Sabtu, 07 Agustus 2010

Referat Infeksi Luka Operasi

BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN

2009


BAB I

PENDAHULUAN

Infeksi luka operasi hal yang paling mungkin terjadi, karena pembedahan merupakan tindakan yang dengan sengaja membuat luka pada jaringan dan merupakan suatu tempat jalan masuk dari bakteri, sehingga membutuhkan tingkat sterilitas yang maksimal dan juga orang-orang yang ikut dalam operasi harus dibatasi jumlahnya.

Infeksi luka operasi terdiri dari superfisial, dalam dan organ sehingga penangannya pun berbeda. Infeksi luka operasi disebabkan oleh beberapa bekteri, yaitu bakteri gram negatif, gram positif, dan bakteri anaerob.

Gejala yang muncul seperti tanda-tanda inflamasi, yaitu terasa panas, nyeri, kemerahan, bengkak, dan kadang-kadang disertai dengan keluarnya cairna atau nanah dari tempat luka.

Berkembangnya infeksi tergantung dari beberapa faktor diantaranya yaitu jumlah bakteri yang memasuki luka, tipe dan virulensi bakteri, pertahanan tubuh host dan faktor eksternal lainnya. Juga terdapat beberapa faktor resiko yang dapat mencetuskan terjadinya infeksi luka operasi, yaitu faktor pasien, faktor operasi, dan faktor mikrobiologi.

Penanganan dan pencegahan terjadinya infeksi luka operasi pada dasarnya adalah dengan menjaga sterilitas, dengan melakukan teknik operasi yang baik.

BAB II

ISI

A. Definisi

Infeksi luka operasi adalah infeksi dari luka yang didapat setelah operasi. Dapat terjadi diantara 30 hari setelah operasi, biasanya terjadi antara 5 sampai 10 hari setelah operasi. Infeksi luka operasi ini dapat terjadi pada luka yang tertutup ataupun pada luka yang terbuka, dikarenakan untuk proses penyembuhannya. Dapat juga terjadi pada jaringan maupun pada bagian dari organ tubuh dan juga dapat terjadi pada jaringan superfisial (yang dekat dengan kulit) ataupun pada jaringan yang lebih dalam. Pada kasus yang serius dapat mengenai organ tubuh.

Menurut sistem CDC’s terdapat stpasienrisasi pada kriteria untuk mendefinisikan infeksi luka operasi, yaitu :

1. Infeksi Superfisial, yaitu infeksi yang terjadi diantara 30 hari setelah operasi dan infeksi hanya mengenai pada kulit atau jaringan subkutan pada daerah bekas insisi.

2. Infeksi Dalam, yaitu infeksi yang terjadi diantara 30 hari setelah operasi dimana tidak menggunakan alat-alat yang ditanam pada daerah dalam dan jika menggunakan alat-alat yang ditanam maka infeksi terjadi diantara 1 tahun dan infeksi yang terjadi berhubungan dengan luka operasi dan infeksi mengenai jaringan lunak yang dalam dari luka bekas insisi.

3. Organ atau ruang, yaitu infeksi yang terjadi diantara 30 hari setelah operasi dimana tidak menggunakan alat yang ditanam pada daerah dalam dan jika menggunakan alat yang ditanam maka infeksi terjadi diantara 1 tahun dan infeksi yang terjadi berhubungan dengan luka operasi dan infeksi mengenai salah satu dari bagian organ tubuh, selain pada daerah insisi tapi juga selama operasi berlangsung karena manipulasi yang terjadi.

TABLE

CRITERIA FOR DEFINING A SURGICAL SITE INFECTION (SSI)*

Superficial Incisional SSI

Infection occurs within 30 days after the operation

and

infection involves only skin or subcutaneous tissue of the incision

and at least one of the following:

1. Purulent drainage, with or without laboratory confirmation, from the superficial incision.

2. Organisms isolated from an aseptically obtained culture of fluid or tissue from the superficial incision.

3. At least one of the following signs or symptoms of infection: pain or tenderness, localized swelling, redness, or heat and superficial incision

is deliberately opened by surgeon, unless incision is culture-negative.

4. Diagnosis of superficial incisional SSI by the surgeon or attending physician.

Do not report the following conditions as SSI:

1. Stitch abscess (minimal inflammation and discharge confined to the points of suture penetration).

2. Infection of an episiotomy or newborn circumcision site.

3. Infected burn wound.

4. Incisional SSI that extends into the fascial and muscle layers (see deep incisional SSI).

Note: Specific criteria are used for identifying infected episiotomy and circumcision sites and burn wounds.433

Deep Incisional SSI

Infection occurs within 30 days after the operation if no implant† is left in place or within 1 year if implant is in place and the infection appears to

be related to the operation

and

infection involves deep soft tissues (e.g., fascial and muscle layers) of the incision

and at least one of the following:

1. Purulent drainage from the deep incision but not from the organ/space component of the surgical site.

2. A deep incision spontaneously dehisces or is deliberately opened by a surgeon when the patient has at least one of the following signs or

symptoms: fever (>38ÂșC), localized pain, or tenderness, unless site is culture-negative.

3. An abscess or other evidence of infection involving the deep incision is found on direct examination, during reoperation, or by histopatholog

ic or radiologic examination.

4. Diagnosis of a deep incisional SSI by a surgeon or attending physician.

Notes:

1. Report infection that involves both superficial and deep incision sites as deep incisional SSI.

2. Report an organ/space SSI that drains through the incision as a deep incisional SSI.

Organ/Space SSI

Infection occurs within 30 days after the operation if no implant† is left in place or within 1 year if implant is in place and the infection appears to

be related to the operation

and

infection involves any part of the anatomy (e.g., organs or spaces), other than the incision, which was opened or manipulated during an operation

and at least one of the following:

1. Purulent drainage from a drain that is placed through a stab wound‡ into the organ/space.

2. Organisms isolated from an aseptically obtained culture of fluid or tissue in the organ/space.

3. An abscess or other evidence of infection involving the organ/space that is found on direct examination, during reoperation, or by

histopathologic or radiologic examination.

4. Diagnosis of an organ/space SSI by a surgeon or attending physician.

* Horan TC et al.22

† National Nosocomial Infection Surveillance definition: a nonhuman-derived implantable foreign body (e.g., prosthetic heart valve, nonhuman vascular graft, mechanical heart, or hip prosthesis) that

is permanently placed in a patient during surgery.

‡ If the area around a stab wound becomes infected, it is not an SSI. It is considered a skin or soft tissue infection, depending on its depth

B. Penyebab

Infeksi yang terjadi pada luka operasi disebabkan oleh bakteri, yaitu bakteri gram negatif (E. coli), gram positif (Enterococcus) dan terkadang bakteri anaerob dapat yang berasal dari kulit, lingkungan, dari alat-alat untuk menutup luka dan operasi. Bakteri yang paling banyak adalah Staphylococcus.

TABLE

DISTRIBUTION OF PATHOGENS ISOLATED* FROM SURGICAL SITE

INFECTIONS, NATIONAL NOSOCOMIAL INFECTIONS SURVEILLANCE

SYSTEM, 1986 TO 1996

Percentage of Isolates

1986-1989179 1990-199626

Pathogen (N=16,727) (N=17,671)

Staphylococcus aureus 17 20

Coagulase-negative staphylococci 12 14

Enterococcus spp. 13 12

Escherichia coli 10 8

Pseudomonas aeruginosa 8 8

Enterobacter spp. 8 7

Proteus mirabilis 4 3

Klebsiella pneumoniae 3 3

Other Streptococcus spp. 3 3

Candida albicans 2 3

Group D streptococci (non-enterococci) — 2

Other gram-positive aerobes — 2

Bacteroides fragilis — 2

*Patogen yang presentasinya kurang dari 2 % tidak termasuk.

C. Patogenesis

Pada akhir operasi, bakteri dan mikroorganisme lain mengkontaminasi seluruh luka operasi, tapi hanya sedikit pasien yang secara klinis menimbulkan infeksi (Fry 2003). Infeksi tidak berkembang pada kebanyakan pasien karena pertahanan tubuhnya yang efektif untuk menghilangkan organisme yang mengkontaminasi luka operasi. Infeksi potensial terjadi tergantung pada beberapa faktor, diantaranya yang terpenting adalah :

· Jumlah bakteri yang memasuki luka

· Tipe dan virulensi bakteri

· Pertahanan tubuh host

· Faktor eksternal, seperti : berada di rumah sakit beberapa hari sebelum pembedahahn dan operasi yang berlangsung lebih dari 4 jam.

Selain itu juga dipengaruhi faktor lain yaitu :

1. Operating suite, yaitu tidak adanya batas yang jelas antara ruang untuk operasi dan ruang untuk mempersiapkan pasien atau untuk pemulihan dan juga pakaian yang digunakan hampir tidak ada bedanya.

2. Operating room, ruangan yang digunakan untuk operasi harus dijaga sterilitasnya.

3. Tim operasi, yaitu harus ada orang yang merawat pasien dari sebelum, saat dan setelah operasi. Operator, asisten dan instrumen harus menjaga sterilitas karena berhubungan langsung dengan daerah lapang operasi. Orang-orang yang tidak ikut sebagai tim operasi harus menjauhi daerah lapang operasi dan menjauhi daerah alat karena mereka tidak steril dan pasien bisa terinfeksi nantinya.

Faktor pasien :

1. Status nutrisi yang buruk

Dapat menjadi atau tidak dapat menjadi faktor yang mengkontribusi. Sayangnya beberapa penelitian tidak dilakukan pada negara berkembang dimana malnutrisi berat lebih banyak terjadi.

2. Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol

3. Merokok

4. Kegemukan

Meningkatkan resiko pada lapisan lemak abdomen subkutan yang lebih dari 3 cm (1,5 inch). Resiko meningkat dikarenakan dibutuhkan incisi yang lebih luas, sirkulasi yang berkurang pada jaringan lemak atau kesulitan teknik operasi saat melewati lapisan lemak

5. Infeksi koeksisten pada tempat lain di tubuh

Dapat meningkatkan resiko penyebaran infeksi melalui aliran darah

6. Kolonisasi dengan mikroorganisme

7. Perubahan respon imun ( HIV / AIDS dan pengguna kortikosteroid jangka panjang)

8. Lamanya perawatan sebelum operasi

Faktor Operasi

1. Pencukuran sebelum operasi

2. Persiapan kulit sebelum operasi

3. Lamanya operasi

4. Profilaksis antimikroba

5. Ventilasi ruang operasi

6. Pembersihan atatu sterilisasi instrumen

7. Material asing pada tempat pembedahan

8. Drain

9. Teknik pembedahan

10. Hemostasis yang buruk

11. Kegagalan untuk menutupi dead space

12. Trauma jaringan

Faktor mikrobiologi

1. Sekresi toksin

2. Hambatan pembersihan (contoh ; karena pembentukan kapsul)

D. Gejala dan Tanda

Pasien merasakan beberapa gejala yang dirasakan saat terjadi infeksi pada luka operasi :

1. Nyeri

2. Hipotermi atau hipertermi

3. Tekanan darah rendah

4. Palpitasi

5. Keluar cairan dari luka operasi, bisa berupa darah ataupun nanah (bisa berwarna dan berbau)

6. Bengkak (pasien merasa nyeri, sekitar daerah yang membengkak terasa hangat dan berwarna merah)

E. Diagnosa

Untuk mendiagnosa apakah itu suatu infeksi luka operasi dapat dengan cara :

1. Pemeriksaan fisik, dengan memeriksa apakah ada pembengkakan, cairan atau sekret yang keluar. Harus diperhatikan juga apakah ada penyebaran dari infeksi.

2. Tes darah, darah dapat mengetahui bagaimana keadaan tubuh kita dan bakteri apa yang terdapat dan yang menginfeksi.

3. Tes pencitraan, termasuk x-ray,MRI, scan tulang.

4. Kultur dari luka dan biopsi jaringan, untuk mengidentifikasikan bakteri apa yang terdapat pada luka, jenis infeksi dan pengobatan apa yang tepat.

Faktor luka lokal dihubungkan dengan fakta bahwa pembedahan merusak mekanisme benteng pertahanan seperti kulit dan mukosa saluran pencernaan selam dilakukan pembedahan. Teknik pembedahan yang baik adalah jalan terbaik untuk mencegah infeksi luka operasi.

Klasifikasi luka operasi

Clean (class I)

luka operasi yang tidak terinfeksi yang mana tidak ada peradangan yang ditemukan pada saluran pernafasan, saluran pencernaan, genital, atau traktus urinarius tidak terkena. Luka biasanya tertutup dan jika perlu drainase dengan closed drainage. Luka operasi diikuti dengan trauma tumpul seharusnya dimasukkan pada kategori ini jika masuk dalam kriteria.

Contoh : Hernia repair, biopsi mammae 1-5,4%

Clean-contaminated (Class II)

Luka operasi yang mana saluran pencernaan, saluran pernafasan, traktus urinarius dan genital terkena dengan kondisi terkontrol dan tanpa kontaminasi yang tidak biasanya.

Contoh : Cholecystectomy, operasi saluran pencernaan elektif

Contaminated (Class III)

terbuka, baru, luka tiba-tiba. Sebagai tambahannya, pembedahan dengan potongan besar dengan tknik yang steril atau kebocoran besar pada saluran pencernaan, dan sayatan yang akut, inflamasi yang nonpurulen termasuk dalam kategori ini.

Contoh : Trauma, luka jaringan yang luas, enterotomy saat obstrusi usus

Dirty (Class IV)

Luka traumatik yang lama yang tertahan pada jaringan yang dilemahkan yang termasuk infeksi klinis yang ada atau visera yang perforasi. Definisi ini menunjukkan bahwa organisme penyebab infeksi post operasi

Contoh : Perforasi diverculitis, infeksi nekrotik jaringan lunak 3,1-12,8%

F. Penatalaksanaan

1. Pembersihan luka

Hal ini bisa dilakukan dengan mencuci luka dengan air steril. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan tekanan tinggi dengan jarum atau kateter dan alat penyemprot yang besar. Solusi pembunuhan kuman dapat digunakan unuk membersihkan luka.

2. Debridement

Hal ini dilakukan untuk membersihkan dan membuang objek, atau kulit mati dan jaringan dari daerah luka. Dokter dapat membatasi area yang rusak pada luka atau sekitar luka. Pembalut basah bisa ditempatkan pada luka dan dibiarkan mengering. Dokter juga bisa mengeringkan luka untuk membersihkan pus.

3. Penutup luka

Hal ini juga disebut pembalut luka. Pembalut digunakan untuk melindungi luka dari kerusakan lebih lanjut dan infeksi. Hal ini juga menolong menyediakan tekanan untuk mengurangi pembengkakan. Pembalut bisa berbagai bentuk. Pembalut bisa mengandung beberapa substansi untuk menlong mempercepat penyembuhan.

4. Obat-obatan

Dokter mungkin memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Pasien juga mungkin diberikan obat-obatan untuk mengurangi sakit, pembengkakan, atau demam.

5. Terapi oksigen hyperbarik

Juga disebut HBO. HBO digunakan untuk memperoleh oksigen lebih banyak ke dalam tubuh. Oksigen diberikan dibawah tekanan untuk menolong oksigen supaya sampai ke jaringan dan darah. Pasien dimasukkan ke ruangan yang berbentuk seperti tabung yang disebut ruangan hiperbarik atau ruangan tekanan. Pasien bisa melihat dokter dan berbicara dengan mereka melalui pengeras suara. Pasien mungkin mebutuhkan terapi ini lebih dari sekali.

6. Terapi tekanan negatif

Juga sisebut vacuum-assisted closure (VAC). Pembalut berbentuk spesial dengan melekat pada sebuah tabung diletakkan didalam kavitas luka dan ditutup dengan ketat. Tabung berhubungan ke sebuah pompa yang akan menolong menyedot keluar cairan berlebih dan kotoran dari luka. VAC juga mungkin menolong untuk meningkatkan aliran darah dan mengurangi jumlah bakteri di luka.

7. Pengobatan lain

Mengontrol atau mengobati kondisi medis yang menyebabkan penyembuhan luka yang buruk menolong mengobati infeksi pada luka. Pasien mungkin perlu minum obat untuk mengontrol penyakit seperti diabetes atau tekanan darah tinggi. Dokter mungkin memberikan pasien supplemen atau menyarankan diet spesial untuk meningkatkan nutrisi dan kesehatan pasien. Pembedahan mungkin dilakukan untuk meningkatkan aliran darah jika pasien mempunyai masalah dengan pembuluh darah.

PENCEGAHAN

I. Preoperative

a. Persiapan pasien

1 Kapanpun jika memungkinkan, identifikasi dan obati semua infeksi yang terlokalisir di daerah operasi sebelum operasi elektif dan operasi elektif yang tertunda pada pasien dengan dearah infeksi pada luka sampai infeksi terobati.

2 Jangan mencukur rambut sebelum operasi kecuali jika rambut tersebut atau sekitar daerah insisi akan mengganggu operai.

3 Jika rambut dicukur, cukur secepatnya sebelum operasi, lebih baik dengan pemotong elektrik.

4 Kontrol tingkat glukosa darah serum secara adekuat pada semua pasien diabetes dan selalu hindari hiperglikemi sebelum operasi.

5 Sarankan penghentian merokok. Minimal instruksikan pasien untuk tidak merokok kretek, tembakau, atau bentuk konsumsi tembakau lain selama paling tidak 30 hari sebelum operasi elektif.

6 Jangan menahan darah pasien yang di operasi untuk mencegah infeksi luka operasi.

7 Minta pasien untuk mandi dengan cairan atiseptik pada paling tidak malam sebelum operasi dilaksanakan.

8 Cuci dan bersihkan dengan benar sekitar daerah insisi untuk membuang kontaminasi sebelum menyiapkan antiseptik kulit.

9 Gunakan antiseptik yang tepat.

10 Oleskan antiseptik secara lingkaran yang dimulai dari tengah bergerak menuju pinggir. Daerah yang dipersiapkan harus cukup besar untuk memperpanjang sayatan atau membuat sayatan baru jika diperlukan.

11 Usahakan pre operasi pasien di rumah sakit sesingkat mungkin.

12 Tidak direkomendasikan untuk menurunkan atau menghentikan penggunaan steroid sistemik sebelum operasi selektif.

13 Tidak direkomendasikan untuk hanya meningkatkan support nutrisi untuk pasien operasi yang dimaksudkan untuk mencegah infeksi luka operasi.

14 Tidak direkomendasikan untuk menggunakan mupicorin ke hidung untuk mencegah infeksi luka operasi.

b. Antiseptik tangan/ lengan bawah untuk anggota tim bedah.

1. Potong pendek kuku dan jangan memakai kuku palsu.

2. Lakukan pencucian tangan sebelum operasi paling tidak 2 sampai 5 menit menggunakan antiseptik yang tepat. Cuci tangan dan lengan bawah sampai ke siku.

3. Setelah mencuci tangan, jaga tangan di atas dan tidak bersentuhan dengan tubuh (siku pada posisi fleksi) sehingga air bergerak dari ujung jari menuju siku. Keringkan tangan dengn handuk steril dan pakai baju operasi steril dan sarung tangan steril.

4. Bersihkan bawah tiap kuku sebelum mencuci tangan pertamakali.

5. Jangan menggunakan perhiasan.

6. Tidak direkomendasikan menggunakan cat kuku.

c. Penanganan personel bedah yang terinfeksi

1 Edukasi dan sarankan personel bedah yang memiliki gejala dan tpasien penyakit infeksi yang menular agar melaporkan keadan mereka dengan segera kepada supervisor dan personel kesehatan kerja.

2 Membuat kebijakan yang baik mengenai tanggungjawab perawatan pasien ketika personal potensial berada pada kondisi infeksius yang menular. Kebijakan-kebijakan ini seharusnya mengatur : (a) Tanggungjawab personel dalam menggunakan pelayanan kesehatan dan melaporkan penyakit, (b) pembatasan kerja, dan (c) ijin untuk kembali bekerja setelah menderita penyakit yang membutuhkan pembatasan kerja. Kebijakan-kebijakan tersebut seharusnya mengidentifikasi individu yang memiliki kekuasaan untuk mengistirahatkan personel dari kerja mereka.

3 Menghentikan dari tugas operasi personel yang mempunyai lesi kulit yang telah mengering sampai infeksi hilang atau personel tersebut telah menerima terapi adekuat dan infeksi telah sembuh.

4 Jangan secara rutin mengeluarkan personel operasi yang terkolonisasi dengan organisasi seperti S. aureus (hidung, tangan atau bagian tubuh lain) atau grup A Streptococcus, kecuali personel tersebut telah dihubungkan secara epidemiologi kepada penyebaran organisme di wilayah pusat kesehatan.

Profilaksis antimicrobial

1 Berikan antimikroba profilaksis hanya ketika diindikasikan, dan dipilih berdasarkan patogen yang paling umum menyebabkan infeksi luka operasi untuk operasi spesifik dan rekomendasi yang dipublikasikan.

2 Berikan dosis inisial antimikroba profilaktik secara intravena, dihitung seperti konsentrasi bakterisidal obat yang ada dalam serum dan jaringan ketika insisi dilakukan. Pertahankan tingkat terapeutik agen dalam serum dan jaringan selama operasi dan sampai, kebanyakan, beberapa jam setelah insisi ditutup di kamar operasi.

3 Sebelum operasi elektif kolorektal sebagai tambahan d2 diatas, persiapkan kolon secara mekanik dengan menggunakan enema dan agen katartik. Berikan agen antimikroba nonabsorbel dalam dosis terbagi sehari sebelum operasi.

4 Untuk seksio sesaria risiko tinggi, berikan agen antimikroba profilaktik segera setelah tali pusat diklem.

5 Jangan gunakan vankomisin sebagai anti mikroba profilaksis.

II. Intra operatif

a. Ventilasi

1 Pertahankan ventilasi tekanan positif di kamar operasi dengan memperhatikan koridor dan area yang berdekatan.

2 Pertahankan minimal pergantian udara 15 kali perjam, yang mana paling tidak 3 sebaiknya udara segar.

3 Saring semua udara, disirkulasi ulang dan segar, melalui filter yang baik sesuai rekomendasi institut arsitek Amerika.

4 Memasukkan semua udara di langit-langit, dan alat pembuangan uap dekat lantai.

5 Jangan menggunakan radiasi UV di kamar operasi untuk mencegah infeksi luka operasi.

6 Tetap tutup pintu ruang operasi kecuali dibutuhkan untuk jalan peralatan, personel dan pasien.

7 Pertimbangkan melakukan operasi implan ortopedik dimana tesedia udara sangat bersih.

8 Batasi jumlah personel yang memasuki ruang operasi sesuai yang dibutuhkan.

b. Membersihkan dan diinfeksi permukaan lingkungan

1 Ketika kotoran yang terlihat atau kontaminasi dengan darah atau cairan tubuh permukaan atau peralatan terjadi selama operasi, gunakan disinfektan untuk membersihkan area yang terkena sebelum operasi berikutnya.

2 Jangan melakukan pembersihan khusus atau menutup kamar operasi setelah terkontaminasi atau operasi yang kotor.

3 Jangan menggunakan keset kaki yang lengket di jalan masuk kamar operasi atau kamar operasi individu untuk mengontrol infeksi.

4 Vakum basah lantai kamar operasi setelah operasi terakhir dengan disinfektan.

5 Tidak ada rekomendasi untuk disinfeksi permukaan lingkungan atau peralatan yang digunakan di kamar operasi dalam beberapa operasi jika tidak terlihat kotoran

c. Sterilisasi peralatan bedah

1 Sterilisasi instrumen operasi sesuai dengan panduan yang dipublikasikan.

2 Lakukan sterilisasi cepat hanya pada item peralatan perawatan penyakit yang akan digunakan segera. Jangan gunakan sterilisasi cepat untuk alasan kenyamanan, seperti sebuah alternatif membeli peralatan tambahan, atau untuk menghemat waktu.

d. Pakaian operasi

1 Pakai masker operasi yang menutup keseluruhan mulut dan hidung ketika memasuki ruang operasi jika operasi akan dimulai atau sedang berjalan atau jika instrument steril sedang terekspos. Pakai masker selama operasi.

2 Gunakan topi atau tudung untuk menutupi rambut secara keseluruhan di kepala dan wajah ketika memasuki ruang operasi.

3 Jangan menggunakan penutup sepatu untuk mencegah infeksi luka operasi.

4 Pakai sarung tangan steril jika menjadi tim operasi. Pakai sarung tangan setelah memakai baju steril.

5 Gunakan jubah operasi dan penutup yang merupakan barier efektif ketika basah.

6 Ganti baju operasi yang terlihar sudah kotor, terkontaminasi danatau dipenetrasi oleh darah atau material lain yang potensial infeksius.

e. Asepsi dan teknik operasi

1 Mengikuti prinsip asepsis ketika menempatkan peralatan intravascular, kateter anesthesia spinal atau epidural, atau ketika memberikan obat secara intravena.

2 Susun peralatan steril dan obat cair sebelum digunakan.

3 Perlakukan jaringan dengan lembut, pertahankan hemotasis efektif, minimalkan jaringan lemah dan benda asing dan eradikasi ruang mati di tepat operasi.

4 Lakukan penutupan tunda kulit primer atau biarkan sebuah sayatan terbuka agar sembuh kemudian jika ahli bedah memperkirakan daerah operasi terkontaminasi berat.

f. Perawatan insisi setelah operasi

1 Lindungi dengan penutup steril untuk 24 sampai 48 jam setelah operasi, sebuah sayatan yang telah tertutup secara primer.

2 Cuci tangan sebelum dan sesudah mengganti penutup dan setelah kontak dengan tempat operasi.

3 Ketika penutup sayatan harus diganti, gunakan teknik yang steril.

4 Edukasi pasien dan keluarga menyangkut perawatan sayatan yang baik, gejala infeksiluka operasi, dan perlunya melapor segera.

5 Tidak ada rekomendasi untuk menutupi sayatan yang tertutup secara primer melebihi 48 jam.

BAB III

KESIMPULAN

Infeksi luka operasi adalah infeksi dari luka yang didapat setelah operasi. Dapat terjadi diantara 30 hari setelah operasi, biasanya terjadi antara 5 sampai 10 hari setelah operasi. Infeksi luka operasi ini dapat terjadi pada luka yang tertutup ataupun pada luka yang terbuka, dikarenakan untuk proses penyembuhannya. Dapat juga terjadi pada jaringan maupun pada bagian dari organ tubuh dan juga dapat terjadi pada jaringan superfisial (yang dekat dengan kulit) ataupun pada jaringan yang lebih dalam. Menurut sistem CDC’s terdapat standarisasi pada kriteria untuk mendefinisikan infeksi luka operasi, yaitu : 1. Insisi Superfisial; 2. Insisi Dalam; 3. Organ atau ruang.

Terdapat beberapa klasifikasi luka operasi, yaitu : clean, clean-contaminated, contaminated, dirty. Patogenesis terjadinya infeksi luka pada operasi tergantung dari beberapa faktor, yaitu : faktor pasien, faktor terjadinya infeksi, faktor operasi, faktor mikrobiologi.

Luka yang di buat pada saat operasi merupakan tempat jalan masuk dari bakteri, karena itu diperlukan penatalaksanaan dalam pencegahan terjadinya infeksi luka operasi. Pencegahan agar tidak terjadi infeksi luka operasi adalah pada saat preoperatif dan intraoperatif.

DAFTAR PUSTAKA

Townsend C M, Beauchamp R D, Evers B M, Mattox K L. 2004. Sabiston Textbook of Surgery.The Biological Basis of Modern Surgical Practice17th edition. Elsevier Saunders; Philadelphia. P 258-263

Burnicardi F C, Anderson D K, Bizliar T R, Durin D L, Hunter J G, Pollock M E. 2006. Schwartz’s manual of surgery Eight edition. MacGrawhill; New York. P. 90-96

Mangram A J, Horan T C, Pearson M L,Silver L C, Jarvis W R.1999. Guidline for prevention of Surgical Site of Infection. Columbia University School of Nursing;New York

Steven M. Gordon.2001. New Surgical Techniques and Surgical Site Infections.http://www.cdc.gov/ncidod/eid/vol7no2/gordon.htm, 24 Feb 2009.

Bonnie Barnard, MPH, CIC.2003.http://www.theific.org/basiconcepts/11.pdf , 24 Februari 2009

Joint commission Resource.2008.http://www.jcrinc.com/Surgical-Site-Infections/, 24 Februari 2009

College’s Committee on Operating Room Environment (CORE) .1999. http://www.facs.org/about/committees/cpc/ssiguide0700.pdf, 24 Februari 2009

BUKAN BUATAN SENDIRI, HANYA ARSIP DARI TEMAN SEJAWAT


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar