Sabtu, 07 Agustus 2010

Referat Antropometri

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

2010


BAB I
PENDAHULUAN

Setiap tahun, 26 juta bayi dilahirkan dengan ukuran badan yang kecil yang berdampak terhadap kehidupan yang sehat, karena ibu mereka yang sakit atau malnutrisi. Lebih dari 230 juta (43%) dari anak pra sekolah pada negara berkembang menjadi kerdil disebabkan malnutrisi yang disebabkan kurangnya makanan dan penyakit. Saat ini, diduga bahwa malnutrisi ini akan dapat membunuh 7 juta anak-anak dalam 1 tahun, baik disertai dengan penyakit infeksi, maupun diperparah dengan penyakit infeksi. (10)

Sedangkan di Indonesia tingginya angka kurang gizi pada ibu hamil mempunyai kontribusi terhadap tingginya angka BBLR di Indonesia yang diperkirakan mencapai 350.000 bayi setiap tahunnya.(2)

Sekitar 15% orang dewasa terlalu kurus disebabkan malnutrisi dan penyakit, yang akan menurunkan produktivitas mereka dan menggandakan angka kematian prematurnya. Pada waktu yang sama, 150 juta orang dewasa terlalu gemuk, 15 juta dari mereka akan meninggal secara prematur disebabkan penyakit yang dihasilkan dari obesitas. Pada beberapa komunitas, hampir semua kasus dari penderita diabetes dan 40% kasus dari penyakit jantung koroner diakibatkan oleh berat badan yang melebihi berat badan optimal. (10)

Tabel 1.1 Perkiraan prevalensi overweight dan obesitas di Indonesia (Dit BGM DepKes, 1997)(7)


Sedangkan obesitas di Indonesia dari perkiraan 210 juta penduduk Indonesia tahun 2000, jumlah penduduk yang overweight diperkirakan mencapai 76.7 juta (17.5%) dan pasien obesitas berjumlah lebih dari 9.8 juta (4.7%).(7)

Data tersebut seperti berat badan lahir rendah, balita kecil, kurus, dan kegemukan didapat dari pengukuran terhadap tinggi badan dan berat badan. Pengukuran antropometrik menilai ukuran tubuh dan komposisinya, dan mencerminkan intake makanan yang kurang atau lebih, olahraga yang kurang, dan penyakit. Antropometri menunjukkan kehilangan atau kelebihan berat badan dapat muncul bersama-sama tidak hanya terdapat pada, namun juga diantara, negara-negara dan bahkan rumah tangga, namun menunjukkan juga pembangunan dan kebijakan kesehatan yang diambil untuk meningkatkan nutrisi. Pengukuran tubuh yang sederhana juga membolehkan untuk dapat melakukan pemilihan dari individu, keluarga, dan komunitas untuk intervensi yang dibuat untuk memperbaiki tidak hanya nutrisi namun juga kesehatan secara umum.(10)

Antropometri merupakan salah satu metode yang dapat dipakai secara universal, tidak mahal, dan metode yang non invasif untuk mengukur ukuran, bagian, dan komposisi dari tubuh manusia. Oleh karena itu, disebabkan pertumbuhan anak-anak dan dimensi tubuh pada segala usia dapat mencerminkan kesehatan dan kesejahteraan dari individu dan populasi, antropometri dapat juga digunakan untuk memprediksi performa, kesehatan, dan daya tahan hidup. Antropometri penting untuk kesehatan masyarakat dan juga secara klinis yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan sosial dari individu dan populasi. Selain itu, aplikasi antropometri mencangkup berbagai bidang karena dapat dipakai untuk menilai status pertumbuhan, status gizi dan obesitas, identifikasi individu, olahraga, militer, teknik dan lanjut usia. (6),(10)


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Antropometri

Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuruan dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbgai tingkat umur dan tingkat gizi.(6),(9)

Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. (9)

2.2 Ruang Lingkup Antropometri

Antropometri bisa sangat luas terapannya, tergantung pada pemahaman teoritis ilmuwan untuk mengaplikasikannya. Pemahaman teoritis ini mencangkup paling tidak ilmu kedokteran, kesehatan, biologi, pertumbuhan, gizi, dan patologi. (6)

Antropometri terbagi menjadi antropometri hidup dan antropometri skeletal-subdental. Hal ini karena antropologi biologis mencangkup rentang waktu, masa lalu dan masa kini, maka pengukuran dalam antropologi diaplikasikan ke rangka dan gigi maupun ke badan manusia hidup. Tiga tipe ukuran antropometri adalah ukuran vertikal, horizontal dan lingkaran. Pada ukuran gigi, 3 ukuran penting adalah mesiodisal, bukolinual, dan tinggi mahkota. Aplikasi antropometri mencangkup berbagai bidang karena dapat dipakai untuk menilai status pertumbuhan, status gizi dan obesitas, identifikasi individu, olahraga, dan lanjut usia. (6)

Antropometri untuk identifikasi, misalnya penentuan laki-laki atau perempuan pada sisa hayat yang hanya berupa tulang. Contohnya, diameter caput humeri dan fosa glenoidea, dan ukuran-ukuran kepala. Bila panjang fossa glonoidea lebih dari 32 mm, identifikasi rangka cenderung merujuk pada individu laki-laki (Indriati, 2004). (6)

Antropometri pada neonatal dan anak-anak menilai status gizi dan pertumbuhan, ukuran-ukuran yang penting adalah lingkar kepala, lingkar lengan atas, berat badan, dan tinggi badan. Hal ini karena ukuran tersebut berkaitan dengan pertumbuhan besar otak, maturitas tulang dan status gizi. Prinsip pertumbuhan anak adalah cepahlocaudal dan proximodistal, contohnya, pertumbuhan otak lebih dahulu optimal dibanding pertumbuhan organ disebelah kaudal otak. Demikian pula truncus lebih optimal pertumbuhannya dibandingkan tungkai. Pengetahuan ini merefleksikan mengapa ukuran lingkar kepala lebih penting daripada lingkar paha, misalnya, dalam menilai status pertumbuhan anak. (6)

Antropometri pada remaja menilai pertumbuhan remaja dalam hal maturitas skeletal dan dental, dan badan seiring dengan 5 macam pertumbuhan lainnya meliputi pertumbuhan kognitif, spirutual, hubungan dengan keluarga, hubungan sosial dan emosional. Adanya gangguan karena trauma/jejas/injuri pada satu aspek perkembangan dapat menganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek-aspek lainnya. Antropometri pada dewasa acap kali menilai obesitas, yang dilakukan dengan mengukur rasio lingkar pinggang dan pinggul, tebal lipatan kulit (lemak) sentral dan ekstrenitas, serta rasio tinggi dan berat badan dalam indeks massa badan. (6)

Antropometri lanjut usia menilai perubahan yang normal pada menua meliputi berkurangnya tinggi badan, tinggi duduk, dan panjang rentang tangan (Indriati, 2005). Sebaliknya lingkar dada dan dalam dada bertambah pada lanjut usia (Hayrflick, 1994; Indriati, 2005). (6)

Antropologi teknik/antropometri terapan (Human Engeenering) merupakan pengukuran badan ketika manusia sedang bekerja atau (mengfungsikan badannya). Beberapa ukuran penting dalam ukuran duduk, meliputi :

1. Panjang rentang lengan ke muka dan tangan menggenggam

2. Panjang lengan bawah ke muka siku fleksi tangan lepas

3. panjang dari ujung posterior pantat ke lutut paling anterior diukur horizontal,

4. panjang dari panjang posterior punggung ke ujung paling anterior tangan yang direntangkan ke depan,

5. tinggi dari tepi inferior pantat ke akrmion,

6. tinggi dari tepi inferior pantat ke siku ketika fleksi,

7. tinggi dari tepi inferior siku fleksi ke akronium dan

8. tinggi dari tepi inferior paha ke ujung posterior tumit (pternion)

Contoh-contoh ukuran ini pada intinya adalah agar seseorang yang sedang duduk bekrja harus cukup ruang disekitarnya sehingga dapat kerja dengan nyaman. (6)

Aplikasi antropometri sebagai metode bioantropologi ke dalam kedokteran menjadi bermakna apabila disertai latar belakang teori yang adekuat dan intregatif dengan cabang ilmu kedokteran, terutama faal, anatomi, dan biokimia. Dalam faal aplikasinya berupa pengukuran kebugaran kardiovaskuler dan respirasi; dalam anatomi berupa kebugaran musculo skeletal, dan dalam biokimia berupa hemodinamaika. Penelitian integratif setidaknya pada keempat bidang ini akan menghasilkan keluaran yang bermakna pada penilaina status gizi, obesitas, pertumbuhan, menua, dan kebugaran jantung dan paru-paru dalam kedokteran olahraga. Antropometri yang mula-mula dikembangkan para ahli antropologi biologis untuk meneliti variasi biologis manusia, kini telah dengan luas diaplikasikan ke bidang-bidang terkait. (6)

2.3 Antopometri Gizi

Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Dewasa ini dalam progam gizi masyarakat, pemantauan status gizi anak balita menggunakan metode antropometri, sebagai cara untuk menilai status gizi. Disamping itu pula dalam kegiatan penapisan status gizi masyarakat selalu menggunakan metode tersebut.(9)

Pada dasarnya jenis pertumbuhan dapat dibagi dua yaitu: pertumbuhan yang bersifat linier dan pertumbuhan massa jaringan. Dari sudut pandang antropometri, kedua jenis pertumbuhan ini mempunyai arti yang berbeda. Pertumbuhan linier menggambarkan status gizi yang dihubungkan pada saat lampau dabn pertumbuhan massa jaringan mengambarkan status gizi yang dihubungkan pada saat sekarang atau saat pengukuran. (9)

a. Pertumbuhan linier

Bentuk dari ukuran linier adalah ukuran yang berhubungan dengan panjang. Contohnya panjang badan, lingkar badan, dan lingkar kepala. Ukuran linear yang rendah biasanya menunjukkan keadaan gizi yang kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita waktu lampau. Ukuran linear yang paling sering digunakan adalah tinggi atau panjang badan. (9)

b. Pertumbuhan Massa Jaringan

Bentuk dan ukuran massa jaringan adalah massa tubuh. Contoh ukuran massa jaringan adalah berat badan, lingkar lengan atas (LLA), dan tebal lemak bawah kulit. Apabila ukuran ini rendah atau kecil, menunjukkan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan. Ukuran massa jaringan yang paling sering digunakan adalah berat badan. Bagan 2.1 di bawah ini memperlihatkan jenis ukuran antropometri gizi dan gambaran yang diberikannya. (9)

Bagan 2.1 Jenis Ukuran Antropometri Gizi


Antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. (9)

Keunggulan antropometri gizi sebagai berikut:

a. Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar.

b. Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat dapat melakukan pengukuran antropometri. Kader gizi (Posyandu) tidak perlu seorang ahli, tetapi dengan pelatihan singkat ia dapat melaksanakan kegiatannya secara rutin.

c. Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di daerah setempat. Memang ada alat antropometri yang mahal dan harus diimpor dari luar negeri, tetapi penggunaan alat itu hanya tertentu saja seperti "Skin Fold Caliper" untuk mengukur tebal lemak di bawah kulit.

d. Metode ini tepat dan akurat, karena dapat dibakukan.

e. Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau.

f. Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, dan gizi buruk, karena sudah ada ambang batas yang jelas.

g. Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya.

h. Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi. (9)

Di samping keunggulan metode penentuan status gizi secara antropometri, terdapat pula beberapa kelemahan.

a.Tidak sensitif

Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat. Di samping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti zink dan Fe.

b.Faktor di luar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.

c.Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi.

d.Kesalahan ini terjadi karena:

1.pengukuran

2.perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan

3.analisis dan asumsi yang keliru

e.Sumber kesalahan, biasanya berhubungan dengan:

1.latihan petugas yang tidak cukup

2.kesalahan alat atau alat tidak ditera

3.kesulitan pengukuran (9)

2.3.1 Jenis Parameter

Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain:

Umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit. Di bawah ini akan diuraikan parameter itu. (9)

Tabel 2.2 Parameter yang dianjurkan WHO untuk diukur dalam survei gizi

Usia


Pengamatan Di Lapangan


Pengamatan Lebih Rinci

0 – 1 tahun

1 – 5 tahun

5 – 20 tahun

> 20 tahun


Berat dan panjang badan

Berat dan panjang badan (sampai 3 tahun), tinggj badan (di atas 3 tahun), lipat kulit biseps & triceps, lingkar tangan lengan.

Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps.

Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps


Panjang batang badan; lingkar kepala & dada; diameter Krista iliaka, lipat kulit dada, triseps, dan sub-skapula.

Panjang batang badan (3 tahun), tinggi duduk (di atas 3 tahun), lingkari kepala & dada (inspirasi setengah), diameter bikristal, lipat kulit dada & sub-skapula, lingkar betis, rontgen posteroanterior tangan dan kaki.

Tinggi duduk, diameter bikristal, diameter biakromial, lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan & betis, rontgen Postero-anterior tangan dan kaki.

Lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis.

1. Umur

Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. (9)

Menurut Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur digunakan adalah tahun umur penuh (Completed Year) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (Completed Month). (9)

Contoh: Tahun usia penuh (Completed Year)

Umur: 7 tahun 2 bulan, dihitung 7 tahun

6 tahun 11 bulan, dihitung 6 tahun

Contoh: Bulan Usia penuh (Completed Month)

Umur: 4 bulan 5 hari, dihitung 4 bulan

3 bulan 27 hari, dihitung 3 bulan

2. Berat Badan

Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR. Dikatakan BBLR apabila berat bayi lahir di bawah 2500 gram atau di bawah 2,5 kg. Pada masa bayi-balita, berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis seperti dehidrasi, asites, edema dan adanya tumor. Di samping itu pula berat badan dapat dipergunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan makanan. (9)

Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak tubuh cenderung meningkat, dan protein otot menurun. Pada orang yang edema dan asites terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi. (9)

Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan:

1. Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat yang lain.

2. Mudah diperoleh dan relatif murah harganya.

3. Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg.

4. Skalanya mudah dibaca.

5. Cukup aman untuk menimbang anak balita. (9)

Alat yang dapat memenuhi persyaratan dan kemudian dipilih dan dianjurkan untuk digunakan dalam penimbangan anak balita adalah dacin.

Penggunaan dacin mempunyai beberapa keuntungan antara lain:

1. Dacin sudah dikenal umutn sampai di pelosok pedesaan.

2. Dibuat di Indonesia, bukan impor, dan mudah didapat.

3. Ketelitian dan ketepatan cukup baik. (9)

Gambar 2.1 Dacin


Dacin yang digunakan sebaiknya minimum 20 kg dan maksimum 25 kg. Bila digunakan dacin berkapasitas 50 kg dapat juga, tetapi hasilnya agak kasar, karena angka ketelitiannya 0,25 kg. (9)

3. Tinggi Badan

Tinggi atau panjang badan merupakan indikator umum ukuran tubuh dan panjang tulang. Namun, tinggi saja belum dapat dijadikan indikator untuk menilai status gizi, kecuali jika digabungkan dengan indikator lain seperti usia dan berat badan. Penggunaan tinggi, atau panjang, bukan tanpa kelemahan. Pertama, baku acuan yang tersedia umumnya terambil dari penilaian tinggi badan subjek yang berasal dari masyarakat berstatus gizi baik di negara maju. Kedua, defisit pertumbuhan linier baru akan terjelma manakala defisiensi telah berlangsung lama yang berarti tidak akan termanifestasi semasa bayi. Jika bayi terukur lebih pendek ketimbang baku acuan, tidak berarti bayi tersebut tengah malnutrisi pascanatal, melainkan dampak dari ukuran lahir rendah. Ketiga, secara genetik setiap orang terlahir menurut ukuran yang tidak serupa: orang yang jika dibandingkan dengan populasi "acuan" berukuran lebih pendek tidak langsung berarti malnutrisi. (1)

Tinggi badan diukur dalam keadaan berdiri tegak lurus, tanpa alas kaki, kedua tangan merapat ke badan, punggung dan bokong menempel pada dinding, dan pandangan diarahkan ke depan.

Gambar 2.2 Posisi Tubuh Anak pada Waktu Diukur (Sumber: Depkes Rl, 1999. Pedoman Pemantauan Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah (TBABS), Jakarta, hlm.7) (9)


4. Lingkar Lengan Atas (LLA)

Lingkar lengan atas (LLA) dewasa ini memang merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga yang lebih murah. (9)

Pengukuran LLA adalah suatu cara untuk mengetahui risiko kekurangan energi protein (KEP) wanita usia subur (WUS). Pengukuran LLA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka pendek. Pengukuran LLA digunakan karena pengukurannya sangat mudah dan dapat dilakukan siapa saja. (9)

Beberapa tujuan pemeriksaan LLA adalah mencakup masalah WUS baik ibu hamil maupun calon ibu, masyarakat umum dan peran petugas lintas sektoral. Adapun tujuan tersebut adalah:

a. Mengetahui risiko KEK WUS, baik ibu hamil maupun calon ibu, untuk menapis wanita yang mempunyai risiko melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).

b. Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar lebih berperan dalam pencegahan dan penanggulangan KEK.

c. Mengembangkan gagasan baru di kalangan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.

d. Meningkatkan peran petugas lintas sektoral dalam upaya perbaikan gizi WUS yang menderita KEK.

e. Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran WUS yang menderita KEK. (9)

Lingkar lengan atas diperiksa pada bagian pertengahan jarak antara olekranon dan tonjolan akromion. Ambang batas LLA WUS dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LLA kurang 23,5 cm atau dibagian merah pita LLA, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir rendah (BBLR). BBLR mempunyai risiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak. (1),(9)

5. Lingkar Kepala

Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara praktis, yang biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala. Contoh yang sering digunakan adalah kepala besar (Hidrosefalus) dan kepala kecil (Mikrosefalus). (1),(9)

Lingkar kepala terutama dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, akan tetapi besar lingkar kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimanapun juga ukuran otak dan lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan gizi. (9)

Bagan 2.2 Skema tindak lanjut pengukuran LLA (9)


6. Lingkar Dada

Biasanya dilakukan pada anak yang berumur 2 sampai 3 tahun, karena rasio lingkar kepala dan lingkar dada sama pada umur 6 bulan. Setelah umur ini, tulang tengkorak tumbuh secara lambat dan pertumbuhan dada lebih cepat. Umur antara 6 bulan dan 5 tahun, rasio lingkar kepala dan dada adalah kurang dari satu, hal ini dikarenakan akibat kegagalan perkembangan dan pertumbuhan, atau kelemahan otot dan lemak pada dinding dada. Ini dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan KEP pada anak balita. (1),(9)

7. Jaringan Lunak

Otak, hati, jantung, dan organ dalam lainnya merupakan bagian yang cukup besar dari berat badan, tetapi relatif tidak berubah beratnya pada anak malnutrisi. Otot dan lemak merupakan jaringan lunak yang sangat bervariasi pada penderita KEP. Antropometri jaringan dapat dilakukan pada kedua jaringan tersebut dalam pengukuran status gizi di masyarakat. (9)

Lemak subkutan (Sub-Cutaneous Fat)

Penelitian komposisi tubuh, termasuk informasi mengenai jumlah dan distribusi lemak subkutan, dapat dilakukan dengan bermacam metode:

1. Analisis Kimia dan Fisik (melalui analisis seluruh tubuh pada autopsi).

2. Ultrasonik.

3. Densitometri (melalui penempatan air pada densitometer)

4. Radiological anthropometry (dengan mengunakan jaringan yang lunak).

5. Physical anthropometry (menggunakan skin-fold calipers)

Dari metode tersebut diatas, hanya antropometri fisik yang paling sering atau praktis digunakan di lapangan. Bermacam-macam skin-fold calipers telah ditemukan, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa alat tersebut mempunyai standard atau jangkauan jepitan (20-40 mm2), dengan ketelitian 0,1 mm, tekanan yang konstan 10 gram/mm2). Jenis alat yang sering digunakan adalah Harpenden Calipers. Alat itu memungkinkan jarum diputar ke titik nol apabila terlihat penyimpangan. (9)

2.3.2 Indeks Antropometri

Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut Indeks Antropometri.

Dalam pengukuran indeks antropometri sering terjadi kerancuan, hal ini akan mempengaruhi interpretasi status gizi yang keliru. Masih banyak diantara pakar yang berkecimpung dibidang gizi belum mengerti makna dari beberapa indeks antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Perbedaan penggunaan indeks tersebut akan memberikan gambaran prevalensi status gizi yang berbeda. (9)

Gambar 2.3 Harpenden Calipers


Gambar 2.4 Teknik pengukuran lemak subkutan


2.3.3 Indeks Massa Tubuh

Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal. (9)

Laporan FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Index (BMI). Di Indonesia istilah Body Mass Index diterjemahkan menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT mempakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. (9)

Tabel 2.3 Penggolongan Keadaan Gizi menurut Indeks Antropometri (Sumber: Puslitbang Gizi. 1980. Pedoman Ringkas Cara Pengukuran Antropometri dan Penentuan Gizi. Bogor) (9)

STATUS GIZI


Ambang batas baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks

BB/U


TB/U


BB/TB


LLA/U


LLA/TB

Gizi Baik


> 80%


> 85%


> 90%


> 85%


> 85%

Gizi Kurang


61-80%


71-85%


81-90%


71-90%


76-85%

Gizi Buruk


≤ 60%


≤70%


≤ 80%


≤ 70%


≤75%

Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur diatas 18 tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan. Disamping itu pula IMT tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus (penyakit) lainnya seperti adanva edema, asites dan hepatomegali. (9)

Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut :

IMT = Berat Badan (kg)

Tinggi badan (m) 2

Berat badan (dalam kilogram) dibagi kuadrat tinggi badan (dalam meter).

Tabel 2.4 Klasifikasi status gizi berdasarkan IMT

Status Gizi


IMT

KKP I


<>

KKP II


16,0-16,9

KKP III


17,0-18,4

Normal


≥18,5%-<25

Obesitas I


25-29,9

Obesitas II


30-40

Obesitas III


>40

Jika tinggi badan tidak dapat diukur, terutama pada landia yang telah renta atau yang mengalami kelainan tulang belakang (kifosis, skoliosis), maka tinggi lutut dan panjang rentang tangan dapat digunakan sebagai pengganti.(1)

2.3.4 Aplikasi Antropometri

Penggunaan antropometri sebagai alat ukur status gizi semakin mendapat perhatian karena dapat digunakan secara luas dalam program-program perbaikan gizi di masyarakat. Di Indonesia, seperti halnya dengan negara-negara lain di dunia, antropometri merupakan salah satu alat ukur status gizi yang telah digunakan dalam berbagai kegiatan dan program gizi. Penggunaan antropometri ini meliputi berbagai aspek antara lain: (9)

a. Kualitas Sumber Daya Manusia

Hasil penelitian membuktikan bahwa ibu hamil yang kurang gizi akan cenderung melahirkan bayi yang kurang gizi. Berat bayi yang dilahirkan bisa kurang dari 2500 gr atau BBLR. Bayi yang lahir BBLR mempunyai ukuran proposional kecil seperti kepala, badan, tangan, kaki dan organ-organ lainnya dalam tubuh. Dalam keadaan kekurangan gizi yang lebih berat, retardasi otak dapat mencapai 10-20%.(9)

Volume otak yang berukuran kecil menyebabkan kecerdasan anak berkurang secara nyata. Selain itu, bayi BBLR tidak mempunyai cukup cadangan zat gizi dalam tubuhnya sehingga mudah terserang penyakit, terutama penyakit infeksi, hipotermi dan akibatnya mudah meninggal dunia. (9)

b. Penilaian Status Gizi

Penilaian status gizi dengan cara antropometri banyak digunakan dalam berbagai penelitian atau survei, baik survei secara luas dalam skala nasional maupun survey untuk wilayah terbatas. (9)

c. Pemantauan Pertumbuhan Anak

Program gizi, khususnya UPGK telah meluas ke berbagai pedesaan di Indonesia. Dalam program ini telah dikembangkan program penimbangan berat badan anak balita dan penggunaan kartu menuju sehat (KMS) untuk memantau keadaan kesehatan dan gizi melalui pertumbuhan atas dasar kenaikan berat badan. (9)

KMS adalah alat untuk mencatat dan mengamati perkembangan kesehatan anak yang mudah dilakukan oleh para ibu. Dengan membaca garis perkembangan berat badan anak dari bulan ke bulan pada KMS, seorang ibu dapat menilai dan berbuat sesuatu untuk berusaha memperbaiki dan meningkatkan perkembangan kesehatan anaknya. (9)

d. Survei Sosial Ekonomi Nasional

Pada survei sosial ekonomi nasional (SUSENAS) tahun 1986 atas kerja sama Biro Pusat Statistik (BPS) dan Direktorat Gizi (Depkes) dilakukan integrasi pengumpulan data status gizi anak balita dengan melakukan pengukuran berat badan. Indeks yang digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U) dan klasifikasi yang digunakan sesuai dengan lokakarya antropometri tahun 1975. (9)

Pada tahun 1987 dan kemudian tahun 1989 juga telah dilakukan survei sosial ekonomi nasional. Hasil susenas ini disajikan dalam 4 klasifikasi yaitu gizi baik, gizi sedang, gizi kurang dan gizi buruk. (9)

Ada 2 hal yang perlu mendapat perhatian dari penyajian hasil ini yaitu:

a) Angka-angka pengelompokan status gizi disajikan dengan memisahkan anak laki-laki dengan anak perempuan, sedangkan dalam baku yang digunakan, kedua Janis kelamin digabung. Untuk semua provinsi, prevalensi gizi baik pada anak laki-laki selalu lebih tinggi dibanding dengan anak perenpuan. Praevaluasi KEP pada anak perempuan selalu lebih tinggi dibanding dengan anak laki-laki. Hal ini dapat memberikan kesimpulan yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

b) Istilah "kurang atau gizi kurang" untuk klasifikasi BB/U 60-69, 99% baku Harvard, dan sedang untuk BB/U 70-79,9 baku Harvard. Hal ini menimbulkan keracuan dalam menghitung besar prevalensi KEP. (9)

e. Kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG)

Dewasa ini (1999), Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI, melakukan pematauan status gizi. Tujuan umum kegiatan ini adalah tersedianya informasi status gizi balita secara berkala dan terus-menerus, guna evaluasi perkembangan status gizi balita, penetapan kerja sama dan perencanaan jangka pendek. (9)

Baku rujukan yang digunakan adalah WHO-NCHS dengan lima klasifikasi, yaitu:

Gizi Lebih = >120%Median BB/U

Gizi Baik = 80%-120%Median BB/U

Gizi Sedang = 70%-79,9%Median BB/U

Gizi Kurang = 60%-69,9%Median BB/U

GiziBuruk = <60%,median>

f. Kegiatan di Klinis dalam Hubungan dengan Penyakit dan Pengobatan

Dalam hubungan dengan penentuan penyakit, antropometri gizi perlu di pertimbangkan. Penyakit hidrocepalus ditentukan dengan melihat ukuran dari kepala seorang anak. Pertimbangan antropometri seperti berat badan banyak di gunakan dalam ilmu kesehatan anak atau pediatrik. (9)

Salah satu faktor yang perlu di perhatikan dalam penentuan dosis obat adalah antropometri. Antropometri yang sering di gunakan adalah berat badan. Dengan mengetahui berat badan di mungkinkan pemberian dosis obat yang tepat, sehingga tidak terjadi over dosis atau kekurangan dosis. (9)

g. Swa Uji Risiko Kekurangan Energi Kronis

Jenis antropometri yang di gunakan untuk mengukur risiko KEK pada wanita usia subur (WUS) adalah lingkar lengan atas (LLA). Sasaran WUS adalah wanita pada usia 15 sampai 45 tahun yang terdiri dari remaja, ibu hamil.ibu menyusui dan pasangan usia subur (PUS). Ambang batas LLA WUS dengan risiko KEK adalah 23,5 cm. Apabila LLA kurang dari 23,5 cm artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan BBLR. (9)

Untuk mengetahui BBLR, bayi yang baru lahir (0-30 hari) dapat diukur dengan pita LLA dengan ambang batas 9,5 cm. Apabila bayi tersebut LLA-nya di bawah 9,5 cm, maka perlu diambil tindakan agar dapat meningkatkan pertumbuhan dan berat badannya. Salah satu tindakannya adalah dengan pemberian makanan yang tepat sesuai dengan kondisi bayi. (9)

h. Kartu Menuju Sehat (KMS) Ibu Hamil

KMS ibu hamil untuk meningkatkan motivasi ibu hamil untuk datang ke Posyandu sebagai cakupan ibu hamil meningkat. KMS ibu hamil juga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil di Posayandu oleh Kader Gizi dan Kesehatan. Disamping itu pula bermanfaat untuk menurunkan angka BBLR dengan cara meningkatkan kesadaran ibu hamil terhadap pentingnya menjaga kesehatan dan makanan bergizi selama hamil. (9)

Sejak awal tahun 1990, KMS ibu hamil telah di tetapkan oleh Depkes untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan antenatal. Dewasa ini, KMS ibu hamil sudah beredar di seluruh Indonesia. (9)

Dalam KMS ibu hamil terdapat berbagai informasi, antara lain: Contoh lingkungan sehat, riwayat kehamilan sebelumnya, faktor-faktor risiko ibu hamil dan kurve berat badan ibu hamil. Indeks yang di gunakan dalam KMS ibu hamil adalah berat badan (kg) dan umur kehamilan (dalam minggu). (9)

i. Pemantauan Status Gizi Orang Dewasa

Mempertahankan berat badan normal akan memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup (Life expectancy) yang lebih panjang. Berat badan yang kurang dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi, sementara berat badan lebih akan meningkatkan risiko terhadap penyakit degeneratif. (9)

Salah satu cara untuk memantau status gizi orang dewasa adalah dengan mengukur indeks massa tubuh. Pada tahun 1987, pertemuan pertama IDECG (International Dietary Energi Concultancy Group) di Guatemala City, yang merekomendasikan indeks massa tubuh untuk mengukur status gizi orang dewasa. Cara ini kemudian dapat di terima oleh WHO dan FAO dan sekarang telah dipakai di seluruh dunia. (9)

Untuk memantau status gizi orang dewasa, telah dikembangkan grafik IMT orang dewasa (umur diatas 18 tahun) dengan menggunakan indeks berat badan menurut tinggi badan. (9)

2.4 Antropometri Olahraga

Kinantropometri adalah studi ukuran dan bentuk badan manusia dan bagaimana karekteristik-karakteristik tersebut berhubungan dengan gerakan manusia dan pencapaian prestasi dalam olahraga.(5)

Olahraga dapat dibagi menjadi setidak-tidaknya 4 upaya : meningkatkan tonus otot, meningkatkan kelenturan, menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan dan kebugaran umum. Namun, olahraga dapat pula dibagi menjadi olahraga professional dan olaharaga untuk menjaga kesehatan dan hobi. Pentingnya olahraga bagi kesehatan tercermin dalam semboyan mens sana incorpore sano, “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Definisi sehat sangat beragam, tetapi sehat dapat didefinisikan sebagai keadaan yang seimbang dalam jiwa dan raga tempat sistem kekebalan tubuh bekerja dengan baik. Bila kekebalan sistem tubuh baik ketika mikroba, virus, dan polusi linhkungan menganggu tubuh dapat menangkalnya.(3)

Peran antropometri dalam olahraga beragam mulai dari penentuan cabang olahraga yang dapat memaksimalkan prestasi atlet, penilaian volume oksigen maksimal (mm/kg/menit) dalam status kebugaran seseorang, pengukuran metabolic equivalent (MNT), penilaian komposisi lemak, tulang, kadar air, dan massa otot. (3)

Kategori kebugaran fisik dinilai dari ketahanan kardiorespiratori, tetapi penilaian lain yang terkait tidak perlu dilakukan, misalnya :

a. volume oksigen maksimal (paru-paru menampung oksigen),

b. human energetic : keseimbangan energi

c. Physical activity level (PAL)/tingkat aktivitas fisik,

d. Intek Nutrisi,

e. Kelenturan badan (fleksibilitas). (3)

Selain kebugaran fisik, acap kali biokimiawi darah juga menjadi bagian integratif antropometri terutama untuk menentukan hemogoblin, glukosa, kolestrol, high dencity lipid, low dencity lipid, dan trigliseryde dalam berada pada ambang kisaran normal atau tidak. (3)

Penilaian tingkat kebugaran seseorang dapat dilakukan dengan mengevaluasi kapasitas aerobik melalui berjalan satu mil (0,62 km) kemudian menghitung waktu yang diperlukan dan denyut nadi setelah berjalan. (3)

Intensitas olahraga dapat pula diukur dengan mengukur detak jantung, denyut nadi. Ideal training untuk target tetap jantung adalah antara 50-85% detak jantung maksimal. Bila kita ketahui detak jantung istirahat 60 dan detak jantung maksimal 170 pada orang berusia 60 tahun, detak jantung olahraga 50% dari kapasitas fungsional maksimal adalah: (3)

170 - 60 = 110

110 x 0,5 (50%) = 55

55 + 60 = 115 detak per menit (target detak jantung saat olahraga)

Gambar 2.5 Program olahraga berdasarkan tujuan dan tipe latihan (diadopsi dari Strength Reebok Training Ankle/Wrist Weight Workout Programme) (3)


2.4.1 Modernisasi

Modernisasi membuat manusia semakin sederntari, kurang gerak badannya. Pada era 1970-an, masih banyak sumur timba dan pompa tangan tetapi dalam 4 dekade, pompa listrik untuk mengalirkan listrik bagi keperluan mandi dan mencuci sudah menjadi sangat umum digunakan di kota-kota. Belakangan, laundry dengan mesin bermunculan di perumahan-perumahan. Dahulu, pemandangan orangtua memberikan tugas anakanya setiap pagi menimba air utuk memenuhi bak mandi umum dilihat, dan perlu waktu 1 jam untuk mengisi bak mandi ukuran 1 x 1 m kedalam 120 cm. Aktivitas fisik yang bermanfaat ini menjaga kesehatan dengan kebugaran otot, kebugaran jantung, dan pembakaran kalori yang dapat mencapai 300 kkal per jam; setara dengan anjuran olahraga kardio belakangan ini. Pemandangan anak-anak mengayuh sepeda yang dapat mencapai 3-7 km adalah hal biasa, “tetapi kenyamanan menggunakan mesin yang menggerakan roda kendaraan” dengan mengambil energi dalam perut bumi (bensin) membuat pembakaran kalori manusia berkurang sangat drastis. Kemajuan teknologi dan perbaikan ekonomi tidak lagi membuat manusia membakar kalori tubuhnya untuk memenuhi hidup pekerjaan rumah, tetapi mengganti dengan energi dari pembangkin tenaga listrik. Sepeda tergantikan sepeda motor dan sumur timba tergantingkan pompa listrik adalah fenomena umum di kota-kota Indonesia. Di kota-kota, manusia tidak lagi berkeringat dan memompa darah menuju dan dari jantung lebih cepat dalam kesehariaannya. Akibatnya, kebuguran menurun dan berbagai penyakit degeneratif menimpa. Diabetes, penyakit jantung koroner, dan osteoporosis merupakan manifestasi dari kurangnya aktivitas fisik badan menggunakan kekuatan otot secara kontinue, intens, dan dengan durasi cukup. Kurangnya aktivitas fisik diperburuk dengan banyaknya makanan yang telah diproses yang beredar di pasaran, yaitu makanan diawetkan dengan gula dan garam yang berlebihan agar tahan lama. Karbohidrat pun diproses sehingga dalam tubuh cepat sekali dipecah menjadi glukosa, oleh tubuh cepat pula diserap dalam darah, dan cepat habis pula sehingga ras lapar muncul lagi tidak begitu lama setelah glukosa terurai semua. Hal ini menyebabkan intake kalori bertambah karena makan lagi. (3)

Aktifitas mental (berpikir) memerlukan sedikit sekali kalori dibanding gerakan otot (aktivitas fisik). Dapat dibayangkan betapa kehidupan modern yang pekerjaannya banyak duduk di kantor, misalnya pegawai bank, broker saham, mahasiswa, dokter memeriksa pasien, guru dan dosen mengajar, sangat sedikit sekali pembakaran kalorinya dibandingkan mencangkul di sawah, berkebun, dan berburu hewan yang harus berjalaan jauh atau tukang batu memplester dinding dan pekerjaan fisik lainnya. (3)

2.5 Antropometri Teknik

Bila dalam antropologi militer standar antropometri dibuat untuk personel militer, antropologi teknik lebih menekankan ukuran-ukuran badan manusia ketika berfungsi, agar ukuran-ukuran tersebut dipakai untuk membuat produk bagi konsumen dengan memperhatikan keamanan konsumen. Produk bagi konsumen ini dapat berupa mainan anak, meja belajar, mesin jahit, maupun mesin-mesin dan perangkat rumah tangga. (5)

Antropologi teknik, yang juga disebut ergonomi. Kata ergonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu:

:Ergon” yang artinya Kerja

“Nomos” yang berarti peraturan / hukum

Jadi secara harfiah ergonomi diartikan sebagai “Ilmu aturan tentang kerja”, atau ergonomi merupakan pengukuran manusia ketika sedang bekerja, berguna untuk mendesain ruang kerja, proses, dan produk agar manusia dapat menggunakannya dengan efisien, mudah, dan aman. Misalnya, meja operasi, dan kursi duduk untuk doketr gigi dan pasien gigi. Secara umum tinjauan fisik, psikologis dan mental penting untuk kenyamanan dan keamanan, baik alat, ruang, maupun produk pekerjaan. Jadi, manusia sebagai pusat pertimbangan. (5),(8)

The International Ergonomics Association mendefinisikan ergonomi sebagai berikut: “Studi aspek-aspek anatomis, fisiologis dan psikologis pada manusia dalam lingkungan kerja. Terutama memperhatikan optimasi efisiensi, kesehatan, keamanan, dan kenyamanan orang di lingkungan kerja, di rumah, dan tempat bermain. Hal ini umumnya memerlukan studi system-sistem tempat manusia, mesin-mesin, dan ligkungan berinteraksi, dengan tujuan menyesuaikan tugas/ pekerjaan dengan manusia”(Kothiyal, 1996:260). (5)

Tujuan dari ergonomi itu sendiri adalah bagaimana mengatur kerja agar tenaga kerja dapat melakukan pekerjaannya dengan rasa aman, selamat, efisien, efektif, dan produktif, disamping juga rasa “nyaman” serta terhindar dari bahaya yang mungkin timbul di tempat kerja.(8)

Antropometri yang merupakan ukuran tubuh digunakan untuk merancang atau menciptakan suatu sarana kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh pengguna sarana kerja tersebut. Oleh para ahli rancang bangun, antropometri digunakan untuk mendapatkan suatu bentuk rancang bangun yang disebut sebagai suatu rancang bangun yang ergonomik, karena menggunakan ukuran tubuh pengguna rancang bangun sebagai dasar perancangan sarana kerja. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa manusia merupakan (ukuran tubuhnya) sebagai titik sentral dalam rancang bangun.

Para ahli antropometri telah memulai pengukuran terhadap tubuh manusia sejak berates ribu tahun yang lalu, tetapi baru setalah 50 tahun terakhir mempunyai parameter yang tepat untuk digunakan pada suatu pola yang tersusun bagi peningkatan rancangan dan pengukuran peralatan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semua peralatan dan barang yang dipergunakan dalam suatu usaha atau industri serta semua ruangan kerja dimana pabrikasi dilakukan akan berkaitan dengan tubuh manusia.

Dalam merancang ruang kerja, terdapat empat prinsip penting menurut Sanders & McCormick (1992) dalam Khotiyal (2004):

1. Prinsip derajat kepentingan: benda-benda yang penting harus di lokasi yang mudah diakses dan dimanfaatkan.

2. Prinsip sering dipakai: benda-benda yang paling sering dipakai harus di lokasi yang paling mudah diakses dan dimanfaatkan.

3. Prinsip fungsional: benda-benda yang fungsinya atau kegiatan-kegiatannya berhubungan harus dikelompokan bersama, dan

4. Prinsip berurutan: benda-benda yang secara umum digunakan berurutan harus dikelompokan bersama dan diletakkan cocok dengan urutan pemakaian. (5)

Pada lingkungan pabrik yang serba otomatis pun, manusia masih harus membuat dan memperbaiki mesin dan produk yang dihasilkan lewat jalur perakitan yang dirancang bagi manusia penggunanya. Seperti diketahui bahwa ukura alat kerja menentukan sikap, gerak dan posisi kerja tenaga kerja, dengan demikian penerapan antropometri mutlak diperlukan untuk menjamin adanya sistem kerja yang baik.(8)

Ukuran alat-alat kerja erat kaitannya dengan penggunanya. Bila alat-alat kerja tersebut tidak sesuai ukurannya dengan ukuran tubuh tenaga kerja sebagai pelaku produksi, maka tenaga kerja tersebut akan merasa tidak nyaman dan akan lebih lamban dalam bekerja, yang pada akhirnya akan timbul suatu kelelahan kerja atau gejala penyakit otot yang lain akibat melakukan pekerjaan dengan cara yang tidak alamiah. Pengukuran terhadap jangkauan tangan tenaga kerja pun mutlak diperlukan baik itu untuk pekerjaan berdiri maupun duduk.(8)

Gambar 2.6 Dimensi jangkauan tangan pada posisi kerja duduk dan berdiri


2.6 Antropometri Militer

Antropometri untuk kemampuan penerimaan personil militer telah lama dilakukan, ukuran-ukuran seperti berat badan, tinggi badan perhitungan indeks massa badan, lingkar dada, dan tinggi pubis, dipakai sebagai indikator kebugaran untuk membawa beban, berbaris, bahkan beradu fisik (Davenport dan Lofe, 1921; dalam Gordon dan friedl). Mengapa antropometri militer perlu? Karena gerakan-gerakan fisik dalam militer sangat spesifik dibanding dengan jenis pekerjaan lain, dan perlu pakaian seragam khusus pula. Misalnya, tinggi crotch tidak dapat begitu saja bisa makan dengan panjang tungkai fungsional dan tinggi trokanter (Gordon dan friedl, 1994). Selain itu, antropometri militer penting untuk menyeleksi personel militer agar alat-alat standar militer dapat dilakukan oleh personel militer tersebut, dan penilaian presentasi lemak badan penting untuk mendapatkan personel dengan kebugaran fisik yang baik. menurut Gordon dan friedl (tahun 1994), personel di Amerika Serikat dengan berat badan terlalu rendah atau terlalu tinggi cenderung keluar ketika telah masuk militer. Namun, tidak diterangkan penyebab keluarnya personel militer dengan spesifikasi seperti ini. Mariner Amerika Serikat mensyaratkan presentase berat badan 20% untuk penerimaan personel laki-laki dan 26% untuk peremuan (Gordon dan friedl, 1994). Namun demikian, setelah penerimaan perlu mempertahankan presentase lemak badan agar konstan meskipun diizinkan berfluktuasi 4%, baik pada laki-laiki maupun perempuan. Presentase badan laki-laki lebih mudah diprediksi berdasarkan lemak abdominal, tetapi pada perempuan karena lemak lebih menyebar tidak semudah pada laki-laki untuk memprediksi presentase berat badan. Pengurangan berat badan dikalangan AS biasanya selama 8 minggu, dengan penilaian pengalaman aerobik, kekuatan, dan kesehatan.(4)

Rumus persamaan regresi untuk prediksi presentase lemak badan korps marinir AS (Wright, Dotson, & Davis, 1980, 1981; Gordon & Friedl, 1994). (4)





Persentase lemak laki-laki = (0,740 X lingkar abdomen setinggi pusar) - (1,249 X lingkar leher) + 40,985

Persentase lemak perempuan = (1,051 lingkar biceps) - (1,522 X lingkar lengan bawah) - (0,879 X lingkar leher) + (0,326 X lingkar abdomen setinggi pusar) + (0,579 X lingkar paha) + 0,707



Persamaan regresi untuk prediksi lemak badan untuk korps AS diatas berdasarkan penelitian pengukuran 460 marinir AS. Rumus regresi ini perlu dibuat untuk militer Indoesia dengan mengukur status antropometri personil militer Indonesia sehingga ada standar bagi militer Indonesia. Hal ini karena ada perbedaan distribusi lemak badan antar ras dan etnik. Bila komposisi mariner AS adalah Hispanik, kulit putih dan kulit hitam di Indonesia lain lagi. (4)

Selain persentase lemak badan, status antropometri penting lainnya untuk penerimaan personel militer adalah tinggi badan, tinggi duduk, tinggi crotch, rentang lengan panjang dari pantat ke tungkai, panjang dari pantat ke lutut, dan rentang fungsional, terutama bagi pilot. Pesawat-pesawat tempur biasanya dirancang rendah secara vertikal di ruang kokpit untuk meminimalkan target pandang lawan sehingga seleksi penerimaan fisiknya, sangat penting ukuran pilot sesuai dengan ruang mungil di kokpit pesawat-pesawat tempur. Sebagai gambaran, tabel 2.5 memuat status antropometri yang disyaratkan bagi pilot militer di Amerika Serikat. (4)

Ukuran lingkar pundak juga sangat penting bagi personel militer karena pekerjaannya yang acapkali berhubungan dengan menyandang ransel, mengalungkan senapan dan peluru, mengangkat, menjinjing, dan membawa barang. Pundak yang kuat penting agar dapat bergerak dan berfungsi dengan baik ketika membawa beban sembari berjalan, merangkak menghindari ranjau, atau berlari. (4)

Tabel 2.5 Pembatasan status antropometri pada tentara di Amerika Serikat (diadaptasi dari Gordon & Friedl (1994) yang bersumber dari Chase (1990); NR 15-34 (1991); dan AFR 160-43 (1987)) (4)

Jenis Pekerjaan


Pembatasan Status Antropometri

USAF (United States Air Force)/ Angkatan Udara Amerika Serikat

Flaying Class II

Flying trainees


Tinggi badan: 162-193 cm

Tinggi badan: 162-193 cm

Tinggi duduk: 86-99 cm

USA (United States Army)

Angkatan Darat dan Umum


Tinggi crotch: ≥ 76 cm

Rentang lengan/span: ≥ 164 cm

Inggi duduk ≤ 102 cm

Berat badan ≤ 104 kg

OVI Mohawk

OH58 Kiowa


Berat Badan ≤ 100 kg

Tinggi duduk ≤ 95 cm

USN (United States Navy)/ Angkatan Laut Umum


Tinggi badan :

Laki-laki ≥ 157 cm

Perempuan ≥ 147 cm

Tinggi duduk: 81-104 cm

Panjang pantat ke tungkai: 91-127 cm

Panjang pantat ke lutut: 56-71 cm

Jangkauan fungsional: 71 cm

Pesawat dengan kursi ejected


Berat badan: 60-99 Kg

Perangkat pertahanan seperti helm, masker oksigen, goggle untuk melihat di malam hari, binokuler, baju perisai anti peluru, sepatu boot, respirator, tas punggung, kursi-kursi kru dalam pesawat tempur, kapal selam, dan tank semuanya dibuat dengan ukuran tertentu sehingga penerimaan personel angkatan bersenjata harus memiliki standar antropometri tertentu pula. Selain itu, secara berkala, personel angkatan bersenjata harus dinilai status antropometrinya agar dapat mempertahankan status kebugaran, stamina, dan tetap dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan ukuran baju seragam dan berbagai perangkat pertahanan. (4)

Menurut Goedon & Friedl (1994), antropmetri militer setidak-tidaknya di Amerika Serikat ke depan lebih berfokus pada pemanfaatan teknologi memindai (scanning), yaitu wajah dan kepala dipindai sehingga pemakaian helm efisien. Hal ini karena di masa depan, helm akan banyak dipasangi alat yang bermanfaat untuk tugas militer. (4)

2.7 Pemeriksaan Antropometri di Puskesmas Karawang Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang

Di Puskesmas Karawang Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang, dalam bidang antropometri gizi, petugas Puskesmas mengukur berat badan balita disetiap Posyandu yang diselenggarakan sekitar 1 bulan 1 kali di setiap RW dengan menggunakan timbangan dacin. Untuk panjang atau tinggi badan menggunakan alat ukur panjang bayi atau baby measuring tape untuk balita, dan alat ukur tinggi yang dipasang di dinding. Untuk orang dewasa, dalam mengukur berat badan dan tinggi badan menggunakan alat timbang yang disertai alat ukur tinggi badan atau timbangan tinggi badan. Lingkar lengan atas diukur apabila ada dugaan terjadi ibu kurang energi kronis (KEK) pada ibu.

Dari hasil pengukuran status gizi, berdasarkan laporan tahunan UPTD Puskesmas Karawang pada tahun 2009 jumlah kasus gizi buruk di kecamatan Karawang Barat berjumlah 48 orang, namun semuanya telah dilakukan intervensi.

Sedangkan pemeriksaan fisik secara antropometri dalam hal mendapatkan surat keterangan sehat yang diperiksakan hanya berat dan tinggi badan. Sedangkan pemeriksaan antropometri lain jarang sekali dilakukan.


BAB III

KESIMPULAN

Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. aplikasi antropometri mencangkup berbagai bidang karena dapat dipakai untuk menilai status pertumbuhan, status gizi dan obesitas, identifikasi individu, olahraga, militer, teknik dan lanjut usia. Antropometri penting untuk kesehatan masyarakat dan juga secara klinis yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan sosial dari individu dan populasi. Antropometri sebagai salah satu cara untuk menilai status gizi, memiliki keunggulan dan kelemahan, sehingga pemeriksaannya sangat tergantung dari tujuan pengukuran. Jenis pemeriksaan antropometri yang dilakukan di Puskesmas Karawang yaitu dalam mengukur berat dan panjang /tinggi badan yang berhubungan dengan mengetahui status gizi seseorang.

BUTUH DAFTAR PUSTAKANYA ??? (Gambar dan Bagan Sulit di upload, jadi gak muncul)

hubungi ajah 02291339839

Jangan berpikiran macam2 dulu Dok,he2.... SMS aja dulu

Salam TS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar