Minggu, 18 Juli 2010

REFERAT SEPSIS

BAGIAN ILMU PENYAKIT ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN

2005


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Sepsis merupakan suatu penyebab penting morbiditas dan mortalitas pada bayi-bayi yang dirawat di rumah sakit dan pada bayi-bayi prematur. Patofisiologi dan simptom sepsis pada orang dewasa dan anak-anak pada dasarnya hampir sama, yaitu mengindikasikan adanya respon inflamasi sistemik yang menyebabkan terjadinya koagulopati, hipotensi, perfusi jaringan dan organ yang tidak adekuat, dan pada akhirnya, kegagalan organ dan kematian. Walaupun kedua kelompok usia ini menunjukkan gambaran yang hampir sama, namun sebenarnya ada beberapa perbedaan-perbedaan, seperti perbedaan peran mediator-mediator sepsis, dan patofisiologi dari sepsis itu sendiri pada orang dewasa, anak-anak, dan pada bayi.

Dalam beberapa tahun terakhir, sudah terjadi kemajuan-kemajuan pesat akan pemahaman potofisiologi sepsis. Inflamasi, aktivasi koagulasi, dan proses fibrinolisis yang terganggu/tersupresi, merupakan mekanisme-mekanisme penting sebagai patofisiologi sepsis dan dikenal dengan sepsis cascade. Terapi-terapi terbaru yang potensial terhadap sepsis kini lebih diarahkan kapada respon selular. Pemahaman akan patofisiologi sepsis tentunya penting untuk diagnostik dengan sensifitas dan spesifisitas yang baik untuk deteksi dini serta penatalaksanaannya.

1.2. Definisi Sepsis

Pada tahun 1992, The American College of Chest Physicians and the Society of Critical Care Medicine (ACCP/SCCM) mengembangkan suatu konsensus tentang definisi sepsis. Beberapa diskusi dilakukan untuk membahas tentang dapat tidaknya definisi ini diaplikasikan kepada bayi atau neonatus. Hal ini menyangkut adanya perbedaan-perbedaan yang didasarkan pada usia, seperti nilai-nilai normal tekanan darah, frekwensi, frekwensi pernafasan, oliguria, dan jumlah leukosit. Selain itu, adanya beberapa sindrom seperti syok kardiogenik, syok hemoragic, dan syok ensefalopati yang menyerupai syok septic.

Konsensus internasional ini telah diadaptasi untuk pemakaian di bagian pediatric. Pada pembahasan patofisiologi sepsis ini, yang dipakai adalah konsensus internasional tentang sepsis, yakni adanya Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) dengan infeksi.


BAB II

GAMBARAN PATOFISIOLOGI SEPSIS

2.1. Patofisiologi Sepsis

Sepsis merupakan hasil interaksi yang kompleks antara organisme patogen dan tubuh manusia sebagai pejamu. Tinjauan mengenai sepsis berhubungan dengan patofisiologi yang kompleks untuk mengilustrasikan gambaran klinis akan suatu hipotensi yang berat dan aliran darah yang terbendung akibat terbentuknya mikrotrombus di dalam sistem kapiler. Hal ini dapat menyebabkan disfungsi organ yang kemudian dapat berkembang menjadi disfungsi dari beberapa organ dan akhirnya kematian.

Proses molekuler dan seluler dari pejamu sebagai respon terhadap sepsis adalah berbeda-beda tergantung dari jenis organisme yang menginvasi (organisme Gram-positif, organisme Gram-negatif, jamur, atau virus). Respon pejamu terhadap organisme Gram-negatif dimulai dengan dikeluarkannya lipopolisakarida, yakni endotoksin dari dalam dinding sel bakteri Gram-negatif, yang dikeluarkan saat proses lisis. Organisme Gram-positif, jamur dan virus memulai respon pejamu dengan mengeluarkan eksotoksin dan komponen-komponen antigen seluler.

Kedua substansi tadi memicu terjadinya kaskade sepsis yakni dimulai dengan pengeluaran mediator-mediator inflamasi (Gambar 1). Mediator-mediator inflamasi adalah substansi yang dikeluarkan dari sel sebagai hasil dari aktivasi makrofag. Hasilnya adalah aktifnya sistem koagulasi dan sistem komplemen. Kerusakan utama akibat aktivasi ini terjadi pada endotel dan menyebabkan migrasi leukosit serta pembentukan mikrotrombus. Akibat aktivasi endotelium, terjadi peningkatan jumlah reseptor trombin pada permukaan sel untuk melokalisasi koagulasi pada lesi tersebut. Lesi pada endotel berhubungan dengan proses fibrinolisis yang terganggu. Hal ini disebabkan karena berkurangnya jumlah reseptor pada permukaan sel yang diperlukan untuk sintesis dan pemunculan molekul antitrombotik.

(Gambar 1) Kaskade sepsis ini menghasilkan kebocoran kapiler dan vasodilatasi yang dapat berkembang lebih lanjut menjadi disfungsi organ dan syok. Multiorgan Dysfunction Syndrome (MODS) dapat terjadi ketika syok, kebocoran kapiler, dan vasodilatasi tidak distabilkan, dan dapat menyebabkan kematian.

2.2. Wawasan Baru Tentang Patofisiologi Sepsis

Sebelumnya, sepsis secara utama hanya dipandang sebagai suatu kekacauan sistem inflamasi. Beberapa studi terakhir mengindikasikan bahwa mekanisme sepsis juga mencakup aktivasi koagulasi dan terganggunya fibrinolisis yang menyebabkan terbentuknya protrombin sebagai hasil abnormalitas endotel yang diinduksi oleh sepsis dan kemudian disfungsi organ. Gambar 2 mengilustrasikan hilangnya homeostasis pada sepsis akibat mekanisme ini.

Gambar 2. Hilangnya homeostasis pada sepsis. Patofsiologi sepsis mencakup aktivasi inflamasi, aktivasi koagulasi, dan fibrinolisis yang terganggu. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan dalam homeostasis yang normal antara mekanisme prekoagulan dan antikoagulan. (PAI-1, plasminogen activator inhibitor-1; TAFIa, thrombin activatable fibrinolysis inhibitor).

2.2.1. Respon Inflamasi

Pada orang dewasa, tumor necrosis factor alpha (TNF-α) merupakan mediator sepsis yang terutama di samping beberapa sitokin dan sel-sel lain yang juga terlibat. Mula-mula, makrofag teraktivasi dan memproduksi sejajaran mediator-mediator proinflamasi, termasuk TNF-α, Interleukin-1 (IL-1), IL-6, IL-8, platelet activating factor (PAF), leukotrien, dan thromboxane-A2. Mediator-mediator proinflamasi ini mengaktifkan banyak jenis sel, menginisiasi kaskade sepsis, dan menghasilkan kerusakan endotel.

Ketika terluka, sel-sel endotel dapat dilalui oleh granulosit dan unsur-unsur plasma menuju jaringan yang mengalami inflamasi, yang mana dapat berujung pada kerusakan organ. Inflamasi sel-sel endotelial menyebabkan vasodilatasi melalui aksi nitric oxide pada pembuluh darah otot polos. Hipotensi yang berat dihasilkan dari produksi nitric oxide yang berlebihan, sehingga melepaskan peptida-peptida vasoaktif seperti bradikinin dan serotonin, dan dengan kerusakan sel endotel ini, terjadilah ekstravasasi cairan ke jaringan interstisial.

Aktivasi IL-8 dapat menyebabkan disfungsi paru-paru melalui aktivasi netrofil yang berada di paru-paru. Kerusakan kapiler menyebabkan peningkatan permeabilitas di paru-paru, serta dapat menyebabkan oedem paru non kardiogenik.

Sitokin-sitokin proinflamasi mengaktivasi sistem komplemen baik melalui jalur klasik maupun jalur alternatif. Sistem komplemen merupakan komponen yang esensial pada imunitas bawaan. Namun demikian, aktivasi yang berlebihan, seperti yang terjadi pada sepsis, dapat menyebabkan kerusakan endotel. C5a dan produk dari aktivasi komplemen lainnya mengaktifkan kemotaksis neutrofil, fagositosis dengan pelepasan enzim lisosom, sintesis leukotrien, meningkatkan agregasi dan adhesi trombosit dan neutrofil, degranulasi, dan produksi radikal oksigen yang toksik. Aktivasi sistem komplemen menghasilkan pelepasan histamin dari mast cells dan meningkatkan permeabilitas kapiler yang menyebabkan terkumpulnya cairan di dalam ”rongga ke-tiga” yang dapat ditemukan pada keadaan sepsis. Pada hewan percoobaan, C5a menginduksi hipotensi, vasokonstriksi pulmonal, neutropenia, dan kebocoran vaskular sehubungan dengan kerusakan kapiler.

Data-data yang menggambarkan mediator-mediator sepsis dan antagonisnya pada orang dewasa tidak dapat diaplikasikan seluruhnya pada anak-anak. Perkembangan mediator-mediator sepsis dan aktivitas agonis naturalnya pada anak-anak masih belum jelas. Pada neonatus, didapatkan fungsi sel-B yang terganggu serta perubahan produksi sel-T. Neonatus, terutama bayi yang lahir prematur memiliki sistem komplemen yang terganggu baik kuantitas maupun kualitasnya.

Respon mediator yang utama pada orang dewasa lebih mudah dipahami dibandingkan dengan pada anak-anak. Perbedaan presentasi pada neonatus dapat lebih kepada kesatuan kuantitatif (level darah bervariasi menurut usia) versus perbedaan kualitatif (respon fisiologis terhadap aktivasi mediator). Orang dewasa dan bayi menampakkan gejala-gejala yang mengindikasikan respon inflamasi sistemik yang menuju kepada koagulopati, hipotensi, perfusi jaringan perifer serta organ yang inadekuat, dan akhirnya kegagalan organ serta kematian.

Dengan memahami respon mediator inflamasi, dapat dicari hubungan antara gambaran klinis sepsis dengan patofisiologi yang mendasarinya serta penting untuk memahami mekanisme terapi untuk penatalaksanaan sepsis. Tabel 2 menggambarkan sketsa efek biologis dan klinis dari mediator-mediator inflamasi dan menegaskan perbandingannya pada neonatus.

2.2.2. Hubungan Inflamasi dan Koagulasi

Inflamasi dan koagulasi sangat berkaitan erat di dalam terjadinya sepsis. Mediator-mediator inflamasi membangkitkan ekspresi tissue factor dan menginisiasi koagulasi melalui aktivasi jalur ekstrinsik, sementara pembentukan trombin dari koagulasi yang teraktivasi menstimulasi aktifnya mediator-mediator proinflamasi.

Pelepasan TNF-α, IL-1, and IL-6 menghasilkan monosit-monosit yang aktif untuk mengekspresikan tissue factor (TF) yang kemudian akan menstimulasi kaskade koagulasi ekstrinsik dan produksi fibrin. Tissue factor merupakan reseptor dengan afinitas tinggi serta kofaktor untuk faktor VIIa. Saat TF diekspresikan kepada monosit, dia menempel pada factor VIIa untuk membentuk kompleks aktif yang mengubah factor-faktor X dan IX menjadi bentuk yang aktif. Munculnya tissue factor secara langsung mengaktivasi jalur koagulasi ekstrinsik, dan melalui feedback loops, mengaktifkan jalur intrinsik secara tidak langsung. Kolagen dan kallikrein mengaktivasi koagulasi jalur intrinsik serta mengubah protrombin menjadi trombin.

Trombin memiliki efek multiple pada inflamasi dan juga membantu memelihara keseimbangan antara koagulasi dan fibrinolisis. Trombin memiliki efek proinflamasi pada sel-sel endotel, makrofag, dan monosit, menyebabkan pelepasan TF, platelet activating factor, dan TNF-α. Respon sitokin berkontribusi pada aktivasi platelet dan agregasi. Trombin menstimulasi chemoattractant bagi neutrofil dan monosit untuk memfasilitasi kemotaksis. Trombin yang berlebihan akan menstimulasi terjadinya inflamasi dengan meningkatkan produksi sel endotel E-selectin dan P-selectin yang menghasilkan perlekatan neutrofil pada endothelium. Proses ini berperan dalam pembentukan mikrotrombus. Trombin juga menstimulasi degranulasi mast cell yang melepaskan bioamin yang kemudian akan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya kebocoran kapiler.

Tubuh memiliki mekanisme inhibisi bawaan serta antikoagulan endogen untuk memelihara homeostasis. Protein C yang teraktivasi memiliki reaksi antitrombosis yang dihasilkan dari inaktivasi faktor Va dan VIIIa. Secara tidak langsung, produksi trombin juga mengurangi inflamasi dan memperbaiki aktifitas fibrinolisis. Protein C yang teraktivasi juga menurunkan ekspresi TF. Tissue factor pathway inhibitor (TFPI) diproduksi oleh sel-sel endotel dan TF yang tidak aktif. TFPI juga dapat menginhibisi faktor-X secara langsung.

Seluruh mekanisme-mekanisme ini terganggu pada keadaan sepsis. TNF-α menyebabkan terganggunya inhibisi pembentukan trombin: antitrombin III, protein C, protein S, dan TFPI. Proses ini mengarah kepada generasi trombin yang tidak teratur.

Trombin mengaktivasi faktor V dan VII pada jalur ekstrinsik, serta faktor IX pada jalur intrinsik. Hasil akhir dari dari aktifasi tiap jalur adalah berhubungan dan sama; protrombin memproduksi trombin, dan fibrinogan diubah menjadi fibrin. Bila proses ini tidak diperiksa oleh antikoagulan natural, trombin akan menyebabkan koagulasi yang tidak terkontrol yang mengarah kepada disfungsi organ seperti yang terjadi pada keadaan sepsis berat.

Gambar 3. Kaskade koagulasi. Pada keadaan sepsis, aktivasi kaskade koagulasi umumnya dimulai dengan jalur ekstrinsik sebagai hasil dari peningkatan ekspresi faktor jaringan yang distimulasi oleh mediator-mediator inflamasi.

Walaupun bukan dalam keadaan sepsis, neonatus dan bayi-bayi prematur memiliki predisposisi terhadap hiperkoagulasi. Kadar protein C dan protein S dalam plasma neonatus tereduksi. Sebaliknya, kadar trombomodulin reseptor endotel meningkat pada periode neonatal.

Selama sepsis, hiperkoagulasi ini dapat bereksaserbasi dengan meningkatkan jumlah factor-faktor inhibisi koagulasi (antithrombin [AT], protein C, protein S, reduced thrombomodulin, dan inhibisi fibrinolisis oleh plasminogen activator inhibitor-1 [PAI-1]).

2.2.3. Fibrinolisis yang terganggu

Fibrinolisis (lisisnya bekuan/clot) merupakan respon homeostasis tubuh untuk mengaktifkan sistem koagulasi. Pembersihan fibrin penting untuk penyembuhan luka, angiogenesis, dan rekanalisasi pembuluh darah. Aktivator fibrinolisis meliputi aktivator plasminogen jaringan sel endotel tissue plasminogen activator (t-PA) atau urokinase plasminogen activator (u-PA). Tubuh juga memiliki inhibitor alami terhadap fibrinolisis, seperti PAI-1 dan thrombin-activatable fibrinolysis inhibitor (TAFI). Aktivator serta inhibitor diperlukan untuk memelihara keseimbangan homeostasis.

Sepsis mengganggu respon fibrinolisis yang normal dan membuat tubuh kurang mampu untuk menghilangkan mikrotrombus. TNF-α mensupresi fibrinolisis dengan meningkatkan level PAI-1 serta mencegah pembersihan fibrin. Pemecahan fibrin menghasilkan produk degradasi fibrin (fibrin degradation products) seperti D-dimer yang sering. Melalui jalan ini, mediator-mediator proinflamasi (IL-6 dan TNF-α) bekerja secara sinergis untuk meningkatkan jumlah fibrin, yang dapat menyebabkan trombosis pada pembuluh darah berukuran kecil dan sedang., serta potensial terhadap disfungsi organ. Secara klinis, disfungsi organ dapat termanifestasikan sebagai distress pernafasan, hipotensi, gagal ginjal, dan yang paling berat adalah progresi ke arah kematian.

Kadar trombin yang tinggi yang dihasilkan dari aktivasi koagulasi menuntun kepada aktifnya TAFI. Meningkatnya jumlah TAFI merupakan mekanisme penting dalam inhibisi system fibrinolisis selama sepsis.

Protein C endogen yang teraktivasi memiliki sifat profibrinolitik dengan kemampuannya untuk menginhibisi PAI-1 dan membatasi pembentukan TAFI. Pada keadaan sepsis, kerusakan endotelium mengurangi kemampuan tubuh untuk mengubah protein C menjadi protein C yang teraktivasi. Sebagai akibatnya, pada keadaan sepsis, kemampuan untuk memulihkan homeostasis melalui efek profibrinolitik dari protein C terganggu.

Respon koagulasi dan sistem fibrinolisis yang sejenis dapat dilihat juga pada bayi dengan infeksi meningokokus. Hubungan antara protein C yang sangat rendah dengan tingginya mortalitas menyokong hipotesis yang menyebutkan bahwa mekanisme dari penyakit yang mendasari sepsis secara kualitatis adalah sama, tanpa melihat kuantitas atau perbedaan faktor darah berdasarkan usia.

BAB III

Sepsis Neonatorum

Fetus dan neonatus sangat rentan terhadap infeksi. Sekitar 1-2 bayi dari 1000 kelahiran mengalami infeksi. Ada tiga jalur utama terjadinya infeksi perinatal: (1) infeksi transplasental (misalnya: cytomegalovirus, rubella, syphilis); (2) infeksi asendens dengan disertai rusaknya barier plasenta (misalnya: infeksi bakteri setelah 12-18 jam selaput amnion pecah); dan (3) infeksi yang didapat oleh bayi saat melewati jalan lahir yang telah terinfeksi atau terpapar darah ibu yang infeksius (misalnya: herpes simplex, hepatitis B, infeksi bakteri lainnya).

Beberapa faktor resiko klinis sepsis neonatorum:

    1. Mayor
      1. Maternal prolonged Rupture of Membranes >24 jam
      2. Intrapartum maternal fever >38 °C
      3. Chorioamnionitis
      4. Sustained Fetal Tachycardia >160 x/menit
    2. Minor
      1. Intrapartum maternal fever >37.5 °C
      2. Gemelli
      3. Premature (<37>
      4. Maternal Leukocytosis (White Blood Cell >15.000/mm3)
      5. Rupture of Membranes > 12 hour
      6. Tachypnea (<1>
      7. Maternal Group B Streptococcus Colonization
      8. Low APGAR ( 1 menit <5>
      9. LBW (<1500>
      10. Foul lochia

Gambar 4. Langkah-langkah evaluasi suspek infeksi neonatal dini.

Sepsis neonatorum dapat dikategorikan sebagai onset dini atau onset lanjut. Sekaitar 85% neonatus dengan infeksi onset dini mengalami sepsis dalam 24 jam pertama kehidupannya, 5% antara 24-48 jam, dan sejumlah kecil terjadi setelah 48 jam pertama kehidupan. Organisme penyebab infeksi, dan lokasi primer infeksi bervariasi tergantung dari waktu terjadinya (onset) serta tempat di mana bayi mendapatkan infeksi tersebut, apakah di rumah atau di rumah sakit. Onset terjadi lebih cepat lagi pada bayi-bayi prematur.

Sepsis onset dini umumnya disebabkan oleh mikroorganisme yang diperoleh dari ibunya. Organisme yang sering menyebabkan infeksi onset dini ini antara lain; group B Streptococcus (GBS), Escherichia coli, Haemophilus influenzae, dan Listeria monocytogenes Beberapa kondisi perinatal berhubungan dengan meningkatnya resiko sepsis onset dini. Sepsis onset dini umumnya sering terjadi pada prematuritas, gemelli, kelainan kongenital, asfiksia perinatal, dan jenis kelamin laki-laki.

Sindrom sepsis onset lanjut terjadi pada hari ke-7-90 kehidupan dan umumnya didapatkan dari lingkungan. Organisme penyebab antara lain coagulase-negative staphylococci, Staphylococcus aureus, E coli, Klebsiella, Pseudomonas, Enterobacter, Candida, GBS, Serratia, Acinetobacter, dan anaerob. Organisme-organisme ini umumnya membentuk koloni pada kulit bayi, traktur respiratorius, konjungtiva, traktus gastrointestinal, dan umbilicus. Vektor yang dapat menjadi tempat kolonisasi juga mencakup kateter urin, IV line, serta melalui kontak dengan orang yang merawat bayi tersebut. Kapsul polisakarida menempel dengan baik pada polimer pelastik kateter. Adhesi ini menciptakan suatu kapsul di antara mikroba dan kateter yang menghalangi deposisi C3 dan fagositosis. Selain itu juga, protein yang terdapat pada organisme [AtlE and SSP-1] akan meningkatkan penempelan pada permukaan kateter.

Pneumonia yang ditandai dengan distress pernafasan sering terjadi pada sepsis onset dini, sementara meningitis umumnya sering terjadi pada sepsis onset lanjut (± 85% disebabkan oleh GBS dan L. monocytogenes). Faktor resiko ibu mencakup kolonisasi streptokokus pada vagina, demam intrapartum, ketuban yang lambat pecah (>18-24 jam), kala 2 memanjang, serta chorioamnionitis atau ada riwayat infeksi saluran kemih. Bayi-bayi prematur dan bayi-bayi sakit memiliki kerentanan yang tinggi terhadap sepsis dan umumnya tidak serta merta tampak jelas; karena itu kelompok ini membutuhkan perhatian lebih sehingga ancaman sepsis dapat diidentifikasi secara dini dan mendapat terapi yang efektif.

Tabel 3. Tanda-tanda Klinis pada Sepsis Neonatorum

Onset dini

Onset lanjut

bayi tampak tidak sehat

Merintih

temperatur tidak stabil

Tachypnea

tidak mau minum

Cyanosis

mengisap lemah

Perfusi buruk

muntah/residu gaster

Hipotonus

distensi abdomen

letargi/apnoe

letargi/apnoe

ikterus(<24jam)

fontanel tegang/konvulsi

Syok

syok

3.1. Etiologi sepsis neonatorum

Agen-agen infeksius penyebab sepsis neonstorum telah banyak berubah dalam 50 tahun terakhir. Di Amerika Serikat, S. aureus dan E. coli merupakan penyebab infeksi yang tersering serta membahayakan pada kejadian sepsis neonatorum di era tahun 1950an. Setelah itu, GBS kemudian menggantikan S. aureus sebagai agen Gram-positif yang tersering yang menyebabkan sepsis onset dini pada dekade selanjutnya. Selama tahun 1990an, GBS dan E. coli tetap dihubungkan sebagai penyebab utama sepsis. Beberapa organisme yang lain yang juga diidentifikasi dalam kejadian sepsis neonatorum antara lain: coagulase-negative S aureus, L monocytogenes, Chlamydia pneumonia, Haemophilus influenzae, Enterobacter aerogenes, dan species Bacteroides serta Clostridium . Meningoencephalitis dan sindrom sepsis neonatal dapat pula disebabkan karena infeksi oleh adenovirus, enterovirus, atau coxsackievirus. Selain itu, penyakit menular seksual dan penyakit infeksi virus, seperti gonorrhea, syphilis, herpes simplex virus (HSV), cytomegalovirus (CMV), hepatitis, HIV, rubella, toxoplasmosis, Trichomonas vaginalis, dan Candida species juga sering ditemukan berkaitan dengan sepsis neonatorum. Bakteri-bakteri dengan resistensi yang tinggi terhadap antibiotik juga sangat berbahaya serta selanjutnya akan menyulitkan penanganan sepsis neonatorum ini.

3.2. Tinjauan Immunologis Neonatus

Jika dibandingkan dengan orang dewasa, fungsi sistem imun neonatus memiliki kekurangan pada beberapa aspek antara lain: tipe-tipe antibodi spesifik, fungsi bakterisidal dan fagositik, opsonosasi, komplemen yang bersirkulasi, serta kemampuan untuk meningkatkan produksi neutrofil sebagai rerspon terhadap infeksi. Kadar serta fungsi monosit pada neonatus sama dengan orang dewasa; namun demikian, aktivitas kemotaksis makrofag terganggu dan berlanjut dengan penurunan fungsinya sampai masa kanak-kanak awal. Jumlah makrofag di paru-paru, limpa, serta hepar menurun. Aktivitas kemotaksis, bakterisidal, serta pemaparan antigen tidak sempurna baik. Jumlah sitokin yang diproduksi oleh makrofag juga berkurang, yang mana dapat berhubungan dengan penurunan jumlah produksi sel-T.

Sel-T ditemukan dalam sirkulasi janin pada awal kehamilan dan jumlahnya meningkat saat kelahiran sampai usia sekitar 6 bulan. Namun, sel ini banyak yang immatur dan tidak bertahan lama. Neonatus kekurangan fenotip sel-T dengan sel memori pada permukaannya. Namun demikian, jumlah sel-T ini bertambah dengan makin maturnya neonatus serta dengan stimulus paparan antigen. Sel-T neonatus yang masih naïf ini belum dapat langsung berproliferasi bila diaktivasi seperti pada sel-T orang dewasa. Selain itu, sel-T neonatus ini belum secara efektif memproduksi sitokin saat terjadi stimulasi dan diferensiasi oleh sel-B, serta stimulasi sum-sum tulang oleh granulosit/monosit. Keterlambatan pembentukan fungsi memori terhadap antigen spesifik mengikuti terjadinya infeksi primer. Fungsi sitotoksik sel-T neonatus kurang lebih 50-100% sama efektifnya dengan sel-T orang dewasa.

Kekebalan pasif terhadap beberapa jenis organisme didapatkan melalui IgG yang ditransfer melalui plasenta selama trimester III kehamilan. Kadar IgG antibodi dalam darah bayi cukup bulan setara dengan kadar antibodi tersebut dalam tubuh ibunya. Maka dari itu, bayi-bayi yang lahir prematur khususnya yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 30 minggu, tentu tidak memiliki antibodi ini secara mencukupi. Bila sistem imun ibu tersupresi (immunosuppressed mother), maka tentu akan sangat mungkin bahwa jumlah IgG yang ditransmisikan kepada janinnya juga rendah. Janin dapat mensintesis IgM pada usia kehamilan 10 minggu; namun levelnya sangat rendah saat lahir, kecuali jika janin terpapar agen infeksius selama kehamilan. Hal tersebut akan menstimulasi peningkatan produksi IgM. IgG dan IgE juga dapat disintesis oleh janin dalam kandungan namun jumlahnya dalam darah pada saat lahir hanya sedikit. Neonatus mendapatkan IgA melalui ASI dan mulai mensekresikan IgA pada usia 2-5 minggu. Respon terhadap antigen polisakarida berkurang dan tetap demikian sampai 2 tahun pertama kehidupan.

Pada neonatus, kemampuan kemotaksis dan kapasitas neutrofil neonatal serta leukosit PMN untuk mengeliminasi antigen mengalami penurunan. Berkurangnya adhesi sel-sel ini pada pembuluh darah mengurangi kemampuannya untuk berdiapedesis meniggalkan pembuluh darah menuju ke jaringan. Selain itu juga, PMN pada neonatal kurang dapat bergerak melalui matriks ekstraselular jaringan untuk mencapai lokus inflamasi dan infeksi. Kemampuan PMN untuk memfagositosis dan membunuh bakteri terganggu saat bayi itu sakit. Yang terakhir, cadangan neutrofil dengan mudah terdeplesi karena sum-sum tulang kurang responsif, khususnya pada bayi prematur.

Natural killer (NK) cells ditemukan dalam jumlah yang lebih besar pada darah tepi neonatus dibandingkan orang dewasa; namun kemampuannya berkurang dalam hal mengekspresikan antigen pada membran sel. Respon yang berkurang ini ditemukan pada infeksi herpes virus pada neonatus.

Janin mulai dapat memproduksi protein komplemen pada usia kehamilan 6 minggu. Komposisi komponen komplemen ini sangat bervariasi pada tiap neonatus. Aktivitas komplemen pada neonatus dalam membunuh organisme, khususnya bakteri Gram-negatif, masih kurang efisien. Hal ini terutama terjadi pada bayi-bayi prematur. Aktifitas sistem komplemen mulai matang pada usia 6-10 bulan. Fibronectin, suatu protein serum yang diinduksi dengan penempelan neutrofil serta memiliki aktivitas opsonisasi, ditemukan dalam kadar yang rendah pada neonatus. Karena itulah, efisiensi serum neonatus rendah dalam mengopsonisasi agen infektif.

3.3. Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS)

Manifestasi klinis infeksi tergantung pada virulensi organisme yang terkena serta respon inflamasi tubuh terhadap agen infeksi. Istilah SIRS sering digunakan untuk menjelaskan keunikan proses infeksi serta respon sistemik yang mengikutinya. Selain infeksi, SIRS juga dapat dihasilkan dari trauma, syok hemoragic, penyebab-penyebab iskemia yang lain, serta pankreatitis.

Pasien-pasien dengan SIRS memiliki spektrum gejala klinis yang menampakkan proses patologis yang progresif. Batasan SIRS ialah respon inflamasi sistemik terhadap gangguan/kerusakan klinis yang ditandai dengan adanya dua atau lebih hal-hal berikut: (1) Temperatur tubuh yang tidak stabil (<35>38,5 °C),

(2) Disfungsi respirasi (tachipnoe atau hipoksemia)

(3) Disfungsi Cardiac (tachicardia, delayed capillary refill >3 detik, hipotensi), dan

(4)Abnormalitas perfusi (oliguria, asidosis laktat, perubahan status mental). Meningkatnya permeabilitas vaskuler menyebabkan kebocoran kapiler pada jaringan perifer dan paru-paru yang mengakibatkan terjadinya udem perifer dan udem paru-paru. Kerusakan jaringan pada akhirnya akan menyebabkan kegagalan multiorgan dan kematian.

3.4. Tanda-tanda Sepsis Neonatorum

Diagnosis dini umumnya dilaksanakan ketika ada kecurigaan ke arah sepsis. Biasanya, tanda-tanda sepsis dini agak sukar ditentukan dan nonspesifik. Tanda awal yang paling umum adalah bayi ampak tidak sehat, serta tidak dapat minum susu atau adanya intoleransi terhadap makanan yang masuk, rewel atau lethargy, serta temperatur tubuh yang tidak stabil. Jika didapatkan beberapa manifestasi yang jelas secara bersamaan, maka akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Infeksi transplasetal (CMV, T. Pallidum, T. gondii, rubella, parvovirus B19, dll) dapat asimtomatis saat lahir.

Gejala-gejala dan tanda tidak membantu untuk menegakkan diagnosis etiologi, namun meningkatkan kecurigaan terhadap infeksi intrauterin serta membantu membedakan infeksi ini dengan infeksi bakteria akut yang yang terjadi selama proses persalinan. Beberapa gejala dan tanda antara lain: pertumbuhan intrauterin yang terbatas, mikrosefalus atau hidrosefalus, kalsifikasi intrakranial, korioretinitis, katarak, miokarditis, pneumonia, hepatosplenomegali, hiperbilirubinemia, anemia, trombositopenia, hydrops fetalis, serta manifestasi kulit seperti; petechiae, purpura, dan vesikel. Kebanyakan agen ini menyebabkan gejala sisa, walaupun bayi asimtomatis saat lahir. Beberapa gejala tambahan lainnya ialah gangguan pendengaran sensorineural, kejang, dan abnormalitas perkembangan sistem saraf.

Neonatus dengan sepsis bakterialis dapat disertai dengan gejala-gejala nonspesifik atau tanda-tanda fokal infeksi antara lain; temperatur yang tidak stabil, hipotensi, perfusi buruk (pucat dan atau berbercak-bercak), asidosis metabolik, takikardi atau bradikadi, apnoe, distres pernafasan, merintih, sianosis, irritable, letargi, kejang, intoleransi makanan, distensi abdomen, ikterus, petechiae, purpura, dan perdarahan. Manifestasi awal biasanya terbatas pada gejala pada satu sistem organ saja seperti apnoe saja atau takipnu dengan retraksi atau takikardi. Tetapi dapat pula langsung bermanifestasi berat dengan disfungsi multiorgan. Bayi harus dire-evaluasi secara berkala untuk menilai apakah gejala telah berkembang dari ringan menjadi berat. Komplikasi lanjut dari sepsis meliputi gagal nafas, hipertensi pulmonal, gagal jantung, syok, gagal ginjal, disfungsi hepar, udem serebral atau trombosis, perdarahan atau insufisiensi adrenal, disfungsi sum-sum tulang (neutropenia, trombositopenia, anemia), dan DIC.

Tabel 4. Tanda-tanda dan Gejala infeksi Neonatus pada beberapa sistem organ

UMUM

CVS

Demam, temperatur tidak stabil

Pucat, bercak-bercak, dingin, clammy skin

Bayi tampak tidak sehat

Tachycardia

Tidak mau minum

Hipotensi

Edema

Bradikardi

GI SYSTEM

CNS

Distensi abdomen

Irritable, letargi

Muntah

tremor, kejang

Diare

hiporefleks, hipotonus

Hepatomegali

Refleks Moro abnormal

Respirasi ireguler

Sistem pernapasan

Fontanel tegang

Apnoe, dyspnoe

high-pitched cry

Tachipnoe, retraksi

PCH, merintih

SISTEM HEMATOLOGI

Cyanosis

Ikterus

Splenomegali

SISTEM RENAL

Pucat

Oliguria

Petechiae, purpura

Perdarahan

Karena manifestasi awal dari sepsis tidak spesifik, diagnosis dini terhadap sepsis sukar dilakukan. Sepsis bakterialis memiliki progresifitas yang sangat cepat sehingga klinisi harus awas terhadap gejala-gejala dan tanda infeksi yang mungkin ada dan melakukan reevaluasi diagnosis serta pemberian terapi antimikroba empiris. Sebagian besar klinisi merekomendasikan untuk mulai memberikan terapi antibiotic pada neonatus yang mengalami distress pernafasan yang membutuhkan oksigen atau bantuan ventilator, khususnya pada bayi dengan usia kehamilan di atas 34 minggu.

3.5. Pemeriksaan Penunjang Sepsis

Dalam menentukan diagnosis sepsis, riwayat perinatal, pemeriksaan fisik, serta perjalanan penyakit harus dievaluasi dengan cermat. Pemeriksaan darah rutin dan hitung jenis leukosit umumnya bermanfaat walaupun tidak spesifik untuk sepsis. Adanya leukopenia (<> 0,2, mengindikasikan prediksi yang mengarah kepada sepsis. Bila hal-hal tersebut tidak ditemukan, maka kemungkinan sepsis adalah minim. Akurasi prediksi ini penting untuk dibuktikan dengan reevaluasi dalam 8-24 jam. Trombositopenia, granul toksik, vakuolisasi, dan badan Döhle merupakan perubahan lain yang dapat membantu menyingkirkan kemungkinan sepsis. Leukositosis dan neutrophilia bukan indikator yang baik untuk kemungkinan sepsis.

Tes aglutinasi latex terhadap adanya antigen GBS umumnya dilakukan pada urin. Namun demikian, positif palsu terjadi pada lebih dari 10% kasus. Pengukuran mikrosedimentation rate, C-reactive protein, fibronectin, dan haptoglobin memiliki akurasi dan spesifisitas yang rendah.

Pemeriksaan yang lebih lengkap mencakup radiografi thorax dan biakan darah. Pada bayi dengan resiko tinggi, kurang dari 72 jam, dan asimtomatik, biakan urin dan spinal tap juga perlu dilakukan. Bayi-bayi pada keadaan di atas biasanya tidak mungkin menderita meningitits tanpa adanya hasil positif pada biakan darah. Meskipun demikian, walaupun biakan darah sudah memberi hasil positif, LCS juga harus tetap diperiksa. Bila LCS positif atau bila ada tanda yang jelas akan adanya meningitis walaupun dengan hasil biakan negatif, pemberian terapi antibiotik harus diperpanjang. Setelah 72 jam pertama post partum atau ketika ada kecurigaan kuat terhadap sepsis, aspirasi suprapubik dan LCS sebaiknya dilakukan. Beberapa bayi dalam keadaan kritis, terutama bayi BBLR, dapat diberikan antibiotik sebelum spinal tap dilakukan. Bila antibiotik sudah mulai diberikan, biakan harus diinkubasikan selam 72 jam untuk menyediakan cukup waktu bagi organisme untuk berkembang biak sebelum biakan dinyatakan negatif dan terapi antibiotik intravena dihentikan. Hanya sekitar 82-90% biakan darah sensitif pada neonatus. Karena itu, dengan adanya kecurigaan klinik yang cukup kuat terhadap sepsis serta jumlah leukosit yang abnormal, bayi harus diterapi lengkap dengan antibiotikwalaupun dengan hasil biakan yang negatif .

Pemeriksaan cairan serebrospinal umumnya sukar diinterpretasikan pada neonatus. LCS normal dapat mengandung sampai 32 leukosit per mikroliter, dengan 60% sel PMN. Kadar glukosa LCS bervariasi pada neonatus, namun secara umum 40% lebih tinggi dari kadar glukosa dalam plasma. Protein dapat mencapai 180mg/dL atau lebih tinggi pada bayi prematur. Organisme sebaiknya dilihat dengan pewarnaan Gram.

3.5. Penatalaksanaan Sepsis

Bila sepsis kecurigaan sudah cukup kuat ke arah sepsis, maka beberap tes harus dilakukan segera dan pemberian antibiotic perlu dilakukan segera. Antibiotik dilanjutkan sampai hasil ada hasil biakan dan respon klinis terhadap intervensi dievaluasi. Mula-mula, infeksi diterapi empiris dengan antibiotik spektrum luas seperti penisilin dan aminoglikosida untuk mencakup organisme-organisme Gram-positif dan Gram-negatif. Ketika organisme penyebab telah diidentifikasi, antibiotik tadi mungkin perlu diganti dengan antibiotik yang lebih sesuai.

Beberapa golongan antibiotik yang biasanya dipakai untuk sindrom sepsis neonatorum antara lain adalah: ampicillin, gentamicin, cefotaxime, vancomycin, metronidazole, erythromycin, dan piperacillin. Pilihan antibiotik harus didasarkan pada organisme yang bersangkutan dengan sepsis tersebut, sensitifitas agen bakterial, serta harus mencegah tren infeksi naosokomial pada bayi. Perlu diingat bahwa infeksi virus juga dapat menyerupai infeksi bakteri.

Kategori Obat: Antibiotik – Terapi antimikroba secara empiris Empiric antimicrobial harus cukup luas dan sebaiknya mencakup semua pathogen yang mungkin pada konteks gambaran klinis.

Nama Obat

Ampicillin (Marcillin, Omnipen, Polycillin, Principen, Totacillin) – Antibiotik beta-lactam yang bersifat bacteriocidal bagi bebrapa organisms, seperti GBS, Listeria, non–penicillinase-producing Staphylococcus, beberapa strains of H influenzae, dan meningokokus.

Dosis Pediatrik

<7 hari dan <2000 g: 50 mg/kg/dose IV/IM q12h
<7>2000 g: 50 mg/kg/dose IV/IM q8h
7-30 hari dan <1200 g: 50 mg/kg/dose IV/IM q12h
7-30 hari dan 1200-2000 g: 50 mg/kg/dose IV/IM q8h
7-30 hari dan >2000 g: 50 mg/kg/dose IV/IM q6h
>30 hari: 100-200 mg/kg/hari IV/IM dibagi q6h; dosis dapat digandakan pada kasus meningitis.

Nama Obat

Gentamicin (Garamycin) -- Aminoglycoside yang bacteriocidal untuk beberapa organisme gram-negative seperti E coli dan Pseudomonas, Proteus, dan Serratia species. Efektif pada kombinasi dengan ampicillin untuk GBS and Enterococcus.

Dosis Pediatrik

0-4 minggu dan <1200 g: 2.5 mg/kg/dose IV/IM q18h
<7 hari dan 1200-2000 g: 2.5 mg/kg/dose IV/IM q12h
<7>2000 g: 2.5 mg/kg/dose IV/IM q12h
>7 hari dan 1200-2000 g: 2.5 mg/kg/dose IV/IM q8h
>7 hari dan >2000 g: 2.5 mg/kg/dose IV/IM q8h
(IM dilakukan bila akses vena sukar)

Nama Obat

Cefotaxime (Claforan) – Cephalosporin generasi III. Efektif melawan GBS dan E coli serta gram-negative enteric bacilli lainnya. Kadar dalam serum dan LCS baik. Kemampuannya melawan drug-resistant gram-negative bacteria lebih daripada penicillin dan aminoglycoside. Tidak efektif terhadap Listeria dan enterococci. Digunakan dalam kombinasi dengan ampicillin.

Pediatric Dose

<7 hari: 50 mg/kg/dose IV/IM q12h
>7 hari: 50 mg/kg/dose IV/IM q8h

Nama Obat

Vancomycin (Lyphocin, Vancocin, Vancoled) – Bakterisidal terhadap kebanyakan coccus dan basil gram-positif maupun anaerob.Penting khususnya untuk terapi MRSA. Direkomendasikan bila sepsis dicurigai disebabkan oleh coagulase-negative staphylococcal. Terapi dengan rifampin, gentamycin, or cephalothin dilakukan pada endokarditis atau infeksi CSF shunt oleh coagulase-negative staphylococcus.

Pediatric Dose

<1 month:
<1200 g: 15 mg/kg/dose IV qd
1200-2000 g: 10 mg/kg/dose IV q12h
>2000 g: 10 mg/kg/dose IV q8h

Drug Name

Metronidazole (Flagyl) -- Antimicrobial yang efektif melawan infeksi anaerob, terutama meningitis oleh Bacteroides fragilis.

Pediatric Dose

<4 minggu dan <1200 g: 7.5 mg/kg/dose PO/IV q2d
<7 hari dan 1200-2000 g: 7.5 mg PO/IV qd
<7>2000 g: 7.5 mg/kg PO/IV q12h
>7 hari dan 1200-2000 g: 7.5 mg/kg PO/IV q12h
>7 hari dan >2000 g: 15 mg/kg/dose q12h

Nama obat

Erythromycin (E-Mycin, Erythrocin) – Macrolide antimicrobial agent terutama bersifat bacteriostatik dan aktif melawan kebanyakan bakteri Gram-positif, seperti Neisseria species, Mycoplasma pneumoniae, Ureaplasma urealyticum, dan Chlamydia trachomatis. Tidak terkonsentrasi dengan baik di LCS.

Dosis Pediatrik

<7 hari dan <2000 g: 5 mg/kg/dose PO/IV/IM q12h
<7>2000 g: 5 mg/kg/dose PO/IV/IM q8h
>7 hari dan <1200 g: 5 mg/kg PO/IV/IM q12h
>7 hari dan >1200 g: 10 mg/kg PO/IV/IM q8h

Nama Obat

Piperacillin (Pipracil) -- Suatu acylampicillin dengan aktivitas yang baik melawan Pseudomonas aeruginosa. Efektif melawan Klebsiella pneumonia, Proteus mirabilis, B fragilis, S marcescens, dan kebanyakan strain Enterobacter. Tersedia dalam bentuk kombinasi dengan aminoglikosida.

Pediatric Dose

<7 hari dan 1200-2000 g: 75 mg/kg IV/IM q12h
<7>2000 g: 75 mg/kg IV/IM q8h
>7 hari dan 1200-2000 g: 75 mg/kg IV/IM q8h
>7 hari dan >2000 g: 75 mg/kg/dose IV/IM q6h

Kategori Obat: Antiviral – Infeksi viral seperti HSV, dapat menyerupai sepsis bakterialis. Pada onset infeksi, terapi harus langsung diberikan untuk mencegah replikasi virus.

Nama obat

Acyclovir (Zovirax) – Digunakan untuk infeksi mukosa, kutan, dan sistemik oleh HSV-1 and HSV-2.

Dosis Pediatrik

1500 mg/m2/hari PO/IV dibagi q8h atau

30 mg/kg/hari PO/IV dibagi q8h selama 14-21 hari;

dosis 45-60 mg/kg/hari dibagi q8h digunakan untuk bayi aterm.

Bayi prematur: 20 mg/kg/hari PO/IV dibagi q12h selama 14-21 hari.

Nama Obat

Zidovudine (Retrovir) – Analog thymidine, menginhibisi replikasi virus. Dipakai pada terapi penderita HIV.

Dosis Pediatrik

3 bulan – 12 tahun: 90-180 mg/m2/dosis PO q6h; max: 200 mg q6h
0.5-1.8 mg/kg/jam (continuous IV); atau 100 mg/m2/dosis (intermittent IV q6h)

Kategori obat: Antifungi – Infeksi fungi dapat menyerupai infeksi bacterial dan/atau dapat muncul pada terapi antibacterial yang lama. Mekanismenya dapat mencakup perubahan metabolisme RNA dan DNA atau akumulasi peroksida yang sangat toksik pada sel fungi.

Nama Obat

Fluconazole (Diflucan) – Digunakan untuk infeksi jamur, termasuk candidiasis orofaringeal, esophageal, dan vaginal. Juga digunakan untuk infeksi kandida sistemik dan meningitis krooptokokal. Aktivitasnya bersifat fungistatik. Merupakan antifungal oral sintetik (broad-spectrum bistriazole) yang menginhibisi fungal secara selektif (CYP450 dan sterol C-14 alpha-demethylation), yang mencegah konversi which prevents conversion lanosterol menjadi ergosterol, sehingga dengan demikian mengganggu membrane sel.

Dosis Pediatrik

0-14 hari : Oropharyngeal Candidiasis : 6 mg/kg PO/IV initial dose; setelah 3 hari, 3 mg/kg q3d (total 14 hari).
Esophageal candidiasis: 6 mg/kg PO/IV initial dose, kemudian 6-12 mg/kg q3d selama 21 hari.
Systemic candidiasis: 6-12 mg/kg/dose PO/IV q3d selam 28 hari.
Dosis neonatus dan bayi, sama. Diberikan tiap hari.

Untuk meningitis kriptokokal akut, dosis inisial ditingkatkan menjadi 12 mg/kg, dan 6-12 mg/kg/dose diberikan selama 10-12 minggu setelah kultur LCS negative.

Nama Obat

Amphotericin B (Amphocin, Fungizone) – digunakan untuk mengobati infeksi sistemik dan meningitis yang disebabkan oleh beberapa jenis jamur seperti Candida dan Aspergillus species, Histoplasma capsulatum, dan Cryptococcus neoformans. Antibiotik polyeneyang diproduksi oleh strain Streptomyces nodosus; dapat bersifatfungistatik satau fungisidal. Berikatan dengan sterols, seperti ergosterol, di dalam membrane sel jamur. Hal ini menyebabkan kebocoran komponen intraselular dan akhirnya kematian sel jamur tersebut.

Dosis Pediatrik

Dosis percobaan: 0.1 mg/kg/dose IV; max: 1 mg/dose melalui infuse selama 20-60 menit atau 0.25 mg/kg melalui infuse selama 6 jam; bila dapat ditolerasi, diberikan 0.25 mg/kg/hari; dosis ditingkatkan secara bertahap sebanyak 0.25mg/kg/hari. Peningkatan ini dilakukan sampai dicapai dosis harian yang diinginkan.
Dosis pemeliharaan: 0.25-1 mg/kg/hari IV qd melalui infus selama 4-6 jam; total dosis yang diberikan: 30-35 mg/kg selama 6 minggu.

3.7. Follow up

Untuk pasien yang akan berobat jalan:

  • Tenaga kesehatan sebaiknya mengikuti perkembangan bayi dalam satu minggu setelah keluar dari rumah sakit. Bayi dapat dievaluasi akan kemungkinan terjadinya superinfeksi yang disebabkan oleh lamanya pemakaian antibiotik. Menentukan apakah jenis makanan serta aktivitas dapat kembali normal. Penekanan pada keluarga akan pentingnya pemberian imunisasi pada anaknya.

Untuk pasien yang akan dipindahkan:

  • Bayi dapat dipindahkan ke perinatal center level III, khususnya bayi tersebut membutuhkan bantuan kardiopulmoner dan/atau nutrisi parenteral.
  • Pelayanan multidisiplin diperlukan dalam perawatan acute compromised neonatus.

3.8. Pencegahan

Pemeriksaan obstetrik yang baik merupakan salah satu strategi dalam pengelolaan penyakit GBS onset dini. Sebaiknya dilakukan perawatan terhadap ibu hamil dengan GBS bakteriuria saat terdiagnosis dan saat melahirkan. Demikian pula dengan wanita yang pada kehamilan sebelumnya melahirkan bayi dengan penyakit GBS. Klinisi sebaiknya menggunakan strategi terapi berdasarkan skrining terhadap ibu atau strategi perdasarkan adanya faktor-faktor resiko intrapartum untuk meminimalisasikan terjadinya penyakit GBS onset dini.

3.9. Komplikasi

Pada bayi dengan meningitis dapat terjadi hidrosefalus dan/atau periventrikular leukomalasia. Selain itu juga dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan penggunaan aminoglikosida, seperti gangguan pendengaran dan/atau nefrotoksisitas.

3.10. Prognosis

Dengan diagnosis dini dan terapi yang baik, bayi umumnya tidak akan mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan sepsis dalam jangka waktu yang lama. Namun demikian, bila tanda awal dan/atau faktor-faktor resiko terlewatkan, maka mortalitas dapat meningkat. Sequelle kerusakan neurologis terjadi pada 15-30% neonatus yang mengalami sepsis.

BAB IV

KESIMPULAN

Perkembangan tentang patofisiologi sepsis telah banyak terjadi dalam dekade terakhir. Sebelumnya, sepsis hanya dipandang sebagai suatu proses gangguan inflamasi. Penelitian baru menunjukkan bahwa faktor-faktor hematologis yang kompleks, termasuk aktivasi koagulasi dan gangguan fibrinolisis, membentuk protrombotik sebagai hasil dari abnormalitas endotel serta disfungsi organ yang diinduksi karena terjadinya sepsis.

Bukti terbaru menunjukkan bahwa walaupun fakta tentang immaturitas perkembangan system immune dan hematologi bayi adalah benar, secara garis besarnya patofisiologi sepsis antara bayi dan dewasa adalah sama-sama didasarkan pada inflamasi, koagulasi, dan supresi terhadap proses fibrinolisis yang kemudian berujung pada kegagalan organ.

Sepsis pada neonatus merupakan hal penting dan berakibat fatal bila tidak terdeteksi sehingga tidak mendapatkan pengelolaan yang baik. Pada beberapa kasus, gejala sepsis pada neonatus tidak tampak jelas. Hal ini menjadi tantangan pada klinisi intuk dapat mendiagnosis dini akan adanya sepsis dengan secara cermat mencari adanya tanda awal atau pun faktor-faktor resiko yang mungkin ada dan dapat menyebabkan terjadinya sepsis pada neonatus.


DAFTAR PUSTAKA

Behrman R. E., Kliegman R.M., Jenson H.B. 2003. Nelson textbook of pediatrics. 17th ed. China: Saunders.

Hay Jr W.W., Hayward A. R., Levin M. J., Sondheimer J.M. 2003. A LANGE medical book CURRENT pediatric diagnosis & treatment. 16th ed. Boston: McGRAW-HILL.

Rudolph A.M., Kamei R.K., Overby K.J. 2002. Rudolph’s fundamental of pediatrics. 3rd ed. New York: McGRAW-HILL Medical Publishing Division.

http://www.emedicine.com Neonatal Sepsis. 2004.

http://www.medscape.com/viewarticle/493246 Linking the Sepsis Triad of Inflammation, Coagulation, and Suppressed Fibrinolysis to Infants. 2004.

http://www.fpnotebook.com/OB7.htm Neonatal sepsis. 2005.

SILAHKAN DINIKMATI, BUKAN BUATAN SENDIRI, HANYA ARSIP DARI SENIOR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar