Kamis, 15 Juli 2010

REFERAT FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG ANAK

SMF ILMU PENYAKIT ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN

2009


BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan tumbuh kembang pada masa anak-anak akan berdampak fatal bagi status kesehatan anak sampai dewasa. Pertumbuhan adalah hasil dari efek yang rumit paduan jaringan dari banyak faktor dengan berbagai interaksi. Setiap individu memiliki dasar genetika pasti dengan potensi pertumbuhan, yang dimodulasi oleh faktor-faktor ini baik dalam periode prenatal maupun postnatal. Pertumbuhan optimal hanya dapat dicapai apabila semua faktor beroperasi secara harmoni. Pertumbuhan postnatal ini ditentukan oleh faktor herediter, panjang neonatus yang telah dicapai saat prenatal, dan faktor lingkungan saat anak dalam masa pertumbuhan postnatal.8,12

Bagan 1.1 Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan postnatal8

Pada bagan tersebut dapat dilihat bahwa pertumbuhan postnatal dipengaruhi oleh pertumbuhan prenatal janin itu sendiri, genetik, psikososial, musim, aktivitas fisik anak, urbanisasi, sosial ekonomi, dan nutrisi. Pada banyak negara, kondisi lingkungan seperti halnya ketidaksempurnaan dalam ekspresi komponen herediter, dan hal ini dapat mempengaruhi pada pertumbuhan prenatal dan post natal. 8

Pada referat ini, akan dibahas berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dimulai dari pada masa prenatal sampai postnatal. 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Pertumbuhan adalah peningkatan ukuran yang terjadi dalam masa bayi dan anak-anak, kecepatan pertumbuhan bervariasi antara organ yang satu dengan yang lain; sebagai contoh pertumbuhan otak tercepat dalam tahun pertama kehidupan, melambat progresif dengan bertambahnya umur. Menurut Pedoman Diagnosis Ilmu Kesehatan Anak batasan dari pertumbuhan adalah setiap perubahan dari tubuh yang berhubungan dengan bertambahnya ukuran tubuh baik fisik (anatomis) maupun struktural dalam arti sebagian atau menyeluruh. 2,5

Perkembangan ialah bertambah kompleksnya fungsi organ, fisik, mental, psikososial, adanya proses perubahan, diferensiasi dan maturasi. Sehingga seseorang dapat menjaga kelangsungan hidupnya, berkomunikasi, berinteraksi, bersosialisasi, secara harmonis dengan lingkungan hidupnya. Istilah Perkembangan meliputi pertumbuhan fisik, maupun pematangan fungsi, emosi dan perilaku sosial. Menurut Pedoman Diagnosis Ilmu Kesehatan Anak batasan dari perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill), struktur, dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. 2,5,11

Perkembangan ialah suatu tingkatan individu dari kemampuan fungsi anak sebagai hasil maturasi dari sistem saraf dan reaksi psikologi, yang tidak hanya ditentukan dari genetik (nature) dan lingkungan sendiri-sendiri (nurture), namun ditentukan dari kombinasi antara keduanya. Tinggi badan ialah fungsi dari pengaruh genetik (biologis), kebiasaan makan (psikologis), dan cara mendapatkan makanan bergizi (sosial).1

Penelitian menemukan ada pengaruh pengalaman awal terhadap perkembangan otak sehingga diketahui adanya interaksi antara nature dan nurture. Otak mempunyai 100 milyar saraf saat lahir, dan setiap neuronnya berkembang kurang lebih 15000 sinaps saat usia 3 tahun. Jumlah dari sinap tetap konstan sampai dekade pertama, namun jumlah neuron menurun. Walaupun, pengalaman (nurture) mempunyai efek langsung dalam isi fisik otak (nature). Anak dengan bakat berbeda dan watak (nature) juga mendatangkan stimulus yang berbeda dari lingkungannya (nurture). 1

Pengalaman awal adalah penting karena proses belajar lebih efisien selama pembentukan sinaps. Trauma juga dapat membuat perubahan kronis dalam sistem neurotransmiter dan endokrin yang memudahkan respon stress, dengan efek yang dapat muncul kemudian. Namun pengalaman, baik positif atau negatif, jarang menentukan hasil akhir. Perkembangan otak berlanjut sampai remaja, dengan perkembangan korteks prefrontal, yang sangat penting dalam membuat keputusan, merencanakan masa depan, dan kontrol emosi. 1

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:6,7,8

1. Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak

1. Ras/etnik atau bangsa

2. Keluarga

3. Umur

4. Jenis kelamin

5. Genetik

6. Kelainan kromosom

2. Faktor luar (eksternal) atau lingkungan

Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang cukup baik akan memungkan tercapainya potensi bawaa, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan ini merupakan lingkunagn “bio-fisiko-psiko-sosial” yang mempengaruhi individu setiaphari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.6

Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagai menjadi:

a. Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (Faktor Prenatal).

a. Gizi ibu hamil

b. Mekanis

c. Toksin/zat kimia

d. Endokrin

e. Radiasi

f. Infeksi

g. Kelainan imunologi

i. Psikologi ibu

Bagan 2.1 Pengaruh Lingkungan Terhadap Tumbuh Kembang Anak6

b. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (Faktor Postnatal)

1. Lingkungan biologis

a. Ras /suku bangsa

b. Jenis kelamin

c. Umur

d. Nutrisi

e. Perawatan kesehatan

f. Kepekaan terhadap penyakit

g. Penyakit kronis

h. Fungsi metabolisme

i. Hormon

j. Obat-Obatan

2 Faktor Fisis

a. Cuaca, Musim , Keadaan Geografis Suatu Daerah

b. Sanitasi

c. Keadaan Rumah: Struktur Bangunan, Cahaya, dan Kepadatan Hunian

d. Radiasi

3. Faktor psikososial antara lain:

a. Stimulasi

b. Motivasi Belajar

c. Ganjaran atau Hukuman yang Wajar

d. Kelompok Sebaya

e. Stres

f. Sekolah

g. Cinta dan Kasih Sayang

h. Kualitas Interaksi Anak dan Orang Tua

4. Faktor Keluarga Adat dan Istiadat

a. Pekerjaan Atau Pendapat Keluarga

b. Pendidikan Ayah/Ibu

c. Jumlah Saudara

d. Jenis Kelamin dan Keluarga

e. Stabilitas Rumah Tangga

f. Kepribadian Ayah/Ibu

g. Adat Istiadat, Norma-Norma, Tabu-Tabu

h. Agama

i. Urbanisasi

j. Kehidupan Politik dalam Masyarakat yang Mempengaruhi Prioritas Kepentingan Anak, Anggaran, dan lain-lain.

Ismael (dikutip dari Mojona, 1993) mengungkapkan kerangka konseptual dalam tumbuh kembang anak. Pada model tersebut ekosistem dibagi menjadi mikro, mini, meso dan makro yang mengacu terhadap keterdekatan dan pelangsungan masing-masing terhadap tumbuh kembang anak. Pada model tersebut juga dijabarkan kebutuhan anak pada asuh, asih, dan asah.

Bagan 2.2 Diagram Kerangka Konseptual Tumbuh Kembang Anak6

2.3 Faktor Internal

Ras/Etnik atau Bangsa dan Keluarga

Faktor keturunan/bawaan menentukan cepatnya pertumbuhan, bentuk janin, diferensiasi, dan fungsi organ-organ yang dibentuk. 3

Faktor Genetik

Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan percepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang. Termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagi faktor bawaan yang normal dan patologi, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa. Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.

Ganguan pertumbuhan di negara maju lebih sering diakibatkan oleh faktor genetik ini. Sedangkan di negara yang sedang berkembang, ganguan pertumbuhan selain diakibatkan oleh faktor genetik, juga faktor lingkungan yang kurang memadai untuk tumbuh kembang anak yang optimal, bahkan kedua faktor ini dapat menyebabkan kematian anak-anak sebelum mencapai usia balita.6

Disamping itu banyak penyakit keturunan yang disebabkan oleh kelainan kromosom, seperti sindrom Down, sindrom turner, dll. Sudah diketahui bahwa tinggi orangtua memiliki pengaruh kepada tinggi pada anak-anaknya. Namun, hubungan ketinggian antara bayi dan orang tua adalah tidak berhubungan saat lahir, tetapi menjadi lebih jelas ke arah umur 2 (dua) tahun, dan itu yang menjadi korelasi lebih besar dengan meningkatnya umur. Penelitian the Louisville Twin mengkaji data secara longitudinal tinggi dari saat lahir sampai dewasa pada keluarga kembar, dan dari hal ini diperkirakan bahwa faktor hediter menyumbang 90% atau lebih dari faktor-faktor yang ditentukan tinggi dari usia 6 tahun dan setelahnya. Para peneliti mengamati korelasi yang substansial dan konstan antara tinggi anak-anak dan orang tuanya dari umur 3 tahun dan seterusnya. Kembar Monozygot, identik dengan komposisi genetik, memiliki lebih besar perbedaan ketinggian terakhir. Namun, perbedaan ini kurang dari perbedaan antara kembar dizygot. Perbedaan ketinggian dari kembar monozygoti mungkin disebabkan oleh faktor lingkungan. 8

Proporsi tubuh mungkin juga dipengaruhi genetik kontrol. Dalam istilah relatif, Australian Aborigines dan Afrika di Ibadan memiliki kaki yang panjang. Selama tahap pertumbuhan,orang yang mendapat kaki panjang dibandingkan dengan orang untuk memperoleh total kaki yang panjang dapat berbeda di berbagai populasi. Sebagai contoh, Cina anak-anak di usia muda yang relatif panjang kaki, tetapi karena mereka menjadi lebih tinggi mereka mendapatkan kaki yang kurang panjang per unit dari panjang saat duduk daripada anak-anak London. Dengan pencampuran ras kedua orang tua, memproduksi anak-anak dengan tinggi badan dan proporsi populasi yang intermediete antara orang tua. 8

Faktor Biologi

Penyakit herediter dan aberasi kromosom dapat mempengaruhi proses pertumbuhan, biasanya menggunakan pengaruh yang bersifat menekan. Turner's syndrome (karyotype 45, XO), kelainan X chromosomal lainnya, dan sindrome Klinefelter's syndrome dikenal adalah penyakit yang berkaitan dengan pendek atau panjang ketinggian seseorang. Walaupun banyak perkembangan baru dalam terapi endokrin seperti pengobatan growth hormone untuk Turner's syndrome, sangat sulit untuk memanipulasi secara genetik karakteristik pertumbuhan yang sudah terjadi. 8

Pengaruh biologi dalam perkembangan termasuk genetik, teratogen saat masih intrauterus, penyakit post natal, terkena zat berbahaya, dan maturasi. Penyakit kronis dapat mempengaruhi tumbuh kembang, baik secara langsung atau melalui perubahan dalam nutrisi, asuhan orang tua, atau interaksi antar teman. 1

Kemunduran dalam tingkat pertumbuhan dan kebutuhan tidur sekitar usia 2 (dua) tahun sering menghasilkan masalah dalam nafsu makan dan keengganan untuk istirahat. Walaupun mungkin untuk mempercepat peristiwa luar biasa dalam perkembangan (seperti latihan toilet pada usia 12 bulan atau mengajari anak 3 tahun untuk membaca), manfaat jangka panjang seperti pubertas dini masih dipertanyakan. 1

Pengaruh biologi terhadap kepentingan klinis khusus ialah temperamen atau watak. Watak berkaitan dengan karakteristik respon perilaku terhadap rangsangan internal dan eksternal. Watak yang stabil meningkat sampai anak menginjak usia pertengahan anak-anak. 1

Konsep watak berguna secara klinis dalam 2 (dua) cara. Pertama, dapat menolong orangtua mengerti dan menerima karakter dari anak mereka. Anak yang sulit diatur dapat mempunyai masalah perilaku ketika akan lahir bayi baru dalam keluarga atau saat akan masuk sekolah. Kedua, menunjuk keluar watak anak supaya diatur dalam pengasuhan, seperti dapat terjadinya masalah perilaku dan emosi ketika terjadi konflik antara orang tua dan anak. 1

2.4 Faktor Eksternal atau Lingkungan

2.4.1 Faktor Prenatal

Kehamilan merupakan periode persiapan mental untuk menghadapi tuntutan-tuntutan yang besar dalam menjaga dan membesarkan bayi. Sebagian besar ibu mengalami 2 (dua) perasaan besar yang bertentangan terutama sekali (tetapi tidak selalu) jika kehamilannya tidak direncanakan. Jika ada kekhawatiran finansial, ketidak sehatan fisik, keguguran sebelumnya atau kelahiran mati atau krisis-krisis lain yang mengganggu arah dua persaan yang bertentangan tersebut, neonatus mungkin lahir sebagai tamu yang tidak diundang. Untuk ibu-ibu remaja, tuntutan ini akan dapat menghilangkan agenda perkembangannya sendiri (seperti, kebutuhan dalam bersosialisasi aktif) dapat merupakan beban yang cukup berat.1

Pengalaman awal sebagai seorang ibu dapat menimbulkan harapan secara tidak sadar tentang hubungan mengasuh bayi, atau model-model kerja internal, yang memungkinkan para ibu “mendengarkan” bayi mereka. Penelitian yang menggunakan wawancara semistruktur telah menghubungkan kuantitas model internal ini, dinilai selama masa hamil, dengan kuantitas interaksi lambat antara bayi dan orang tua. Ibu yang pada masa kecilnya telah ditandai dengan trauma perpisahan, penyiksaan atau ditelantarkan terutama dapat menemukan kesulitan dalam melakukan perawatan yang konsisten dan responsif. Para ibu ini mungkin melakukan hal yang sama dengan pengalaman masa kecilnya terhadap bayinya sendiri seperti seolah-olah mereka tidak dapat memahami cara lain dalam berhubungan antar ibu dan anak. Dukungan sosial selama masa kehamilan juga penting. Hubungan yang mendukung dari ayah bayi tersebut diperkirakan akan menghasilkan perawatan yang memuaskan dari sang ibu. Sebaliknya, konflik atau ditinggalkan oleh sang ayah semasa kehamilan dapat merusak kemampuan sang ibu untuk terpikat pada anaknya. Setelah persalinan, pengharapan untuk kembali bekerja dapat membuat pelaksanaan tugas yang ada lebih sulit. Tanggungan 6 bulan dari kantor dapat menolong, walaupun karir dan tekanan finansial sering mendorong untuk bekerja lebih awal. 1

Janin tidak dapat berkembang secara optimal di lingkungan dengan kondisi kurang. Berat badan yang didapat adalah parameter yang dipengaruhi, tetapi setelah lama keadaan inadekuat tidak ditanggulangi ketinggian juga akan terkena dampak negatif. Kondisi lingkungan berpengaruh sekitar 60% dari variabilitas berat badan lahir dan sebanyak 40% sisanya faktor genetik. Faktor Lingkungan seperti antara lain, termasuk umur ibu, urutan kelahiran, dan kerumunan di dalam uterus. Ibu primipara lebih tua dari usia 38 atau lebih muda dari 20 tahun memiliki peningkatan risiko melahirkan bayi small for date. Kelahiran bayi yang pertama memiliki berat sekitar 100 g kurang dari bayi yang kedua atau ketiga, dan dalam beberapa kehamilan berat masing-masing janin setelah 30 minggu kehamilan kurang dari fetus kehamilan tunggal. Efek yang menghambat terhadap pertumbuhan janin juga dipengaruhi oleh penyakit pada ibu, malnutrisi, terapeutik (penggunaan obat), alkohol dan obat-obatan adiksi lainnya dan merokok. 8

Keturunan ibu dengan insulin-dependent diabetes telah diketahui lebih besar pada pengaruhnya terhadap kelainan kongenital bawaan, dan insidensi abnormalitas berkaitan dengan kontrol gula darah yang buruk dalam waktu tiga bulan pertama. Penting untuk memastikan diabetes secara dini sehingga kadar gula darah yang normal, insulin dan keton dapat dipelihara untuk mencegah terjadinya kelainan kongenital. Obat-obatan antihipertensi dan antikonvulsan khususnya obat untuk mengontrol kadar terapeutik dapat mengganggu pertumbuhan dan morfologi janin. Alkohol, adiksi obat, dan merokok mempunyai efek yang parah terhadap tinggi dan berat bayi, dan merokok diketahui meningkatkan risiko kelahiran prematur. Mekanisme yang muncul yaitu ibu menjadi kekurangan gizi dan kekurangan dari unsur penting dan disfugsi placenta selain itu juga terjadi efek langsung yang toksik pada janin. Adiksi alcohol juga meningkatkan insidensi terjadinya kelainan kongenital. 8

Iklim juga memiliki efek pada berat lahir. Bayi yang lahir di daerah pegunungan di Peru rata-rata memiliki timbangan 1500 gram kurang dari bayi baru dari Lima. Lingkungan sosial ekonomi yang baik pada negara-negara berkembang masih mengalami perubahan, dan wanita modern mempunyai kesempatan kerja seperti laki-laki. Selama 1 (satu) dekade lebih, informasi-informasi akan dikumpulkan tentang faktor yang mungkin seperti toksin dan kerja, yang mungkin dapat memberikan pengaruh pada lingkungan pertumbuhan janin. Efek prenatal dari berat dan tinggi badan dapat menghilang saat postnatal. Kejar pertumbuhan sehubungan dengan tinggi badan terjadi selama masa kanak-kanak, namun ini masih tidak lengkap, dan tinggi badan terakhir mungkin saja sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor prenatal. 8

Faktor-faktor prenatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin antara lain :

1. Gizi ibu pada waktu hamil.

Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR ( berat badan lahir rendah) atau lahir mati jarang menyebabkan cacat bawaan. Disamping itu dapat pula menyebabkan hambatan pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus, dan sebagainya.6

Anak yang lahir dari ibu yang gizinya kurang dan hidup di lingkungan miskin maka akan mengalami kurang gizi juga dan mudah terkena infeksi dan selanjutnya akan menghasilkan wanita dewasa yang berat dan tinggi badannya kurang pula. Keadaan ini merupakan lingkungan setan yang akan berulang dari generasi ke generasi selama kemiskinan tersebut tidak ditanggulangi. 6

Malnutrisi masih menjadi masalah di seluruh dunia. Pertumbuhan janin dihambat oleh nutrisi ibu selama hamil seperti kekurangan protein, kalori, atau mineral. Terlebih lagi, kekurangan gizi dapat mengurangi perkembangan otak janin. 8

Demi suksesnya kehamilan keadaan gizi ibu pada waktu konsepsi harus dalam keadaan baik, dan selama hamil dapat mendapat tambahan protein, mineral seperti besi dan kalsium, vitamin asam folik, dan vitamin-vitamin lain, serta energi. Tambahan ini dapat dilakukan dengan minum sedikitnya setengah liter susu setiap harinya, lebih banyak makan daging, telur dan kacang-kacangan sebagai sumber protein, lebih banyak makan sayuran segar dan buah-buahan untuk mencukupi kebutuhan mineral dan vitamin serta melancarkan buang air besar. 3

Terdapat tiga tahapan pertumbuhan sel-sel dan pembentukan organ, yang pertama menjadi tahap proliferasi sel, diikuti dengan tahap proliferasi seiring dengan hipertrofi, dan tahap ketiga yaitu hipertrofi sendiri. Gangguan pada tahap proliferasi jaringan otak, sebagai contoh, hasil yang lebih rendah pada DNA dan isi protein, yang tidak dapat diubah dari otak. Oleh karena itu, pada tahap awal selama malnutrisi terjadi, masalah yang lebih serius adalah kurangnya pertumbuhan otak. Hal ini menjelaskan mengapa janin malnutrisi dapat menjadikan gangguan jangka panjang pada anak. Sejak perkembangan otak postpartum juga jelas bahwa kekurangan gizi juga dapat mempengaruhi otak pada masa postpartum. 8

2. Mekanik

Trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan. Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital seperti club foot Demikian pula dengan posisi janin pada uterus dapat mengakibatkan talipes, dislokasi panggul, tortikolis congenital, palsi fasialis, atau kranio tabes. 6.

3. Toksin/zat kimia.

Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obatan seperti thalidomide, phenitoin, methadion, obat-obat anti kanker, dan lain sebagainya dapat menyebabkan kelainan bawaan. Demikian pula dengan ibu hamil yang perokok berat/peminum alcohol kronis sering melahirkan bayi berat badan lahir rendah, lahir mati, cacat, atau retardasi mental. 6

Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin, Thalidomid dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.7

Keracunan logam berat pada ibu hamil, misalnya karena makan ikan yang terkontaminasi merkuri dapat menyebabkan mikrosefali dan palsi serebralis, seperti di Jepang yang dikenal dengan penyakit Minamata. 6

4. Endokrin.

Hormon-hormon yang mungkin berperan sebagai pada pertumbuhan janin, adalah somatotropin, hormon plasenta, hormone tiroid, insulin dan peptida-peptida lain dengan aktivitas mirip insulin (insulin-like growth faktor/IGFs) 6

Somatropin (growth hormone) disekresi oleh kelenjar hipofisis janin sekitar minggu ke-9. Produksinya terus meningkat sampai minggu ke-20, selanjutnya menetap sampai lahir. Perannya belum jelas pada pertumbuhan janin. 6

Hormon plasenta (human placental tactogen = hormone chorionic somatromammotropic), disekresi oleh plasenta di pihak ibu tidaj dapat masuk ke janin. Kegunaannya mungkin dalam fungsi nutrisi plasenta.

Hormon-hormon tiroid seperti THR (Thyroid Releasing Hormon), TSH (Thyroid Stimulating Hormon), T3 dan T4 sudah diproduksi oleh janin sejak minggu ke-12. Pengaturan oleh hipofisis sudah trjadi pada minggu ke-13. Kadar hormon ini makin meningkat sampai minggu ke-24, lalu konstan. Perannya belum jelas, tetapi jika terdapat defisiensi hormon tersebut, dapat terjadi gangguan pada pertumbuhan susunan saraf pusat yang dapat mengkibatkan reterdasi mental. 6

Insulin mulai diproduksi oleh janin pada minggu ke-11, lalu meningkat sampai bulan ke-6 dan kemudian konstan. Berfungsi untuk pertumbuhan janin melalui pengaturan keseimbangan glukosa darah, sintesis protein janin, dan pengaruhnya pada pembesaran sel sedudah minggu ke-30. Sedangkan fungsi IGFs pada janin belum diketahui dengan jelas. 6

Cacat bawaan sering terjadi pada ibu diabetes yang hamil dan tidak mendapat pengobatan pada trimester I kehamilan, umur ibu kurang dari 18 tahun/lebih dari 35 tahun, defisiensi yodium pada waktu hamil, PKU (phenylketonuria), dll. 6

5. Radiasi

Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya. Misalnya pada peristiwa di Hirosima, Nagasaki, dan Chernobyl. Sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki, dapat mengakibatkan cacat bawaan pada anaknya. Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongential mata, kelainan jantung.6,7

6. Infeksi

Infeksi intrauterine yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH (Toxoplasmosis, Rubella,Cytomegalovirus, Herpes Simplex). Sedangkan infeksi lainnya juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, Coxsakie, Echovirus, malaria, lues, HIV, polio, campak, listeriosis, leptospira, mikroplasma, virus influenza, dan virus hepatitis. Diduga setiap hiperpireksia pada ibu hamil dapat merusak janin. 6

7. Stres

Stres yang dialami ibu hamil pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan jiwa, dan lain-lain. 6

8. Imunitas

Rhesus atau ABO inkompatibilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati. Eritroblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan Kern icterus yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.6,7

9. Anoksia embrio

Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, menyebabkan berat badan lahir rendah.

2.4.2 Faktor Postnatal

Bayi baru lahir harus berhasil melalui masa transisi. Dari suatu sistem yang teratur yang sebagian besar tergantung pada organ-organ ibunya, ke suatu sistem yang tergantung pada kemampuan genetik dan mekanisme homeotastik bayi itu sendiri. 6

Perbedaan lingkungan sebelum dan sesudah anak lahir adalah sebagai berikut (menurut Timiras, dikutip dari Johnston 1986). 6

Sebelum lahir

Sesudah lahir

1. Lingkungan fisik

2. Suhu luar

3. Stimulasi sensris

4. Gizi

5. Penyediaan oksigen

6. Pengeluaran hasil metabolisme

Cairan

Pada umumnya tetap

Terutama kineastetik atau vibrasi

Tergantung pada zat-zat gizi yang terdapat dalam darah ibu

Berasal dari ibu ke janin melalui plasenta

Dikeluarkan ke sistem peradaran darah ibu

Udara

Berubah-ubah

Bermacam-macam stimuli

Tergantung pada tersedianya bahan makanan dan kemampuan saluran cerna

Berasal dari paru-paru ke pembuluh darah paru-paru

Dikeluarkan melaui paru-paru, ginjal, dan saluran pencernaan.

Tabel 2.1 Perbedaan intra dan ekstra uterin

Masa prenatal yaitu masa antara 28 minggu dalam kandungan sampai 7 hari setelah dilahirkan, merupakan masa rawan dalam proses tumbuh kembang anak khususnya tumbuh kembang otak. Trauma kepala akibat persalinan akan berpengaruh besar dan meninggalkan cacat yang permanen. Risiko palsi serebralis lebih besar pada BBLR ( Berat Badan Lahir Rendah) yang disertai asfiksia berat, hiperbilirubinemi yang disertai kern ikterus, IRDS (Idiophatic Respiratory Distress Syndrome, asidosis metabolic, dan meningitis/ensefalitis. 6

Dalam tumbuh kembang anak tidak sedikit peranan ibu dalam ekologi anak, yaitu peran ibu sebagai “ para genetik faktor” yaitu pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh psikobiologisnya terhadap pertumbuhan post natal dan perkembngan kepribadian. Disamping itu pemberian ASI/menyusui adalah periode ekstragestasi dengan payudara sebagai “plasenta eksternal”, karena payudara menggantikan fungsi plasenta tidak hanya dalam memberikan memberikan nutrisi bagi bayi, tetapi juga sangat mempunyai arti dalam perkembangan anak karena seolah-olah hubungan anak-ibu tidak terputus begitu dia dilahirkan ke dunia. Demikian pula dengan memberikan ASI sedini mungkin setelah bayi lahir, merupakan stimulasi dini terhadap tumbuh kembang anak. Interaksi timbal balik antar ibu dan anak yang terjadi pada proses menyusui dapat digambarkan sebagai berikut: 6

Didalam interaksi timbal balik antara ibu dan anak tersebut terdapat keuntungan yang timbal balik pula. Keuntungan untuk bayi selain nilai gizi ASI yang tinggi, juga adanya zat anti pada ASI yang melindungi bayi terhadap berbagai macam infeksi. Disamping itu bayi juga merasakan sentuhan, kata-kata dan tatapan kasih sayang dari ibunya, serta mendapatkan kehangatan yang penting untuk tumbuh kembangnya. Sedangkan keuntungan yang diperoleh ibu, adalah selain menimbulkan perasaan senang dan dibutuhkan oleh bayinya sehingga menimbulkan rasa percaya diri, juga adanya sekresi hormon oksitosin akan mempercepat berhentinya pendarahan setelah melahirkan dan prolaktin akan mencegah terjadinya ovulasi yang mempunyai efek menjarangkan kehamilan. 6

Lingkungan post natal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum dapat digolongkan menjadi:6,8

2.4.2.1 Lingkungan Biologis

1. Ras /suku bangsa

Pertumbuhan somatik juga dipengaruhi oleh ras/suku bangsa. Bangsa kulit putih/ras Eropa mempunyai pertumbuhan somatik lebih tinggi daripada bangsa Asia.6

2. Jenis kelamin

Dikatakan anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan anak perempuan, tetapi belum diketahui secara pasti mengapa demikian. 6

3. Umur

Umur yang paling rawan adalah masa balita, oleh karena pada masa itu anak mudah sakit dan mudah terjadi kurang gizi. Disamping itu masa balita merupakan dasar pembentukan kepribadian anak. Sehingga diperlukan perhatian khusus. 6

4. Nutrisi

Makanan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak, dimana kebutuhan anak berbeda dengan orang dewasa, karena makanan bagi anak dibutuhkan juga untuk pertumbuhan, dimana dipengaruhi oleh ketahanan makanan (food security) keluarga. Ketahanan makanan keluarga mencakup pada ketersediaan makanan dan pembagian yang adil makanan dalam keluarga, dimana kepentingan budaya bertabrakan dengan kepentingan biologis anggota-anggota keluarga. Satu aspek yang penting yang perlu ditambahkan adalah keamanan pangan (food safety) yang mencakup pembebasan makanan dari berbagai “racun” fisika, kimia, dan biologis, yang kian mengancam kesehatan manusia. 6

Gizi dan nutrisi terkandung dalam makanan dan minuman. Makanan bukan saja diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan, melainkan juga bagi pertumbuhan fisik dan mental. Makanan ini didapat bagi seorang manusia bermula dari ketika masih berupa janin. Gizi ibu yang kurang atau buruk pada waktu konsepsi atau sedang hamil muda dapat menyebabkan kematian atau cacat janin. Diferensiasi terjadi pada trimester pertama hidupnya janin, hingga kekurangan zat tertentu yang sangat diperlukan dalam proses diferensiasi dapat menyebabkan tidak terbentuknya suatu organ dengan sempurna, atau tidak dapat berlangsungnya kehidupan janin tersebut. Pertumbuhan cepat terjadi terutama pada trimester akhir kehamilan. Maka kekurangan pada periode tersebut dapat menyebabkan pertumbuhannya, dan bayi dapat dilahirkan dengan keadaan berat dan panjang badan yang kurang. 3

Bagi pertumbuhan bayi yang penting tentunya pemberian makanan yang kualitas maupun kuantitasnya baik sehingga bayi dapat tumbuh normal, tidak terlalu kurus akan tetapi tidak terlalu gemuk pula. Makanan yang ideal harus mengandung cukup bahan bakar dan semua gizi esensial (komponen bahan makanan yang tidak dapat diseintesis tubuh sendiri akan tetapi diperlukan bagi kesehatan dan pertumbuhan) harus dalam jumlah yang cukup pula. Cukup disini artinya sesuai dengan keperluan sehari-harinya. Pemberian makanan yang mengandung energi berlebihan akan membuat anak obesitas, sedangkan zat gizi esensial yang diberikan berlebihan dan dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan penimbunan dan menjadi racun pada tubuh seperti hipervitaminosis A, hipervitaminosis D, hiperkalemia dan sebagainya. Sebaliknya pemberian energi yang kurang akan menghambat pertumbuhan, bahkan akan mengurangi cadangan energi dalam tubuh, hingga terjadi keadaan gizi kurang atau buruk. Sedangkan jika kekurangan gizi esensial menimulakan gejala sesuai dengan zat gizi esensial seperti xeroftalmia bila kekurangan vitamin A, rakitis bila kekurangan vitamin D, dan sebagainya.3

Hasil malnutrisi terhadap kegagalan untuk tumbuh, melibatkan baik berat dan tinggi badan. Peningkatan sekresi growth hormone terjadi pada malnutrisi protein, disebabkan karena mobilisasi dari sisa jaringan lemak. Pada sisi yang lain, tingkat growth hormone menurun pada malnutrisi kalori. Bila malnutrisi diperbaiki, maka anak-anak yang terkena dampak akan segera sembuh, dan jika hal ini terjadi pada usia muda, sebagian besar anak-anak akan mencapai penyembuhan lengkap seperti tinggi dan berat badan yang sama seperti saudara mereka sebelum masa pubertas. Namun, hal ini tidak selalu terjadi, mungkin karena defisit jangka panjang, dan diet di rumah sesuai rumah sakit dapat berperan dalam pemulihan yang tidak komplit, walaupun kekurangan diet di rumah tidak diketahui di sebagian besar studi. 8

Lebih banyak kalori yang diperlukan selama masa remaja. Anorexia nervosa adalah penyakit umum pada anak perempuan remaja, dan kekurangan kalori menghasilkan kurangnya atau tertundanya pertumbuhan remaja. Perubahan endokrin dapat juga timbul tergantung pada buruknya nafsu makan, seperti peningkatan growth hormone yang berhubungan dengan kurangnya gonadotropin dan kadar steroid seks. Ini adalah konsekuensi utama dari kekurangan gizi, tetapi mekanisme sentral dengan efek langsung pada fungsi hypothalamic juga dilibatkan. Sintesis dari neurotransmitters tergantung pada ketersediaan precursors, dan ini mungkin terpengaruh oleh perubahan diet. Perubahan dalam sekresi neurotransmiter modulating hypothalamic dan kelenjar pituitary dapat juga bertanggung jawab sebagian atas perubahan endokrin yang terkait dengan Anorexia nervosa. 8

Pertumbuhan skeletal sangat penting pada proses pertumbuhan, dan berbagai growth hormone yang terlibat memiliki efek pada pertumbuhan maturasi skeletal. Kekurangan gizi menyebabkan perlambatan dan malformasi skeletal. Ketika ada periode pertumbuhan yang terlambat yang disebabkan penyakit atau kekurangan gizi, maka garis demarkasi dapat terlihat pada foto roentgen. 8

Masalah Makan Pada Anak

Hal yang seringkali menjadi masalah ialah bahwa anak tidak mau makan. Pembahasan tentang masalah makan umumnya berkaitan dengan perkembangan keterampilan makan. Pada hakekatnya proses makan merupakan rangkaian proses kegiatan motorik yang kompleks, meliputi proses mengunyah dan menelan. Pada waktu lahir, bayi dibekali berbagai refleks antara lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yaitu refleks hisap, rooting reflex, extrusion reflex dan refleks menelan. Pada perkembangan selanjutnya, mulai timbul keterampilan mengunyah yang memerlukan gerakan lidah ke arah lateral dan memutar, demikian pula dengan mandibula. Keteranpilan ini perlu dibina yaitu dengan memberikan makanan yang lebih padat secara bertahap baik konsistensi, tekstur maupun jumlahnya sesuai usia bayi. Penyebab masalah pada makan anak ialah faktor organik, faktor nutrisi, dan faktor psikologi. 4

Masalah kesulitan makan lebih merupakan masalah klinis individu, sehingga pada tatalaksananyapun bersifat individual bagi masing-masing anak. Pada prinsipnya, tata laksana mencakup 3 (tiga) aspek, yaitu identifikasi faktor penyebab, evaluasi tentang dampak yang telah terjadi dan upaya perbaikan nutrisi dan faktor penyebab. Sehingga berdasarkan ketiga hal tersebut, upaya yang dapat dilakukan adalah : 4

1. Atasi faktor penyebab seperti organik, neuromotor, infeksi, psikologis,dan lainnya)

2. Atasi dampak yang telah terjadi seperti malnutrisi, defisiensi nutrien tertentu, dan lainnya)

3. Upaya nutrisi diperbaiki dengan peningkatan asupan makanan :

a. Secara Umum :

· Variasi menu : perubahan rasa perlu dilakukan agar anak tidak cepat merasa bosan.

· Disajikan dengan penampilan menarik.

· Berikan makanan padat gizi berenergi tinggi sehingga dengan porsi kecilpun kecukupan energi/ nutrisi terpenuhi.

· Biasakan makan teratur dan beri anak makan sewaktu anak merasa lapar.

· Suplementasi vitamin dan mineral.

· Ciptakan suasana sewaktu makan menjadi kegiatan yang menyenangkan.

b. Secara Khusus : pemberian dukungan nutrisi baik nutrisi enteral dan nutrisi parenteral sesuai kondisi anak

4. Re-edukasi tentang perilaku makan pada anak maupun orang tua/keluarga ataupun pengasuh anak.

5. Fisioterapi bagi anak yang mengalami kesulitan mengunyah/menelan baik karena faktor neurologik ataupun karena pembinaan keterampilan makan yang tidak adekuat. 4

Pada kenyataanya, tidak semua masalah makan dapat diatasi dengan mudah karena penyebab yang multifaktorial, sehingga perlu tatalaksana terpadu yang melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti dokter spesialis anak, pencitraan, bedah ortopedi, bedah mulut, dokter gigi, fisioterapi, psikologi/psikiatri, perawat dan ahli gizi/diettisien. 4

5. Perawatan kesehatan

Perawatan kesehatan yang teratur, tidak saja kalau anak sakit, tetapi pemeriksaan kesehatan dan menimbang anak secara rutin setiap bulan, akan menunjang pada tumbuh kembang anak. Oleh karena itu pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan dianjurkan untuk dilakukan secara komprehensif, yang mencakup aspek-spek promotif, prevenrif, kuratif, dan rehabilitative. 6

6. Kepekaan terhadap penyakit

Dengan memberikan imunisasi, maka diharapkan anak terhindar dari penyakit-penyakit yang sering menyebabkan cacat atau kematian. Dianjurkan sebelum anak berumur satu tahun sudah mendapatkan imunisasi BCG, Polio 3 kali, DPT 3 kali. Hepatitis-B 3 kali, dan campak. 6

Disamping itu imunisasi, gizi juga memegang peranan penting dalam kepekaan terhadap penyakit. 6

7. Penyakit kronis

Anak yang menderita penyakit menahun akan terganggu tumbuh kembangnya dan pendidikannya, disamping itu anak juga mengalami stres yang berkepanjangan akibat dari penyakitnya. 6

Pertumbuhan dapat dihambat oleh penyakit yang kronis, dan dalam kasus-kasus kegagalan pertumbuhan yang tidak dapat dijelaskan, pengamatan jangka panjang dapat memperlihatkan kondisi yang kronis seperti "asymptomatic" coeliac disease. Sembuh total dari penyakit kronis memungkinkan pertumbuhan cacth-up, dan hal ini mempunyai 2 (dua) komponen: pertama adalah pemulihan lengkap cepat dicapai sampai tingkat pertumbuhan nilai normal, dan yang kedua adalah pemulihan lambat ke tingkat pertumbuhan lebih, bukan sebagai komponen yang pertama tetapi lebih lama. Hasil lainnya merupakan masa pertumbuan sampai tinggi normal namun membutuhkan waktu yang lebih lama. 8

Beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang antara lain :

Hipotiroid

Gangguan tumbuh kembang pada masa anak-anak akan berdampak fatal bagi status kesehatan anak sampai dewasa. Oleh karena itu, deteksi dini sangat berperan untuk mencegah progresivitas penyakit. Salah satu gangguan tumbuh kembang anak yang dapat dicegah ialah hipotiroid kongenital (HK).12

Penyebab HK terbagi atas disgenesis, dishormonogenesis, dan transient. Disgenesis merupakan penyebab utama pada HK dengan angka kejadian sebesar 80-85%. Keadaan ini diturunkan dan bersifat resesif. ementara itu, pada hipotiroid kongenital transient (insiden 2%), penyakit tiroid pada ibu merupakan penyebab penting. Kelenjar tiroid janin belum berfungsi sampai umur kehamilan 12 minggu, sehingga janin sangat bergantung pada hormon tiroid ibunya. Sebaliknya, yang terjadi pada masa awal kehamilan adalah perkembangan sistem saraf janin. 12

Akibat terlambatnya deteksi HK terjadi penurunan rerata IQ pada penderita. Apabila terapi dimulai pada usia kurang dari 3 bulan rerata IQ adalah 89.Terapi yang dilakukan pada rentang 3 hingga 6 bulan menyebabkan rerata IQ semakin turun ke angka 71 dan setelah usia 6 bulan rerata IQ hanya 54. Diharapkan dengan adanya skrining, lebih banyak penderita HK yang dapat diberi terapi sejak awal. Skrining HK telah dilakukan di berbagai negara, di antaranya adalah Birma, Vietnam, Singapura, dan Malaysia. 12

Sickel Cell Anemia

Penyakit sickel cell anemia merupakan salah satu kelainan gen tunggal yang cukup sering pada laki-laki dan mempunyai distribusi yang luas di berbagai belahan dunia dengan manifestasi klinis yang bervariasi. Isu klinis yang penting dan memerlukan klarifikasi lebih lanjut adalah efek ini abnormal hemoglobin pada pertumbuhan fisik dan perkembangan anak-anak dengan penyakit sickel cell anemia. Dalam salah satu penelitian, ditemukan bahwa anak-anak dengan penyakit sickel cell anemia berada di bawah terpelihara yang telah diketahui secara signifikan dengan nilai rata-rata BMI, lingkar lengan dan ketebalan lipatan kulit yang lebih rendah dibandingkan dengan kontrol normal. Sangat sulit untuk mencari tahu nutrisi yang inadekuat apakah berhubungan dengan diet yang kurang atau absorpsi tubuh yang kurang atau juga dari gangguan pada metabolisme dari individu. Pengamatan serupa telah dilaporkan pada pasien dewasa sel sabit dari Orissa. Rendahnya BMI dengan penyakit sickel cell anemia pada anak-anak dapat disebabkan kurangnya asupan makanan karena nafsu makan yang kurang khususnya pada krisis vasoocclusive.9

8. Fungsi metabolisme

Khusus pada anak, karena adanya perbedaan yang mendasar dalam proses metabolisme pada berbagai umur, maka kebutuhan akan berbagai nutrient harus didasarkan atas perhitungan yang tepat atau setidak-tidaknya memadai. 6

9. Hormon

Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang antara lain adalah “growth hormone”, tiroid, hormon seks, insulin, IGFs (Insulin-like growth factors), dan hormon yang dihasilkan kelenjar adrenal.

- Somatotropin atau “growth hormone” (GH = hormon pertumbuhan)

Merupakan pengatur utama pada pertumbuhan somatik terutama pertumbuhan kerangka. Pertambahan tinggi badan sangat dipengaruhi hormon ini. GH merangsang terbentuknya somatomedin yang kemudian berefek pada tulang rawan. GH mempunyai “circadian variation” dimana aktivitasnya meningkat pada malam hari pada waktu tidur, sesudah makan, sesudah latihan fisik, perubahan kadar gula darah dan sebagainya. 6

- Hormon tiroid

Hormon ini mutlak diperlukan pada tubuh kembang anak, karena mempunyai fungsi pada metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Maturasi tulang juga dibawah pengaruh hormon ini. Demikian pula dengan pertumbuhan dan fungi otak sangat tergantung pada tersedianya hormon tiroid dalam kadar yang cukup. Defisiensi hormon tiroid mengakibatkan retardasi fisik dan mental yang kalau berlangsung lama, dapat menjadi permanen. Sebaliknya pada hipertiroidisme dapat mengakibatkan gangguan pada kardiovaskular, metabolisme, otak, mata, seksual, dll, hormon ini mempunyai interaksi dengan hormone-hormon lain seperti somatotropin.6

- Glukokortikoid

Mempunyai fungsi yang bertentangan dengan somatotropin, tiroksin serta androgen, karena kortison berlebihan akan mengakibatkan pertumbuhan terhambat/terhenti dan terjadinya osteoporosis.6

- Hormon-hormon seks

Terutama mempunyai peranan dalam fertilitas dan reproduksi. Pada permulaan purbertas, hormon seks memacu pertumbuhan badan, tetapi sesudah beberapa lama justru menghambat pertumbuhan. Androgen disekresi kelenjar adrenal (dehidroandrosteron) dan testis (testosteron), sedangkan estrogen terutama diproduksi oleh ovarium.6

- Insulin like Growth Faktors (IGFs)

Merupakan somatomedin yang kerjanya sebagai mediator GH dan kerjanya mirip dengan insulin. Fungsinya selain sebagai mediator GH, aktifitasnya mirip insulin, efek mitogenik terhadap kondrosit, osteoblas dan jaringan lainnya. IGFs diproduksi oleh berbagai jaringan tubuh, tetapi IGFs yang beredar dalam sirkulasi terutama diproduksi di hepar.6

10. Obat-Obatan

Beberapa obat-obatan dikenal dapat menyebabkan terlambatnya pertumbuhan, seperti kortikosteroid, antibiotik golongan quinolon, pemakaian obat perangsang susunan saraf pusat. Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

Kortikosteroid

Efek yang merugikan dari glucocorticoid pada pertumbuhan sudah diketahui para klinisi yang menangani anak-anak. Secara umum, hal ini diakui dalam pengelolaan yang berhubungan dengan asma brinchialis, rheumatoid arthritis dan nephrotic syndrome, karena hal-hal tersebut merupakan hal yang paling umum dari kelainan pada anak yang dirawat menggunakan kortikosteroid jangka panjang . Pertumbuhan yang kurang ini juga dapat dikaitkan dengan keterlambatan derajat maturasi, yang biasanya diobservasi sebagai terlambatnya pertumbuhan usia tulang. Mekanisme ini berpengaruh terhadap pertumbuhan, dan bagaimana cara mencegahnya belum diketahui.10

Cara yang kortikosteroid mengurangi pertumbuhan tidak diketahui dengan jelas. Namun, ada beberapa indikator yang diketahui. Tampaknya, efek yang besar yaitu menghalangi aksi dari growth hormone; sebuah efek langsung menghalangi produksinya oleh kelenjar pituitary adalah sedikit atau tidak ada. Morris et al. (1968) dalam penelitian metabolisme jangka pendek dan jangka panjang menunjukkan pertumbuhan yang ditandai dengan berkurangnya aksi dari growth hormone pada 8 (delapan) anak pengguna steroid dibandingkan dengan anak bukan pengguna steroid. 10

Aksi dari kortikosteroid berada di perifer. Sesudah diketahui dengan baik bahwa growth hormone yang menginduksi sintesis peptida-peptida oleh hati. Induksi ini menggunakan hormon yang disebut sebagai 'somatomedins' atau' faktor sulphation ' dan muncul untuk memediasi aksi pertumbuhan oleh growth hormone. Oleh karena itu, salah satu peran cortisol ialah menghambat produksi somatomedin oleh hati. 10

Tindakan dari kortikosteroid menghambat pertumbuhan tidak dapat diragukan. Mekanisme tersebut, untuk saat ini, masih belum jelas tetapi kortikosteroid beraksi di perifer dan ini dapat dikurangi dengan penggunaan harian yang selang-seling. Jika steroid harus digunakan untuk tujuan antiinflamasi, dalam dosis relatif tinggi dan tidak fisiologis maka penggunaan kortikosteroid yang selang-seling (atau bahkan lebih jarang) dapat bermanfaat. Dalam hal ini dosis digunakan untuk memperbaiki respon klinis dari pasien tetapi jelas harus digunakan secara minimal untuk mengontrol gejala utama pasien. 10

2.4.2.2 Faktor Fisis

1. Cuaca, Musim , Keadaan Geografis Suatu Daerah

Musim kemarau yang panjang/adanya bencana alam lainnya, dapat berdampak pada tumbuh kembang anak antara lain sebagai akibat gagalnya panen, sehingga banyak anak yang kurang gizi. Demikian pula gondok endemik banyak ditemukan pada daerah pegunungan, dimana air tanahnya kurang mengandung yodium. 6

Dalam setahun, terdapat periode cepat tumbuh sampai 3 (tiga) kali daripada periode lainnya saat pertumbuhan lambat. Periode tingkat pertumbuhan ini yang dihubungkan dengan musim dan pertumbuhan paling cepat terjadi pada musim semi. Di daerah tropis, rendahnya asupan makanan selama musim hujan mungkin memegang peran dalam perubahan tingkat pertumbuhan. Iklim juga dipengaruhi oleh ketinggian tinggi lokasi tempat tinggal, di mana orang-orang yang mendapatkan saturasi oksigen lebih rendah di udara memiliki tinggi badan yang lebih pendek. 8

Penyelidikan di Peru menunjukkan bahwa tinggi badan yang lebih tinggi belum tentu mempunyai keuntungan dari reproduksi. Dalam negara-negara industri, perempuan yang lebih tinggi pada umumnya memiliki keuntungan bidang reproduksi lebih sukses daripada wanita yang lebih pendek, tetapi dalam lingkungan yang keras seperti di Peruvian Andes, perempuan yang lebih pendek lebih mungkin untuk menghasilkan keturunan hidup. Ukuran tubuh, oleh karena itu, nampaknya lebih ke kemampuan beradaptasi pada berbagai kondisi ekologi. 8

2. Sanitasi

Sanitasi lingkungan memiliki peran yang cukup dominan dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak dan tumbuh kembangnya.

Kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun lingkungan memegang peranan penting dalam timbulnya penyakit. Akibat dari kebersihan yang kurang, maka anak akan sering sakit, misalnya diare, kecacingan, tifus abdominalis, hepatitis, malaria, demam berdarah, dan sebagainya. Demikian pula dengan polusi udara baik yang berasal dari pabrik, asap kendaraan atau asap rokok, dapat berpengaruh terhadap tingginya angka kejadian ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Kalau anak sering menderita sakit, maka tumbuh kembangnya pasti terganggu. 6

3. Keadaan Rumah: Struktur Bangunan, Cahaya, dan Kepadatan Hunian

Keadaan perumahan yang layak dengan konstruksi bangunan yang tidak membahayakan penghuninya, serta tidak penuh sesak akan menjamin kesehatan penghuninya. 6

4. Radiasi

Tumbuh kembang anak dapat terganggu akibat adanya radiasi tinggi. 6

2.4.2.3 Faktor Psikososial

Bayi baru lahir di rumah sakit atau panti asuhan, tanpa mendapatkan kasih sayang, menghasilkan perkembangan yang kurang. Kasih sayang ialah kebutuhan biologi pada seorang anak kecil untuk mencari kedekatan dengan orang tua selama stress dan juga hubungan yang memungkinkan rasa aman bagi seorang anak kepada orang tua untuk mendapatkan rasa tenang setelah mendapatkan stress. Kasih sayang yang buruk dapat diprediksikan dapat menjadikan masalah perilaku dan belajar anak. 1

Pada setiap tahapan perkembangan, anak belajar dengan cepat ketika mereka mempunyai orangtua yang perhatian terhadap respon verbal dan non verbalnya. Anak mempelajari dengan baik ketika mendapatkan tantangan baru yang sedikit lebih sulit dari apa yang sudah mereka pelajari sebelumnya. Kekuatan psikologis, seperti masalah perhatian dan kelainan mood, dapat memberikan pengaruh pada akitivitas anak setelah dewasa lainnya. 1

Stres akut merangsang sekresi growth hormone, tetapi terpapar stres kronis seperti ini disebabkan oleh terusiknya psikososial akan menekan sekresi growth hormone, sehingga tidak dapat tumbuh. Setelah stres dihilangkan, sekresi growth hormone cepat kembali normal dan kemudian terjadi pertumbuhan cacth up. Ini menjelaskan fenomena yang sebelumnya dijelaskan oleh Friend dan Bransby tahun 1947, yang dilaporkan pertumbuhan anak-anak menjadi lambat ketika tinggal di asrama sekolah dan pertumbuhan meningkat ketika saat liburan.8

Model kontemporer dari perkembangan anak mengenal pengaruh penting di luar hubungan ibu dan anak saja. Ayah diketahui mempunyai peran yang penting, hubungan langsung keduanya dengan anak mereka dan pada ibu yang mendukung anaknya. Model keluarga inti menjadi kurang dominan, pengaruh anggota keluarga lain (kakek, orangtua angkat, saudara sejenis) menjadi lebih penting. Lebih lagi, jika anak-anak diasuh oleh orang lain jika sedang pergi bekerja.1

Keluarga berfungsi sebagai suatu sistem, dengan batasan eksternal dan internal, subsistem, peran, dan aturan dalam berinteraksi. Pada keluarga yang kaku, anak dapat menolak segala aturan yang ada, seperti pemberontak.1

Anggota dalam sistem tersebut mengambil peran tersembunyi. Sebagai contoh, satu anak dapat menjadi “pembuat masalah”, padahal anak lain “anak yang patuh” dan anak lainnya yang “pendiam”. Tingginya kelahiran dapat mempengaruhi pada perkembangan kepribadian, dari pengaruhnya dalam peran dalam keluarga dan pola interaksi. Keluarga juga bersifat dinamis. Perubahan perilaku pada satu orang dapat mempengaruhi orang lain dalam keluarga, peran berganti sampai keseimbangan baru ditemukan. Kelahiran anak baru, perkembangan yang diraih dari perististiwa yang luar biasa seperti mulain jalan sendiri, ketakutan saat mimpi buruk, dan kematian kakek atau suatu perubahan menyeluruh membutuhkan peran negosiasi ulang dalam keluarga dan dapat mempengaruhi kesehatan dan beradaptasi atau disfungsi.1

a. Stimulasi

Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang/tidak mendapat stimulasi. 6

b. Motivasi Belajar

Motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar, misalnya adanya sekolah yang tidak terlalu jauh, buku-buku, suasana yang tenang serta sarana lainnya. 6

c. Ganjaran atau Hukuman yang Wajar

Kalau anak berbuat benar, maka wajib kita memberi ganjaran, misalnya pujian, ciuman, belain, tepuk tangan, dan sebagainya. Ganjaran tersebut akan menimbulkan motivasi yang kuat bagi anak untuk mengulangi tingkah lakunya. Sedangkan menghukum dengan cara-cara yang wajar kalau anak berbuat salah, masih dibenarkan. Yang penting hukuman dilakukan secara objektif, disertai pengertian dan maksud dari hukuman tersebut, bukan hukuman untuk melampiaskan kebencian dan kejengkelan terhadap anak. Sehingga anak tahu aman yang baik dan mana yang tidak baik, akibatnya akan menimbulkan rasa percaya diri pada anak yang penting untuk kepribadian anak kelak di kemudian hari. 6

d. Kelompok Sebaya

Untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya. Tetapi perhatian dari orangtua tetap diperlukan untuk memantau dengan siapa anak tersebut bergaul. Khususnya bagi remaja, aspek lingkungan sebaya menjadi sangat penting dengan makin meningkatnya kasus-kasus penyalahan obat-obat dan narkotika. 6

e. Stres

Stres pada anak juga berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya, misalnya anak akan menarik diri, rendah diri, terlambat bicara, nafsu makan menurun, dan sebagainya.6

f. Sekolah

Dengan adanya wajib belajar 9 tahun sekarang ini diharapkan setiap anak mendapatkan kesempatan duduk dibangku sekolah minimal 9 tahun. Sehingga dengan mendapatkan pendidikan yang baik, maka diharapkan dapat menaikan taraf hidup anak-anak tersebut. Yang masih menjadi masalah sosial sekarang ini adalah masih banyaknya anak-anak yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena harus membantu mencari nafkah untuk keluatganya. 6

g. Cinta dan Kasih Sayang

Salah satu hak anak adalah hak untuk dicintai dan dilindungi. Anak memerlukan kasih saying dan perlakuan yang adil dari orangtuanya. Agar kelak kemudian hari menjadi anak yang tidak sombong dan bisa memberikan kasih sayangnya pula terhadap sesamanya. 6

Sebaiknya kasih sayang yang diberikan secara berlebihan yang menjurus ke arah memanjakan akan menghambat bahkan mematikan perkembangan kepribadian anak. Akibatnya anak akan menjadi manja, kurang mandiri, pemboros, sombong, dan kurang bisa menerima kenyataan. 6

h. Kualitas Interaksi Anak dan Orang Tua

Interaksi timbal balik antara anak dan orangtua, akan menimbulkan keakraban dalam keluarga. Anak akan terbuka terhadap orang tuanya, sehingga komunikasi bisa 2 arah dan segala permasalahan dapat dipecahkan bersama karena adanya keterdekatan dan kepercayan antara orangtua dan anak. Interaksi tidak ditentukan seberapa lama kita bersama anak. Tetapi lebih ditentukan oleh kualitas oleh interaksi tersebut yaitu pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing dan upaya optimal untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi oleh rasa saling menyayangi. 6

2.4.2.4 Faktor Keluarga Adat dan Istiadat

Status sosial ekonomi yang lebih tinggi termasuk pendapatan yang tinggi terkait dengan pendidikan yang lebih baik, gizi yang lebih baik, perawatan anak lebih baik, dan perawatan medis yang lebih baik dan pelayanan sosial. Faktor-faktor ini yang dapat menyebabkan perubahan dalam ukuran, laju pertumbuhan, dan waktu perkembangan remaja, yang disebut perubahan sekuler. Di Eropa selama 100 tahun terakhir, manusia menjadi lebih tinggi, yang mulai masa pubertas telah dimulai pada usia lebih muda. Akan tetapi, saat masa susah dapat terjadi penurunan pertumbuhan.8

The British National Child Development Survey menunjukkan perbedaan ketinggian 3,3 cm pada anak laki-laki usia 7 tahun dalam kelas profesional dan manajemen dibandingkan dengan kelas manual dan kelas tidak, dan perbedaan ini masih tetap pada kelas sekuler. Negara-negara berkembang juga menunjukkan tinggi badan lebih tinggi dan lebih besar dicapai oleh anak-anak dari kelas sosial ekonomi tinggi. 8

Prevalensi kelebihan makan jauh lebih tinggi dalam kelas sosial rendah pada negara-negara industri, terutama saat persediaan makanan memadai tetapi tidak dalam diet. Dalam kasus ini, obesitas adalah hasil dari keseimbangan nutrisi dengan asupan tinggi dari karbohidrat dan ditambahkan gula. Sebaliknya, di negara-negara berkembang sebaliknya yang terjadi: semakin tinggi tingkat pendapatan, maka semakin tinggi prevalensi kegemukan. 8

a. Pekerjaan Atau Pendapatan Keluarga

Pendapatan kelurga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orangtua dapat menyediakan semua keperluan anak baik yang primer maupun yang sekunder. 6

b. Pendidikan Ayah/Ibu

Pendidikan orangtua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orangtua dapat menerima semua informasi terutama cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, pendidikannya dan sebagainya. 6

c. Jumlah Saudara

Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak. Lebih-lebih kalau jarak anak terlalu dekat sedangkan pada keluarga dengan keadaan sosial ekonomi yang kurang, jumlah anak yang banyak akan mengakibatkan selain kurangnya kasih saying dan perhatian pada anak, juga kebutuhan primer seperti makanan, sandang dan perumahan pun belum terpenuhi oleh karena itu keluatga berencana tetap diperlukan. 6

d. Jenis Kelamin dan Keluarga

Pada masyarakat tradisional wanita memiliki status yang lebih rendah dibandingkan laki-laki sehingga angka kematian bayi dan malnutrisi masih tinggi pada wanita demikian pula dengan pendidikan, masih banyak ditemukan wanita yang buta huruf. 6

e. Stabilitas Rumah Tangga

Stabilitas keharmonisan rumah tangga mempengaruhi tumbuh kembang anak. Tumbuh kembang anak akan berbeda pada keluarga yang harmonis, dibandingkan dengan mereka yang kurang harmonis. 6

f. Kepribadian Ayah/Ibu

Kepribadian ayah dan ibu yang terbuka untuk pengaruhnya berbeda terhadap tumbuh kembang anak, bila dibandingkan dengan mereka yang kepribadiannya tertutup.6

g. Adat Istiadat, Norma-Norma, Tabu-Tabu

Adat istiadat yang berlaku di tiap daerah akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Misalnya di Bali karena seringnya upacara agama yang diadakan oleh suatu keluarga, dimana harus disediakan berbagai makanan dan buah-buahan, maka sangat jarang terdapat anak yang gizi buruk karena makanan dan buah-buahan tersebut akan dimakan bersama setelah selesai upacara.

Demikian pula dengan norma-norma dan tabu-tabu yang berlaku di masyarakat, berpengaruh pula terhadap tumbuh kembang anak. 6

h. Agama

Pengajaran agama harus ditanamkan pada anak-anak sedini mungkin, karena dengan memahami agama akan menuntun umatnya untuk berbuat kebaikan dan kebajikan. 6

i. Urbanisasi

Sudah dipikirkan bahwa urbanisasi menghasilkan tinggi badan yang lebih tinggi, dan ini mungkin akibat dari asupan makanan yang cukup, kesehatan yang memadai dan layanan sanitasi, pendidikan, rekreasi, dan kesejahteraan. Seperti perkembangan yang ditemukan di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia, tetapi tidak jelas apakah Amerika Selatan atau di Afrika yang kumuh. Ketika keadaan ekonomi sangat tinggi sebagai di Amerika Serikat dan Australia, perbedaan tinggi badan dengan di pedesaan menjadi kabur. Di negara-negara berkembang dimana pemukiman kumuh yang terlalu penuh dipenuhi masyarakat yang sangat miskin, perbedaan berat dan tinggi badan anak-anak di daerah kumuh perkotaan dengan di pedesaan menjadi hampir sama. 8

Industrialisasi membawa masalah pembuangan sampah. Pada tahun 1987 Paigen dkk. Menjelaskan pertumbuhan pola anak-anak yang tinggal di dekat Love Canal di Niagara Falls Negara di New York. Ini adalah kanal yang belum selesai dengan panjang 3.000 m, yang digunakan sebagai lokasi pemakaman untuk 19.000 metrik ton pembersih organik, chlorinated hidrokarbon, asam, dan limbah berbahaya lainnya selama tahun 1940-an. Anak-anak dibawah penyelidikan yang tinggal di daerah ini memiliki tinggi badan yang lebih pendek daripada anak-anak kontrol. 8

j. Kehidupan Politik dalam Masyarakat yang Mempengaruhi Prioritas Kepentingan Anak, Anggaran, dan lain-lain. 6

BAB III

KESIMPULAN

Pertumbuhan adalah setiap perubahan dari tubuh yang berhubungan dengan bertambahnya ukuran tubuh baik fisik (anatomis) maupun struktural dalam arti sebagian atau menyeluruh. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill), struktur, dan fungsi tubuh yang lebih kompleks.

Pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ/individu. Walaupun demikian, kedua peristiwa itu terjadi secara sinkron pada setiap individu.

Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh banyak faktor dimulai dari faktor internal (genetik), prenatal, sampai postnatal. Untuk mendapatkan tumbuh kembang anak yang optimal maka petugas kesehatan maupun orangtua anak diharapkan mengetahui faktor-faktor tersebut.

SUDAH COCOK ??? (note= gambar dan bagan sulit di upload jadi gak muncul, tapi difilenya ada)

BUTUH DAFTAR PUSTAKANYA ??

Hubungi SMS SAJA 02291339839
(Jangan berpikiran macam2 dulu dok,he2.. Saya gak jualan kok. . . SMS aja dulu. . .)

Salam TS

Dr Mantap

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar