mengajukan pemakaian gabungan lima variabel biofisik janin sebagai cara yang lebih akurat untuk menilai kesehatan janin daripada pemakaian masing-masing variabel tersebut secara tersendiri. Mereka berhipotesis bahwa dengan mempertimbangkan lima variable tersebut, hasil uji yang positif palsu atau negative palsu dapat dikurangi secara bermakna. Lima komponen biofisik yang dinilai, mencakup :

1. Akselerasi denyut jantung janin

2. Pernapasan janin

3. Gerakan janin

4. Tonus janin

5. Volume cairan amnion

Masing-masing variabel normal diberi skor dua dan variabel abnormal diberi skor nol. Dengan demikian, skor tertinggi yang mungkin untuk janin normal adalah 10. 1,5,14

Komponen Biofisik

Normal
(
Nilai= 2)

Abnormal
(
Nilai= 0)

Pernapasan Janin

1 episode atau >20 dalam 30 menit

Tidak ada napas atau < 20 dalam 30 menit

Gerakan Janin

2 gerakan atau lebih dari bagian tubuh yang berbeda dalam 30 menit (Gerakan aktif dalam 1 episode dengan gerakan terus-menerus dianggap sebagai 1 gerakan)

<2>gerakan tubuh dalam 30 menit

Fetal tone

1 gerakan ekstensi dan fleksi kembali dari ekstrimitas atau batang tubuh (gerakan membuka dan menutup tangan dianggap sebagai tonus normal)

Ekstensi yang lambat dan kembalinya ke sebagian fleksi, Gerakan ekstensi maksimal ekstrimitas, tidak ada gerakan janin, atau membukanya sebagian tangan janin

Akselerasi Denyut Jantung Janin

2 akselerasi atau >15 bmp* dan >15 kali berhubungan dengan pergerakan janin dalam 20 menit

1 akselerasi atau lebih episode akselerasi dalam <>

Volume Cairan Amnion

1 kantung cairan amnion atau lebih >2 cm dalam axis vertikal

Tidak ada kantung atau kantung <2>dalam axis vertikal

Tabel 2-2 Kriteria penilaian variabel BPP 14

Kopecky dkk (2000) mengobservasi 10-15 mg morfin yang diberikan pada ibu hamil menyebabkan penurunan yang`signifikan pada penilaian biofisik akibat supresi pernapasan janin dan akselerasi denjut jantung janin. 1

Manning dkk (1987) memeriksa lebih dari 19.000 kehamilan dengan menggunakan interpretasi dan penatalaksanaan profil biofisik seperti diperlihatkan di tabel 2-4. Mereka melaporkan angka uji positif-palsu yang didefinisikan sebagai kematian antepartum pada janin yang secara struktur normal sekitar 1 per 1000. Kausa kematian janin yang paling sering teridentifikasi setelah pemeriksaan profil biofisik yang normal adalah perdarahan dari janin ke ibu, cedera tali pusat, dan solusio plasenta (Dayal dkk., 1999). Kausa yang dapat diidentifikasi, dijumpai pada hampir 2/3 kematian janin. 1

Manning dkk. (1993) mempublikasikan suatu deskripsi lengkap 493 janin yang skor biofisiknya dihitung segera sebelum dilakukan pengukuran nilai pH darah vena umbilikalis yang diambil melalui kordosentesis. Sekitar 20% dari janin yang diperiksa mengalami hambatan pertumbuhan dan sisanya mengalami anemia hemolitik otoimun. Skor biofisik nol selalu berkaitan dengan asidemia janin yang bermakna, sedangkan skor normal 8 atau 10 berkaitan dengan pH yang normal. Hasil uji yang tidak jelas-skor 6-merupakan predictor yang buruk untuk hasil akhir abnormal. Penurunan dari hasil abnormal-skor 2 atau 4-menjadi skor yang sangat abnormal (nol) secara progresif merupakan prediktor akurat kelainan hasil akhir kehamilan. Demikian juga, Salvesen dkk. (1993) menghubungkan profil biofisik dengan pH darah vena umbilikalis yang diambil melalui kordosentesis pada 41 kehamilan dengan penyulit diabetes. Mereka juga mendapatkan bahwa pH abnormal secara bermakna berkaitan dengan penurunan skor profil biofisik. Namun, mereka menyimpulkan bahwa profil biofisik tidak banyak bermanfaat dalam memperkirakan pH janin, karena Sembilan janin dengan asidemia ringan memperlihatkan uji antepartum normal. Weiner dkk. (1996) menilai makna uji-uji janin antepartum pada 135 janin yang jelas mengalami hambatan pertumbuhan dan sampai pada kesimpulan serupa. Mereka mendapatkan bahwa morbiditas dan mortalitas pada janin yang mengalami hambatan pertumbuhan berat terutama ditentukan oleh usia getasi dan bukan oleh uji janin yang abnormal.1

Biophysical Profile Score

Interpretation

Recommended Management

10

Normal, nonasphyxiated

No fetal indication for intervention; repeat test weekly except in diabetic patient and postterm pregnancy (twice weekly)

8 Normal fluid

Normal, nonasphyxiated fetus

No fetal indication for intervention; repeat testing per protocol

8 Oligohydramnios

Chronic fetal asphyxia suspected

Deliver if ≥37 weeks, otherwise repeat testing

6

Possible fetal asphyxia

If amnionic fluid volume abnormal, deliver

If normal fluid at > 36 wk with favorable cervix, deliver

If repeat test ≤6, deliver

If repeat test > 6, observe and repeat per protocol

4

Probable fetal asphyxia

Repeat testing same day; if biophysical profile score ≤6, deliver

0–2

Almost certain fetal asphyxia

Deliver

Tabel 2-3 Nilai BPP modifikasi, interpretasi dan manajemen kehamilan 1

2.8 PROFIL BIOFISIK MODIFIKASI

Karena profil biofisik menghabiskan banyak tenaga dan memerlukan petugas yang terlatih untuk menvisualisasi janin secara ultrasonografis, Clark dkk. (1989) menggunakan suatu profil biofisik ringkas sebagai uji penapis antepartum lini pertama. Secara spesifik, mereka melakukan uji nonstres vibroakustik dua kali seminggu pada 2628 kehamilan tunggal. Uji biasanya hanya memerlukan waktu 10 menit. Para peneliti ini menyimpulkan bahwa profil biofisik ringkas ini merupakan metode yang sangat baik untuk melakukan surveilans antepartum karena tidak dijumpai kematian janin yang tidak diduga. 1

Profil biofisik modifikasi terdiri dari non stress test dan indeks cairan amnion yang secara luas digunakan, jika salah satunya, NST atau AFI abnormal, BPP lengkap dan contraction stress test (CST) harus dilakukan. BPP modifikasi dikatakan normal bila hasil NST reaktif dan AFI > 5 dan dikatakan abnormal bila NST non reaktif dan AFI ≤ 5. 1,14

Nageotte dkk. (1994) juga menggabungkan uji nonstres dua kali seminggu dengan penilaian cairan amnion secara ultrasonografis. Dalam penelitian mereka, indeks sebesar 5 cm atau kurang juga dianggap abnormal. Mereka melakukan 17.429 profil biofisik modifikasi 2774 wanita dan menyimpulkan bahwa uji semacam ini merupakan metode yang baik untuk survelans janin. Mereka membagi secara acak wanita dengan hasil uji abnormal menjadi kelompok yang kemudian menjalani uji profil biofisik lengkap atau kelompok uji stress kontraksi. Uji stress kontraksi meningkatkan intervensi atas indikasi uji abnormal palsu. Miller dkk. (1996) melaporkan hasil dari lebih 54.000 pemeriksaan profil biofisik modifikasi pada 15.400 kehamilan risiko tinggi di University of Southern California. Mereka melaporkan angka negative-palsu sebesar 0,8/1000 dan angka positif-palsu 1,5%. Young dkk.(2003) secara acak melakukan penelitian pada 683 wanita dengan BPP asli dan 2 prosedur tes yang dimodifikasi dan ditemukan tidak adanya perbedaan yang efektif antara ketiga metode yang berbeda tersebut. The American College of Obstetricians and Gynecologist (1999) menyimpulkan bahwa uji profil biofisik modifikasi merupakan cara surveilans janin antepartum yang dapat diterima. 1

2.9 INDEKS CAIRAN AMNION

Indeks cairan amnion (AFI) merupakan metode semikuantitatif untuk mengevaluasi volume cairan amnion (AFV). Indeks cairan amnion didapat dengan menambahkan ukuran terbesar kantung amnion secara vertikal dari setiap kuadran uterus. Metode ini setidaknya akurat untuk mengukur kantung amnion terbesar dan dapat menjadi alasan sebagai metode alternatif untuk mengevaluasi AFV pada BPP. Dengan metode ini, oligohidramnion didefinisikan bila AFI <>14

Untuk memperoleh AFI. Ibu harus dalam posisi supine dan probe USG linier harus sejajar dengan tulang belakang ibu dan tegak lurus dengan lantai untuk semua ukuran. Abdomen dibagi menjadi 4 kuadran, dengan membagi dua sisi atas dan sisi bawah dan linea nigra membagi dua sisi kiri dan kanan. Cairan pada kantung terbesar pada setiap kuadran diukur sepanjang dimensi vertical dimana tegak lurus dengan probe USG. Kantung amnion harus bebas dari tali pusat dan ekstremitas janin, walaupun gambaran singkat ini dapat diterima. 14

Pemeriksaan cairan amnion telah menjadi komponen integral dalam pengkajian antepartum kehamilan yang beresiko mengalami kematian janin. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa penurunan perfusi uteroplasenta dapat menyebabkan aliran darah ginjal janin, penurunan frekuensi berkemih, dan akhirnya, oligohidramnion. Indeks cairan amnion (Rutherford dkk., 1987), kandungan vertikal terbesar (Chamberlain dkk., 1984), dan kantong 2 x2 cm pada profil biofisik (Manning dkk., 1984) adalah sebagian teknik ultrasonografik yang digunakan untuk memperkirakan volume cairan amnion. Chauhan dkk. (1999) mengulas 42 laporan tentang indeks cairan amnion yang diterbitkan antara tahun 1987 sampai 1997 serta menyimpulkan bahwa indeks 5,0 cm atau kurang akan secara bermakna menigkatkan risiko seksio sesarea atas indikasi gawat janin atau skor Apgar 5 menit yang rendah. Demikian juga, Casey dkk. (2000), dalam suatu analisis retrospektif terhadap 6423 kehamilan yang ditangani di Parkland Hospital, mendapatkan bahwa indeks cairan omnion 5 cm atau kurang berkaitan dengan peningkatan bermakna morbiditas dan mortalitas perinatal. Locatelli dkk. (2004) melaporkan berat badan lahir bayi rendah sangat tinggi bila terjadi oligohidramnion. 1

Tidak semua peneliti setuju bahwa bila indeks cairan amnion ≤ 5 menandakan banyak hasil yang buruk. Magan dkk (1999, 2004) menyimpulkan AFI merupakan tes diagnostik yang kurang baik dan lebih baik diprediksi volume cairan amnion normal atau abnormal. Driggers dkk (2004) dan Zhang dkk (2004) tidak menemukan korelasi hasil yang buruk pada kehamilan dengan AFI dibawah 5 cm. 1

Conway dkk., (2000) menyimpulkan bahwa penatalaksanaan tanpa intervensi diperbolehkan agar muncul awitan persalinan spontan yang sama efektifnya dengan induksi pada kehamilan aterm dengan angka indeks cairan amnion 5 cm atau kurang. 1

2.10 VELOSIMETRI DOPPLER ARTERI UMBILIKALIS

Ultrasonografi Doppler adalah teknik noninvasif untuk menilai aliran darah dengan mengetahui impedansi aliran ke perifer. Seringnya pengukuran indeks aliran darah berdasarkan pada puncak sistol tersering (S), akhir diastolic tersering (D) dan rata-rata puncak terrsering dalam siklus kardiak (A) yang termasuk dibawah ini :

* Systolic to diastolic ratio (S/D)

* Resistance index (S-D/S)

* Pulsatility index (S-D/A) 4

Rasio sistolik : diastolik (S/D) arteri umbilikalis, yaitu indeks yang paling sering digunakan, dianggap abnormal apabila meningkat melebihi persentil ke-95 menurut usia gestasi atau apabila aliran diastolik tidak ada atau berbalik arah. Aliran diastolik akhir yang tidak ada atau berbalik arah menandakan meningkatnya impedansi. Peningkatan impedansi pada aliran darah urteri umbilikalis semacam ini dilaporkan terjadi akibat kurangnya vaskularisasi vilus plasenta (Todros dkk., 1999). Tidak ada atau berbaliknya arah aliran diastolik akhir dijumpai pada kasus hambatan pertumbuhan janin yang ekstrim dan mungkin mengisyaratkan gangguan janin. Sebagai contoh, Zelop dkk. (1996) melaporkan bahwa mortalitas perintal pada aliran diastolik-akhir yang berbalik arah adalah sekitar 33 % dan untuk aliran diastolik-akhir yang berhenti adalah sekitar 10 %. 1,14

Gambar 2-11 Tiga studi yang mempelajari fetal umbilical artery velocimetry. Puncak menggambarkan kecepatan sistolik dan lembah menggambarkan kecepatan diastolik A. Pola velosimetri normal, B. kecepatan = 0 selama diastolik (lembah mendekati garis horizontal). C. kecepatan arteri berbalik selama diastolik (lembah dibawah garis horizontal )14

Ultrasonografi Doppler telah menjadi subyek penilaian yang lebih ekstensif dan ketat dengan berbagai uji klinis teracak (alfirevic dan Neilson, 1995). Williams dkk. (2000) membagi secara acak 1240 wanita beresiko tinggi menjadi kelompok yang menjalani uji nonstres atau kelompok velosimetri Doppler dan mendapatkan bahwa kedua uji surveilans janin ini setara dalam kemampuan memperkirakan hasil akhir kehamilan. Kegunaan velosimetri Doppler arteri umbilikalis telah dikaji oleh the American College of Obstetricians and Gynecologist (1999, 2000). Disimpulkan bahwa velosimetri arteri umbilikalis tidak terbukti bermanfaat untuk keadaan-keadaan selain kecurigaan adanya hambatan pertumbuhan janin (American College of Obstetricians and Gynecologist, 1999). Namun pemakaian velosimetri Doppler dalam penatalaksanaan hambatan pertumbuhan janin dianjurkan sebagai kemungkinan pendukung bagi teknik-teknik evaluasi janin lain, misalnya uji nonstres atau profil biofisik (American College of Obstetricians and Gynecologist, 2000). Belum terbukti adanya manfaat velosimetri arteri umbilikalis untuk keadaan lain, misalnya kehamilan postmatur, diabetes, lupus eritematosus sistemik, atau sindrom antibody antifosfolipid. Demikian juga, velosimetri belum terbukti berguna sebagai uji penapis untuk mendeteksi gangguan janin dalam populasi obstetrik secara umum. 1

Selain arteri umbilikalis, pembuluh-pembuluh janin lain juga dapat dievaluasi aliran darahnya. Arteri serebri media mendapat perhatian khusus karena ada pengamatan bahwa janin yang mengalami hipoksia berkompensasi dengan melakukan “brain sparing” yaitu menurunkan impedansi-meningkatkan aliran darah-di pembuluh darah otak. Bardasarkan hal ini, ada kesan bahwa rasio nilai S/D arteri serebri media terhadap nilai S/D arteri umbilikalis mungkin mencerminkan gangguan janin (Mari dan Deter, 1992). Sampai saat ini, penelitian-penelitian tentang pemikiran ini masih belum jelas kesimpulannya. Sebagai contoh, Ott dkk. (1998) membagi secara acak 665 wanita yang menjalani profil biofisik modifikasi menjadi kelompok yang hanya menjalani uji ini atau kelompok yang juga menjalani penghitungan rasio laju aliran darah areteri serebri media terhadap arteri umbilikalis. Tidak terdapat perbedaan bermakna hasil akhir kehamilan pada kedua kelompok dalam penelitian ini. Oleh the American College of Obstetricians and Gynecologist (1999), saat ini teknik ini masih dianggap investigasional. 1

2.11 UJI ANTENATAL YANG SAAT INI DIREKOMENDASIKAN

Menurut the American College of Obstetricians and Gynecologist (1999), belum ada kesepakatan bulat mengenai uji terbaik untuk mengevaluasi kesejahteraan janin. Ketiga sistem pengujian yaitu uji stress kontraksi, uji nonstres, dan profil biofisik-memiliki hasil akhir yang berbeda-beda, bila dipertimbangkan berdasarkan situasi klinis. 1

Pertimbangan terpenting dalam memutuskan kapan perlu dimulai uji antepartum adalah prognosis kelangsungan hidup neonatus. Keparahan penyakit ibu adalah pertimbangan penting lainnya. Secara umum, pada sebagian besar kehamilan berisiko tinggi, hampir semua pihak yang berwenang menganjurkan bahwa pengujian dimulai pada minggu ke-32 sampai 34. Kehamilan dengan penyulit berat mungkin memerlukan pengujian sejak 26 sampai 28 minggu. Frekuensi pengujian ulangan secara ketat ditetapkan setiap 7 hari, tetapi pengujian umumnya dilakukan lebih sering. 1

Fokus utama penilaian frekuensi denyut jantung janin adalah deteksi deselerasi dan persalinan tidak ditunda hanya karena dijumpai akselerasi. Perkiraan volume cairan amnion secara klinis dan ultrasonografis juga dapat digunakan untuk menilai kesehatan janin. Pasien rawat jalan tidak menjalani uji frekuensi denyut jantung janin. Apabila terdapat kekhawatiran mengenai gerakan janin atau volume cairan amnion, wanita yang bersangkutan diobservasi di ruang bersalin disertai pemantauan terhadap denyut jantung janinnya. Bergantung pada hasilnya, wanita tersebut dapat dipulangkan, dipindahkan ke High-Risk Unit, atau menjalani induksi persalinan. Walaupun pemakaian uji antepartum ini terbatas, angka kematian janin pada janin yang secara struktural normal cukup rendah pada wanita berisiko tinggi. Memang, sebagian besar kematian janin antepartum yang dijumpai terjadi pada kehamilan dengan risiko rendah dan disebabkan oleh solusio plasenta atau cedera tali pusat yang tidak dapat dihindari. 1

BAB III

KESIMPULAN

Salah satu tujuan perawatan antenatal adalah untuk mengidentifikasi ibu hamil terutama yang berisiko tinggi terjadi gangguan pada kehamilan dan janinnya. Terdapat berbagai macam teknik pemantauan janin antepartum. Pertimbangan terpenting dalam memutuskan kapan perlu dimulai uji antepartum adalah prognosis kelangsungan hidup neonatus dan keparahan penyakit ibu. Dari hasil pemantauan antepartum, dapat dilakukan manajemen yang direkomendasikan sehingga dapat mencegah morbiditas dan mortalitas janin antepartum.

SUDAH COCOK ??? (note= gambar dan bagan sulit di upload jadi gak muncul, tapi difilenya ada)

BUTUH DAFTAR PUSTAKANYA ??

Hubungi SMS SAJA 02291339839

(Jangan berpikiran macam2 dulu dok,he2.. Saya gak jualan kok. . . SMS aja dulu. . .)

Salam TS

Dr Mantap

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar