Selasa, 05 Oktober 2010

Quality Of Life 2

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN


2010

BAB I

PENDAHULUAN

Quality of life 'adalah istilah yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan. Kesejahteraan menggambarkan seberapa baik perasaan seseorang terhadap lingkungan mereka, dan secara kolektif perasaan ini dapat dianggap sebagai quality of life. Istilah quality of life digunakan untuk mengevaluasi kesejahteraan individu dan masyarakat secara umum. Istilah ini digunakan dalam berbagai konteks, termasuk bidang pembangunan internasional, kesehatan, dan ilmu politik. Quality of life tidak sama dengan konsep standar hidup, yang didasarkan terutama pada pendapatan. Sebaliknya, indikator standar quality of life meliputi tidak hanya kekayaan dan lapangan kerja, tetapi juga membangun lingkungan, kesehatan fisik dan mental, pendidikan, rekreasi dan waktu senggang, dan hak untuk bersosial. (5)

Telah lama diterima bahwa kesejahteraan secara material, yang diukur dengan pendapatan domestik bruto (PDB) per orang, namun tidak dapat menjelaskan dengan sendirinya quality of life yang lebih luas pada suatu negara. Satu untai dari berbagai literatur telah berusaha untuk menyesuaikan PDB dengan mengukur aspek yang tidak terukur oleh pengukuran PDB seperti berbagai kegiatan non-pasar dan penyakit sosial seperti polusi lingkungan. Tapi pendekatan-pendekatan tersebut menghadapi kesulitan dalam menentukan nilainya untuk berbagai faktor dan faktor yang tidak berwujud seperti ukuran yang lebih luas dari hanya kesejahteraan sosial-ekonomi saja. (15)

Sampai saat ini Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikeluarkan PBB masih digunakan untuk menilai kesejahteraan manusia. Namun seiring dengan berkembang waktu banyak indikator-indikator lain yang sebenarnya dapat menilai kesejahteraan hidup atau quality of life dari seseorang dan masyarakat banyak. (17)

Bagaimana dengan kesejahteraan di Indonesia? Berdasarkan IPM, Indonesia sendiri sampai tahun 2007 masih menempati urutan 107 dari 177 negara di dunia, dan sudah berada di bawah Singapura, Brunei, Malaysia bahkan Vietnam.(11) Selain itu dari bidang kesehatannya, angka kematian ibu dan angka kematian bayi tergolong masih tinggi.

BAB II

TINAJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Menurut WHO, quality of life (QOL) didefinisikan sebagai persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka hidup dan dalam kaitannya dengan tujuan mereka, harapan, standar dan keprihatinan. (18)

Definisi ini mencerminkan pandangan bahwa kualitas hidup mengacu pada evaluasi secara subyektif yang tertanam dalam konteks budaya, sosial dan lingkungan. Karena definisi kualitas hidup berfokus pada "persepsi" responden terhadap kualitas hidup, tidak diharapkan untuk mendefinisikan cara untuk mengukur gejala kebiasaan secara rinci, yaitu penyakit atau kondisi, melainkan efek dari penyakit dan intervensi kesehatan terhadap kualitas hidup. Dengan demikian, kualitas hidup tidak dapat disamakan hanya dengan istilah "status kesehatan", "gaya hidup", "kepuasan hidup", "keadaan mental yang seimbang" atau "kesejahteraan". (18)

Definisi QOL masih belum berlaku secara umum. Selain itu terdapat istilah lain, seperti kesejahteraan sosial dan pembangunan manusia sering digunakan sebagai istilah yang setara atau analog dengan quality of life. Misalnya, Indeks Pembangunan Manusia PBB sering digambarkan sebagai pengukuran salah satu pengukuran QOL. Secara umum, QOL merupakan suatu produk yang dihasilkan dari interaksi sejumlah faktor-faktor yang berbeda, seperti sosial, kesehatan, ekonomi, dan kondisi lingkungan, yang secara kumulatif, juga dengan cara-cara yang belum diketahui, berinteraksi untuk mempengaruhi pembangunan manusia dan sosial di tingkat individu dan masyarakat. Ini merupakan "gagasan tentang kesejahteraan manusia yang diukur dengan indikator sosial, bukan secara pengukuran "kuantitatif" terhadap pendapatan dan produksi." (United Nations Glossary 2009). (4)

Pengertian quality of life bermacam-macam. Ini memberikan aspek psikologis bahwa seseorang itu sangat penting. Meskipun, beberapa macam varian ditemukan dengan subjektivitas individu, namun masih terdapat kekonsistensian pengertian secara terminologi yang mengarah kepada keseragaman pemeriksaan ilmiah yang diterapkan pada sistem quality of life. Prinsipnya, ini meliputi penilaian yang sangat teliti dari hal-hal yang bersifat umum (dengan perbedaannya) diantara pilihan-pilihan, opini-opini, prilaku dan nilai-nilai, yang diberikan oleh para peneliti, merupakan arti yang padat dan merupakan pengertian dari quality of life. Dengan cara ini model dari quality of life dikembangkan dengan mencerminkan nilai masing-masing bersama, pilihan dan harapan, pada waktu yang sama, mengkombinasikan kondisi hidup dan statistik dari alam tradisional. (8)

2.2 Konsep Awal Quality of Life

Salah satu pengukuran tindakan yang paling populer dari QOL adalah estimasi kebahagiaan seseorang. Perdebatan atas QOL dan bagaimana cara memaksimalkannya, yang dimulai dari zaman dulu, oleh Aristoteles di Etica nicomahica digunakan untuk pertama kalinya istilah "eudaimonia", bahasa Yunani untuk "kebahagiaan". Aristoteles berpendapat bahwa kebaikan tertinggi bagi manusia adalah kebahagiaan. Dia menegaskan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia adalah untuk mengejar kebahagiaan. Aristoteles juga berpendapat bahwa tindakan manusia selalu ditujukan untuk suatu tujuan atau baik. "Baik" ini tidak dapat dilihat sebagai tindakan yang baik atau bagus oleh orang lain, tetapi untuk pelakunya tindakan tersebut adalah baik, kegiatan tersebut akan dianggap sebagai yang baik dan akan membawa hasil yang menguntungkan.(4)

Bertrand Russell (1930) dalam bukunya menyatakan tentang mendapatkan kebahagiaan menguraikan konsep kebahagiaan sebagai rasa sukacita yang relatif bervariasi dari satu budaya ke budaya lain dan juga dari satu orang ke orang lain. (4)

Pendekatan modern, meskipun, menyiratkan definisi yang akurat dari syarat dan model pembangunan untuk bidang-bidang studi yang berlaku. Menurut skema ini, 3 dari 4 aspek utama kebahagiaan ialah disimpulkan dari literatur filosofis dan ilmiah:

Gambar 2.1 Empat aspek utama kebahagiaan dari literatur filosofis dan ilmiah.


Kebahagiaan di sini didefinisikan sebagai sejauh mana seorang individu menilai secara keseluruhan kualitas hidupnya sebagai keseluruhan yang baik. Di negara Bhutan, Gross National Happiness (GNH) adalah indeks utama untuk menentukan kualitas hidup dalam istilah yang lebih holistik dan psikologis. (4)

Dorongan untuk membentuk sarana penilaian dan evaluasi QOL diberikan pada tahun 1960 kepada Social Indikators Movement. Pada tahun 1960, pendidikan publik, sosial, program ekologi yang diprakarsai, dan indikator kuantitatif yang digunakan untuk mengukur keberhasilan mereka (atau mungkin juga kegagalan) merupakan kebutuhan yang besar. Gerakan tersebut, pada gilirannya, disebabkan oleh pandangan dalam masyarakat bahwa hidup secara umum lebih buruk padahal standar hidup jauh membaik. Terdapat dua jenis parameter pengukuran QOL, atau indikator, yaitu, subyektif dan obyektif. Terdapat pula pakar estimasi yang menggabungkan kedua pendekatan subjektif dan objektif ini. (4)

2.3 Pengukuran Quality Of Life Secara Subjektif Dan Objektif

Indikator-indikator evaluasi subjektif mencerminkan kehidupan masyarakat. Mereka mewakili data tingkat mikro QOL yang dikumpulkan dari setiap agen. Pengukuran semacam ini pada dasarnya bersifat pribadi dan berdasarkan persepsi individu tentang kesejahteraannya dan tanggapan yang diperoleh dalam survei sosiologis dan investigasi. Orang-orang bertanya apa yang mereka rasakan tentang kehidupan mereka, nilai-nilainya, apa yang paling mereka pedulikan, dan lain-lain. Kuesionernya kadang-kadang dapat berisi hingga seratus pertanyaan. Selain itu, data ini dikumpulkan selama penyelidikan longitudinal dari populasi. Langkah-langkah subjektif mencerminkan status yang sebenarnya dari QOL, atau kondisi-kondisi kehidupan secara umum, dan sikap dari orang-orang terhadap kondisi ini, meskipun elemen persepsi bias mungkin tidak pernah dapat dihilangkan. (4)

Gambar 2.2 Kesejahteraan secara subjektif (4)


Sekumpulan dari pengukuran subjektif ini dengan menggunakan teknik statistik dan metode dapat membantu untuk mengidentifikasi nilai-nilai masyarakat atau kelompok sosial yang berbeda. Akhirnya, nilai-nilai tersebut dinilai menurut skala dapat menjadi indikator dari dimensi QOL yang tidak dapat diraba. (4)

Pengukuran QOL secara objektif dibangun atas dasar variabel yang sulit yaitu, data dari kota atau institusi pemerintah dan organisasi-organisasi yang mungkin meliputi rekening keuangan, catatan sipil negara, statistik medis, tingkat polusi, dan bagian lain dari informasi faktual yang dikumpulkan oleh lembaga-lembaga secara rutin. Masyarakat secara keseluruhan dengan melihat, dalam arti umum, pada indikator bidang makro ekonomi, sosial, demografi yang menentukan kondisi hidup dan cara orang hidup. Sebagai ukuran yang obyektif, QOL dapat didefinisikan sebagai sebuah keterkaitan dari empat faktor penentu dari fungsi dan aktivitas penting penduduk. (4)

Gambar 2.3 Quality of life secara objektif (4)

Dekomposisi hierarkis setiap komponen bisa turun ke karakteristik tingkat dasar yang rendah dinilai oleh data statistik atau dengan estimasi ahli. Misalnya, kualitas penduduk disimpulkan dari struktur demografis penduduk, proses reproduksi dan perilaku perkawinan, kesehatan fisik, psikis, dan moral penduduk serta tingkat pendidikan mereka dan kemampuan. Kesejahteraan material ditentukan oleh standar hidup, diferensiasi penghasilan, perumahan, telekomunikasi, perdagangan, pendidikan, budaya, dan sistem kesehatan media massa. Lebih sederhana, parameter seperti akses terhadap layanan dasar (air minum, sanitasi dan lain-lain) dan fasilitas (pasar, taman, bank dan lain-lain) yang dibutuhkan untuk menggambarkan QOL suatu komunitas. Kualitas sistem sosial bergantung pada negara dan/atau swasta dalam kasus-kasus yang cacat (secara permanen atau sementara), hak warga negara untuk pendidikan, pekerjaan, rekreasi, kepemilikan pribadi dan perlindungan pribadi, stabilitas sistem politik, pengikutertaan individu dalam infrastruktur sosial, ras dan kesetaraan jenis kelamin, stabilitas sosial. Keadaan ekologi dipengaruhi oleh keadaan udara dan sumber air (permukaan dan tanah), tingkat kimia, radioaktif, pencemaran logam berat, dan lain-lain. Daftar ini masih jauh dari lengkap. (4)

Jadi, setiap sifat dan langkah-langkah tersebut, yang diungkapkan melalui sistem indikator statistik, harus diintegrasikan dalam pengukuran QOL secara keseluruhan. Tidak dapat diragukan, namun bahwa QOL dari sebuah komunitas atau kelompok sosial atau suatu bangsa dalam hal ini ditentukan oleh jumlah anggota atau warga negara yang terbesar jumlahnya. Selanjutnya, sehingga jenis parameter dan tolok ukur masing-masing dapat berbeda-beda sesuai dengan karakter yang melekat pada masyarakat. (4)

2.4 Indikator Quality of Life

Quality of life memiliki indikator-indikator. Dan indikator-indikator tersebut diteliti dan dikeluarkan oleh beberapa kelembagaan, seperti WHO, Calvert-Henderson, dan lainnya. Namun, secara prinsipil indikator-indikator tersebut adalah sama.

Inisiatif WHO untuk mengembangkan penilaian terhadap kualitas hidup muncul karena beberapa alasan. Baru-baru ini telah terjadi perluasan pada fokus pengukuran kesehatan, di luar indikator kesehatan tradisional, seperti mortalitas dan morbiditas (misalnya Bank Dunia, 1993; WHO, 1991), untuk memasukkan ukuran dari dampak penyakit dan penurunan aktivitas dan perilaku sehari-hari (misalnya Nottingham Health Profile; Bergner, Bobbitt, Carter et al, 1981), pengukuran kesehatan yang dirasakan (misalnya Nottingham Health Profile; Hunt,McKenna dan McEwan, 1989) dan ukuran status kecacatan / fungsional (misalnya SF MOS-36, et Ware al, 1993). Langkah-langkah ini tidak menilai kualitas hidup per se, yang tepat disebut sebagai "pengukuran yang hilang dalam kesehatan" (Fallowfield, 1990). Dengan keputusan untuk menilai kualitas hidup dalam perawatan kesehatan, perhatian difokuskan pada aspek kesehatan, dan menghasilkan intervensi yang akan meningkatkan perhatian pada aspek kesejahteraan pasien ini. Inisiatif WHO untuk mengembangkan penilaian terhadap kualitas hidup timbul dari kebutuhan untuk menilai dunia internasional secara benar-benar terhadap kualitas hidup dan komitmen terhadap promosi dari pendekatan holistik terhadap kesehatan dan perawatan kesehatan yang berkelanjutan. (18)

Tabel 2.1 Bidang-bidang quality of life menurut WHO

Bidang

Segi-segi Yang Berkaitan Dengan Bidang

Kesehatan fisik

Aktivitas hidup sehari-hari

Ketergantungan pada bahan obat dan bantuan medis

Energi dan kelelahan

Mobilitas

Rasa sakit dan ketidaknyamanan

Tidur dan istirahat

Kapasitas Kerja

Psikologis

Gambaran tubuh dan penampilan

Perasaan negatif

Perasaan positif

Penghargaan diri

Spiritualitas / Agama / keyakinan pribadi

Berpikir, belajar, memori dan konsentrasi

Hubungan sosial

Hubungan pribadi

Dukungan sosial

Aktivitas seksual

Lingkungan

Sumber daya keuangan

Kebebasan, keamanan fisik dan keamanan

Kesehatan dan kepedulian sosial: aksesibilitas dan kualitas

Lingkungan rumah

Peluang untuk memperoleh informasi baru dan keterampilan

Partisipasi dan kesempatan untuk rekreasi / kegiatan di waktu luang

Lingkungan fisik (polusi / suara / lalu lintas / iklim)

Transportasi

2.4.1 Universal Declaration of Human Rights PBB (1948)

Universal Declaration of Human Rights dari PBB, yang diadopsi tahun 1948, memberikan daftar faktor-faktor yang sangat baik yang dapat dipertimbangkan dalam mengevaluasi QOL. Faktor-faktor tersebut mencakup banyak hal kepada warga Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya menerimanya. Meskipun deklarasi ini berusia 60 tahun, dalam banyak hal masih tetap ideal untuk menjadi dasar urusan. Faktor-faktor yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas hidup meliputi: (4)

Kebebasan dari perbudakan dan penyiksaan

1. Perlindungan hukum yang sama

2. Kebebasan dari diskriminasi

3. Kebebasan bergerak

4. Kebebasan tinggal di negara asal seseorang

5. Praduga tak bersalah kecuali terbukti bersalah

6. Hak untuk menikah

7. Hak untuk memiliki keluarga

8. Hak untuk diperlakukan sama tanpa memandang jenis kelamin, ras, bahasa, agama, keyakinan politik, kebangsaan, status sosial ekonomi dan banyak lagi

9. Hak untuk privasi

10. Kebebasan berpikir

11. Kebebasan beragama

12. Kebebasan memilih kerja

13. Hak untuk dibayar secara adil

14. Membayar sama untuk pekerjaan yang sama

15. Hak untuk memilih

16. Hak untuk istirahat dan liburan

17. Hak atas pendidikan

18. Hak atas martabat manusia (4)

2.4.2 Millennium Development Goals (MDGs)

Pada tahun 2001, disebabkan perlunya membantu negara miskin secara lebih agresif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dasar mereka, negara anggota PBB mengadopsi target pembangunan internasional untuk maraih delapan gol. MDGs bertujuan untuk memacu pembangunan dengan meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi di negara-negara termiskin di dunia. Ditetapkan untuk tahun 2015, MDGs merupakan serangkaian tujuan yang disepakati yang dapat dicapai jika semua pelaku bekerja sama dan melakukan bagian mereka masing-masing. Negara-negara miskin telah berjanji untuk mengatur lebih baik, dan berinvestasi pada orang-orang mereka melalui pelayanan kesehatan dan pendidikan. Negara-negara kaya telah berjanji untuk mendukung mereka, melalui bantuan, penghapusan utang, dan perdagangan yang adil.(4)

Tujuan 1: Menghapuskan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim (4)

Sasaran 1 Mengurangi sampai setengahnya, antara tahun 1990 dan 2015 jumlah orang yang berpenghasilan kurang dari satu dolar sehari.

Sasaran 2 Mengurangi sampai setengahnya, antara 1990 dan 2015 jumlah orang yang menderita kelaparan

Tujuan 2: Mencapai pendidikan dasar yang universal

Sasaran 3 - Memastikan bahwa, pada 2015, anak-anak di mana-mana, anak laki-laki dan perempuan, akan dapat menyelesaikan program penuh pendidikan dasar.

Tujuan 3: Meningkatkan kesetaraan jenis kelamin dan memberdayakan perempuan

Sasaran 4 - Menghilangkan ketimpangan gender di pendidikan dasar dan menengah, sebaiknya \ pada tahun 2005, dan untuk semua tingkat pendidikan tidak lebih dari tahun 2015.

Tujuan 4: Mengurangi angka kematian anak

Sasaran 5 - Mengurangi dua per tiganya, antara 1990 dan 2015 tingkat kematian balita

Tujuan 5: Meningkatkan kesehatan ibu

Sasaran 6 - Mengurangi sampai tiga perempat, antara 1990 dan 2015 rasio kematian ibu.

Tujuan 6: Memerangi HIV / AIDS, malaria dan penyakit lainnya

Sasaran 7 Menghentikan pada tahun 2015 dan mulai membalikkan penyebaran HIV/AIDS

Sasaran 8 Menghentikan pada pada tahun 2015 dan mulai membalikkan tingkat penyebaran malaria dan penyakit utama lainnya.

Tujuan 7: Menjamin kelestarian lingkungan

Sasaran 9 Mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program serta mengurangi kerugian sumber daya lingkungan.

Sasaran 10 Mengurangi sampai setengahnya tahun 2015 jumlah penduduk tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum yang aman.

Sasaran 11 Pada 2020 telah mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk paling tidak 100 juta kumuh.


Tujuan 8: Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan

Sasaran 12 - Mengembangkan lebih lanjut sistem keterbukaan, berbasis peraturan, dapat diprediksi, non-diskriminatif untuk perdagangan dan keuangan

Sasaran 13 - Memenuhi kebutuhan khusus negara-negara berkembang

Sasaran 14 - Memenuhi kebutuhan khusus negara-negara yang terkurung daratan dan Pulau Kecil di negara berkembang.

Sasaran 15 - Bertransaksi secara komprehensif dengan masalah utang negara-negara berkembang melalui ukuran nasional dan internasional untuk membuat utang yang berkelanjutan dalam jangka panjang (4)

2.4.3 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Indeks pembangunan manusia (IPM) adalah ukuran kuantitatif yang populer untuk tingkat keberhasilan suatu negara dalam mengembangkan potensi manusia. IPM diperkenalkan pada awal tahun 1990-an disebabkan oleh kebutuhan untuk menemukan ukuran kemajuan manusia dengan pendekatan kepada manusia daripada pendekatan ekonomi.(4)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup , melek huruf , pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Indeks ini pada 1990 dikembangkan oleh pemenang nobel india Amartya Sen dan Mahbub ul Haq seorang ekonom pakistan dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics dan sejak itu dipakai oleh Program pembangunan PBB pada laporan HDI tahunannya. Digambarkan sebagai "pengukuran vulgar" oleh Amartya Sen karena batasanya. Indeks ini lebih fokus pada hal-hal yang lebih sensitif dan berguna daripada hanya sekedar pendapatan perkapita yang selama ini digunakan, dan indeks ini juga berguna sebagai jembatan bagi peneliti yang serius untuk mengetahui hal-hal yang lebih terinci dalam membuat laporan pembangunan manusianya. (17)

HDI mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia: (4),(17)

· Hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran

· Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua per tiga) dan kombinasi pendidikan dasar , menengah , atas gross enrollment ratio (bobot satu per tiga).

· Standard kehidupan yang layak diukur dengan GDP per kapita gross domestic product / produk domestik bruto. Beberapa hal yang berkaitan dengan GDP dalam menilai standar kehidupan atau kualitas hidup adalah, antara lain:

1. Produk domestik bruto (PDB) adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. PDB digunakan sebagai suatu indikator dalam menilai standar kehidupan, dengan dasar pemikiran bahwa semua warga akan juga akan mendapatkan manfaat dari negara mereka jika dapat meningkatkan produksi ekonomi negaranya. PDB per kapita bukanlah ukuran untuk mengukur pendapatan pribadi. PDB dapat meningkat, sementara pendapatan riil untuk mayoritas orang dapat meningkat tidak sebesar PDB. Sebagai contoh, di Amerika Serikat 1990-2006 laba dari pekerja secara individu, dalam industri swasta dan jasa, meningkat <> (4),(17),(21)

2. Pendapatan kotor nasional atau Gross National Income (GNI) terdiri dari nilai total yang dihasilkan dalam suatu negara (produk domestik bruto), ditambah dengan pendapatan yang diterima dari negara-negara lain (terutama bunga dan dividen). (22)

3. Konsep Gross National Happiness (GNH) dikembangkan dalam upaya untuk mendefinisikan sebuah indikator yang mengukur kualitas hidup atau kemajuan sosial dalam istilah yang lebih holistik dan psikologis daripada produk domestik bruto (PDB). Indikator GNH yang diukur adalah kesejahteraan ekonomi, lingkungan, fisik, mental, tempat kerja, sosial, dan politik. Namun GNH masih tergantung pada serangkaian penilaian yang bersifat subjektif tentang kesejahteraan, lagipula ada kemugkinan bagi pemerintah dapat mendefinisikan GNH dengan cara yang sesuai dengan kepentingan mereka. (23)

Nilai IPM untuk setiap negara (wilayah, dan lain-lain) menunjukkan seberapa jauh negara tersebut harus pergi untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditentukan: rentang kehidupan rata-rata 85 tahun, akses pendidikan untuk semua dan standar hidup tingkat dunia. (4)

Konsep Pembangunan Manusia yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menetapkan peringkat kinerja pembangunan manusia pada skala 0,0 – 100,0 dengan kategori sebagai berikut :

– Tinggi : IPM lebih dari 80,0

– Menengah Atas : IPM antara 66,0 – 79,9

– Menengah Bawah : IPM antara 50,0 – 65,9

– Rendah : IPM kurang dari 50,0

Salah satu alat ukur yang dianggap dapat merefleksikan status pembangunan manusia adalah Human Development Index (HDI) atau IPM. IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar yaitu usia hidup (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup layak (decent living). (17)

2.4.4 Economist Intelligence Unit’s quality of life index

Indeks The Economist Intelligence Unit Quality Of Life didasarkan pada metodologi yang unik yang menghubungkan hasil survei kepuasan hidup-subjektif dengan penentu objektif QOL di seluruh negara. Indeks dihitung pada tahun 2005 dan meliputi data dari 111 negara dan teritori. Survei ini menggunakan sembilan faktor QOL untuk menentukan nilai suatu negara. Yang terdaftar di bawah ini merupakan indikator yang digunakan sebagai faktor-faktor, yaitu: (4)

1. Kesehatan: Harapan hidup saat lahir (dalam tahun).

2. Kehidupan Berkeluarga: Tingkat Perceraian (per 1.000 penduduk), diubah menjadi indeks 1 (tingkat perceraian terendah) sampai 5 (tertinggi).

3. Kehidupan Bermasyarakat: Variabel kesalahan mengambil nilai 1 jika negara memiliki kehadiran di gereja atau keanggotaan serikat buruh tingkat tinggi; bila sebaliknya maka adalah nol.

4. Kesejahteraan Materi: GDP per orang, dalam dolar amerika.

5. Stabilitas dan Keamanan Politik: Tingkat stabilitas dan keamanan politik

6. Iklim dan geografi: untuk membedakan antara cuaca panas dan dingin.

7. Keamanan Pekerjaan: Tingkat Pengangguran (%)

8. Kebebasan Berpolitik: Rata-rata indeks kebebasan berpolitik dan sipil.

9. Kesetaraan gender: diukur menggunakan rasio pendapatan rata-rata laki-laki dan perempuan. (4)

Gambar 2.4 Peta dunia yang menunjukkan angka Indeks Pembanguna Manusia (tahun 2008) (4)


2.5 Keadaan Quality Of Life Di Dunia

Negara di dunia memiliki karakteristik dasar yang sangat bervariasi seperti jumlah populasi, wilayah geografis, ekonomi dan kekuatan militer, yang selalu berubah setiap waktunya. Tingkat dan sifat urbanisasi sangat bervariasi sehingga demikian juga dengan QOL di kota-kota mereka masing-masing, baik kota yang ditinggalkan maupun kota yang didatangi. Pada kota di negara-negara barat, QOL dikembangkan dalam hal akses ke layanan dan fasilitas yang terbaik di dunia tetapi dalam hal perawatan usia lanjut dan kesepian, atau dimensi sosial-budaya nyata yang lain, terus menjadi miskin. Sangat berbeda dengan masyarakat yang berkembang dan belum berkembang, meskipun materi kesejahteraan sering diakses dengan cara yang lebih sulit, kumpulan perayaan acara kebudayaan yang khas mampu menghasilkan rasa sukacita yang mendalam dan merupakan ciri dari bagian komunitas yang lebih luas. (4)

Gambar 2.5 Peta dunia yang menunjukkan Nilai Indeks Economist Intelligence Unit’s quality of life. (10)


2.5.1 Kategorisasi Negara-Negara Di Dunia

Sebuah sistem klasifikasi bertingkat dua yang hanya didasarkan pada pengembangan didirikan oleh PBB, yaitu negara berkembang, dan negara maju. Negara-negara maju adalah mereka yang telah membuat kemajuan dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi yang baik. Ekonomi mereka didasarkan kepada layanan dan industri manufaktur. Mereka memiliki laju pertumbuhan penduduk yang rendah, sumber per kapita produk domestik bruto yang tinggi, kesempatan pendidikan yang baik, dan pelayanan kesehatan yang mudah tersedia. Negara-negara berkembang umumnya memiliki ekonomi berbasis pertanian. Mereka memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat dan sumber daya yang terbatas. Banyak penduduk mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Sekitar tiga perempat penduduk dunia tinggal di negara berkembang. (4)

Gambar 2.6 Kategorisasi negara-negara berdasarkan income(4)


Sistem klasifikasi bertingkat tiga yang dikembangkan oleh Bank Dunia adalah salah satu yang umum digunakan saat ini. Dalam sistem ini, negara dibagi menjadi tiga kategori: Negara kurang maju, Negara sedang maju, dan Negara sangat maju. Karakteristik yang menentukan suatu negara masuk dalam salah satu kategori tersebut, ditentukan oleh: Produk Nasional Bruto (GNP) per kapita, transportasi dan fasilitas komunikasi, konsumsi energi dan angka buta huruf, dan jumlah pengangguran. (4)

2.6 Indikator-Indikator

1. Masyarakat

Faktor-faktor seperti pertumbuhan penduduk, usia, etnis, migrasi dan berumah tangga sering menjadi kunci penentu kondisi berbagai masalah yang mempengaruhi seluruh QOL. Pertumbuhan penduduk atau sebaliknya dapat memberikan implikasi yang besar terhadap infrastruktur kota, ekonomi, sumber daya alam dan ekosistem dan kohesi sosial.(4),(6)

Gambar 2.7 Metode pengelolaan sampah di negara berkembang dan negara maju.


3. Pengetahuan Dan Keterampilan

Prestasi pendidikan sangat penting bagi partisipasi efektif dalam masyarakat. Semakin lama, masyarakat perkotaan menjadi berbasis pengetahuan dan ekonomi desa membutuhkan solusi yang inovatif untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kemampuan masyarakat untuk meningkatkan keterampilan selama mereka hidup bekerja adalah penting jika mereka ingin mengikuti lingkungan kerja yang berubah dengan cepat. Akses kepada kesempatan belajar seumur hidup juga terkait dengan kebutuhan masyarakat untuk pemenuhan diri dan penentuan nasib sendiri. (4)

Faktor penentu di bawah pengetahuan dan keterampilan adalah: partisipasi dalam pendidikan anak usia dini, partisipasi sekolah, tingkat kualifikasi, keterampilan dan pekerjaan sesuai dan pelatihan karir. (4)

4. Keamanan

Masyarakat merasa aman dan selamat di rumah, dan daerah perkotaan merupakan hak dasar manusia. Merasa dan menjadi aman adalah kunci untuk kesehatan keseluruhan di masyarakat. Seiring dengan tumbuhnya daerah perkotaan, kebutuhan akan lingkungan sosial dan fisik yang aman, di mana orang dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat mereka, menjadi sebuah tantangan yang meningkat pula. Faktor penentu di dalam keselamatan adalah: persepsi tentang keamanan; keselamatan anak; cedera, keselamatan di jalan, keselamatan di tempat kerja, tingkat kejahatan. (4)

5. Tempat Tinggal

Perumahan adalah komponen fundamental dalam QOL. Perumahan merupakan komponen terbesar dari pengeluaran rumah tangga dan merupakan kemampuan pusat untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ketika biaya perumahan relatif terlalu tinggi untuk pendapatan, orang memiliki lebih sedikit untuk membelanjakan akan kebutuhan lainnya seperti makanan, transportasi, kesehatan dan pendidikan. Tanpa tempat berlindung yang tepat, orang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka dan berpartisipasi dalam masyarakat dengan baik. Masalah perumahan dapat berefek terhadap kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Komponen utama yang dipertimbangkan adalah: kepemilikan perumahan; harga perumahan dan keterjangkauannya, rumah tangga yang padat; penyediaan perumahan pemerintah dan aksesibilitas perumahan.(4),(6)

6. Hubungan Sosial

Konsep masyarakat sangat penting untuk keseluruhan QOL masyarakat dan rasa untuk memiliki. Jaringan informal dan bagaimana manusia berhubungan dengan orang lain adalah penting bagi masyarakat yang kuat dan sosial yang baik. Masyarakat yang saling percaya dan terhubung akan mendukung pembangunan sosial dan ekonomi di kota-kota kita. Masyarakat yang kuat memiliki masalah sosial yang lebih sedikit, lebih mudah beradaptasi dalam menghadapi perubahan dan ketika mereka mengalami kesulitan, mereka memiliki sumber daya internal uang dapat dimanfaatkan. Pertumbuhan populasi dan perubahan di kota-kota berdampak pada hubungan seseorang dengan orang lain dan rasa memiliki mereka terhadap daerahnya. Komponen utama yang dinilai adalah: kualitas hidup; keragaman dan identitas; kekuatan masyarakat; akses ke telekomunikasi; seni dan budaya. (4)

7. Pembangunan Ekonomi

Selandia Baru memiliki ekonomi campuran yang beroperasi pada prinsip-prinsip pasar bebas. Sektor manufaktur dan jasa yang besar ini melengkapi sektor pertanian yang sangat efisien, dengan ekspor barang dan jasa berkontrobusi sekitar sepertiga dari Produk Domestik Bruto negara tersebut. Indikator pembangunan ekonomi memberikan informasi penting tentang apakah telah terjadi peningkatan standar kehidupan yang berkelanjutan. Seperti kenaikan pendapatan per kapita meningkat, pendidikan yang lebih baik dan kesehatan penduduk setempat. Hal ini pada gilirannya akan membantu mendorong peluang lebih lanjut bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan dalam suatu masyarakat atau bangsa. Komponen utama yang dipertimbangkan adalah: pertumbuhan ekonomi; kerja; penelitian dan pengembangan; bisnis lokal; penjualan eceran; persetujuan bangunan non-hunian, pariwisata. (4)

8. Hak Warga Sipil dan Hak Berpolitik

Mengaktifkan pengambilan keputusan lokal yang demokratis merupakan salah satu tujuan utama pemerintah daerah yang juga penting dalam memperbaiki sosial ekonomi, kesejahteraan lingkungan dan budaya masyarakat. Sistem sipil dan politik yang efektif memungkinkan masyarakat untuk diatur dengan cara memperbaiki keadilan dan keseimbangan dan mendukung QOL masyarakat. Populasi di kota-kota menjadi semakin beragam, dengan lebih banyak orang dari kelompok etnis yang berbeda dan latar belakang budaya. Adalah penting untuk memahami bagaimana institusi dan prosesnya dapat terus mendukung keterlibatan masyarakat sipil dan politik. Pemahaman ini juga dapat membantu menghilangkan hambatan yang membatasi kemampuan orang untuk melaksanakan hak-hak sipil mereka dan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. (4)

9. Standar Kehidupan Ekonomi

Tingkat pendapatan dan kekayaan adalah kunci yang menentukan kesejahteraan individu atau keluarga. Standar ekonomi dari kehidupan melibatkan kombinasi faktor-faktor kompleks seperti pendapatan, biaya hidup, dan ukuran rumah tangga dan komposisinya. Pendapatan adalah salah satu faktor yang paling penting dalam mempengaruhi QOL pada umumnya. Ini merupakan indikator utama kesejahteraan dan kesehatan bagi individu, rumah tangga dan komunitas. Semakin sejahtera perekonomian, semakin baik pula warga mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi, membeli harta benda dan mengakses layanan kualitas kesehatan. Secara umum, ini mengarah ke keterhubungan sosial yang lebih besar, kemajuan pendidikan, pilihan pekerjaan yang lebih luas dan meningkatkan harapan hidup. Komponen utama yang dianggap untuk membantu standar ekonomi hidup adalah: pendapatan; kerja / keseimbangan hidup, biaya hidup; kekurangan sosial yang layak; kebersihan.(4),(6)

10. Lingkungan Alam

Kualitas lingkungan alam secara langsung berkaitan dengan QOL masyarakat. Pertumbuhan penduduk dan pembangunan ekonomi memberikan tekanan pada keberlanjutan lingkungan alam. Tekanan untuk perluasan wilayah perkotaan ke daerah pinggiran akan membuat efek pada ekosistem alam baik darat dan laut. Isu-isu seperti pencemaran lingkungan, limbah dan manajemen, warisan perlindungan dan pelestarian satwa liar asli, semua merupakan isu-isu penting yang harus dipertimbangkan untuk daerah perkotaan yang tumbuh dan berkembang. Unsur-unsurnya meliputi: masalah-masalah lokal lingkungan alam; pengelolaan limbah dan daur ulang; keanekaragaman hayati, penggunaan energi; kualitas udara; pantai dan sungai /danau kualitas air, kualitas air minum, konsumsi air; jejak kaki ekologis. (4)

11. Pembangunan Lingkungan

Lahan perkotaan digunakan untuk mengakomodasi pertumbuhan industri dan rumah tangga juga berdampak pada biaya dan aksesibilitas perumahan, transportasi dan pekerjaan. Akses yang buruk dapat berdampak pada kesehatan penduduk tersebut, kesejahteraan finansial mereka, rasa aman dan kesejahteraan masyarakat umum. Komponen utama yang dipertimbangkan adalah: Tampilan dan nuansa kota; penggunaan tanah, Lalu Lintas dan transportasi; Angkutan Umum. (4)


2.7 Quality Of Life Di Indonesia

2.7.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia

Angka IPM Indonesia dari tahun ke tahun: (17)

  1. tahun 1980 = 0.522
  2. tahun 1985 = 0.562
  3. tahun 1990 = 0.624
  4. tahun 1995 = 0.658
  5. tahun 2000 = 0.673
  1. tahun 2003 = 0.709
  2. tahun 2004 = 0.714
  3. tahun 2005 = 0.723
  4. tahun 2006 = 0.729
  5. tahun 2007 = 0.734

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) untuk tahun 2007/2008 dari United Nations Development Programme ((11)). Peringkat IPM Indonesia tahun 2007 berada di urutan 107 dari 177 negara. Selain semakin jauh tertinggal oleh Singapura (peringkat 25), Brunei Darussalam (30), Malaysia (63), Thailand (78), dan Filipina (90), peringkat Indonesia juga sudah terkejar oleh Vietnam (105) yang pada tahun 2006 berada di peringkat 109. Tanpa perbaikan strategi pembangunan ekonomi dan sosial secara mendasar, peringkat IPM Indonesia tidak menutup kemungkinan segera disusul oleh Laos (130), Kamboja (131) dan Myanmar (132) di tahun-tahun mendatang. (11),(16)

2.7.2 Pendidikan Di Indonesia

Pendidikan merupakan salah satu faktor dalam menentukan kualitas hidup manusia. Pembangunan pendidikan di Indonesia telah menunjukkan keberhasilan yang cukup besar. Wajib Belajar 6 tahun, yang didukung pembangunan infrastruktur sekolah dan diteruskan dengan Wajib Belajar 9 tahun adalah program sektor pendidikan yang diakui cukup sukses. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi sekolah dasar dari 41 persen pada tahun 1968 menjadi 94 persen pada tahun 1996, sedangkan partisipasi sekolah tingkat SMP meningkat dari 62 persen tahun 1993 menjadi 80 persen tahun 2002. (8)

Angka melek huruf (AMH) merupakan salah satu indikator yang harus dihitung untuk menentukan indeks pembangunan manusia atau indeks kualitas hidup manusia. AMH adalah persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. (8)

Seperti yang dikutip dari harian global bahwa pada bulan April 2009 tercatat angka buta huruf di Indonesia adalah 9,7 juta atau 5,97 persen. Ada penurunan jika dibandingkan tahun 2004 yang mencapai 10,7 persen. (12)

2.7.3 Gizi Di Indonesia

Masalah gizi merupakan masalah yang multi dimensi, dipengaruhi oleh berbagai faktor penyebab. Penyebab langsung gizi kurang adalah makan tidak seimbang, baik jumlah dan mutu asupan gizinya, di samping itu asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat adanya penyakit infeksi. (3)

Penyebab tidak langsung adalah tidak cukup tersedianya pangan di rumah tangga, kurang baiknya pola pengasuhan anak terutama dalam pola pemberian makan pada balita, kurang memadainya sanitasi dan kesehatan lingkungan serta kurang baiknya pelayanan kesehatan. Semua keadaan ini berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan kemiskinan. Akar masalah gizi adalah terjadinya krisis ekonomi, politik dan sosial termasuk kejadian bencana alam, yang mempengaruhi ketidak seimbangan antara asupan makanan dan adanya penyakit infeksi, yang pada akhirnya mempengaruhi status gizi balita. (3)

Angka prevalensi kasus gizi buruk pada balita di Indonesia semakin menunjukkan peningkatan. Dari 6,3 persen pada tahun 1989 menjadi 8,8 persen pada tahun 2005, atau sekitar 4,5 juta. Data tersebut dilansir dari Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS), lembaga swadaya masyarakat yang aktif di bidang kesehatan. Departemen Kesehatan (Depkes) sendiri memperkirakan angka gizi buruk mencapai 1,5 juta orang. (1)

2.7.4 Angka Kematian Ibu (AKI)

Berdasarkan Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2008, angka kematian ibu (AKI) di Propinsi Jawa Barat berkisar pada 228/100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian ibu. adalah perdarahan, eklampsia atau gangguan akibat tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus lama, komplikasi aborsi, dan infeksi. Perdarahan, yang biasanya tidak bisa diperkirakan dan terjadi secara mendadak, bertanggung jawab atas 28 persen kematian ibu. Sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan atonia uteri. Hal ini mengindikasikan kurang baiknya manajemen tahap ketiga proses kelahiran dan pelayanan emergensi obstetrik dan perawatan neonatal yang tepat waktu. Eklampsia merupakan penyebab utama kedua kematian ibu, yaitu 13 persen kematian ibu di Indonesia (rata-rata dunia adalah 12 persen). Pemantauan kehamilan secara teratur sebenarnya dapat menjamin akses terhadap perawatan yang sederhana dan murah yang dapat mencegah kematian ibu karena eklampsia. (2),(20)

Aborsi yang tidak aman. bertanggung jawab ter hadap 11 persen kematian ibu di Indonesia (ratarata dunia 13 persen). Kematian ini sebenarnya dapat dicegah jika perempuan mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan kontrasepsi serta perawatan terhadap komplikasi aborsi. (2)

Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) Indonesia masih tertinggi di Asia. ”Tahun 2002 kematian ibu melahirkan mencapai 307 per 100.000 kelahiran. Angka ini 65 kali kematian ibu di Singapura, 9,5 kali dari Malaysia. Bahkan 2,5 kali lipat dari indeks Filipina. (14)

2.7.5 Angka Kematian Bayi (AKB)

Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen. (8)

Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus. (8)

Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gisi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun. (8)

Angka kematian bayi di Indonesia mengalami penurunan drastic dari 145 per 1.000 kelahiran pada tahun 1971 menjadi 71 per 1.000 kela­­­hi­­ran pada tahun 1990, dan pada tahun 2.000 AKB turun kembali menjadi 44 per 1000 kelahiran. Kini diperkirakan sekitar 35 per 1.000 kelahiran. Namun ang­ka ini jauh lebih tinggi diban­ding­­kan negara-negara ASEAN lainnya. (13)

2.7.6 Pekerjaan

Penduduk dipandang dari sisi ketenagakerjaan merupakan suplai bagi pasar tenaga kerja di suatu negara. Namun tidak semua penduduk mampu melakukannya karena hanya penduduk yang berusia kerjalah yang bisa menawarkan tenaganya di pasar kerja. Penduduk usia kerja dibagi menjadi dua golongan yaitu yang termasuk angkatan kerja dan yang termasuk bukan angkatan kerja. Penggolongan usia kerja di Indonesia mengikuti standar internasional yaitu usia 15 tahun atau lebih.(8)

Angkatan kerja sendiri terdiri dari mereka yang aktif bekerja dan mereka yang sedang mencari pekerjaan. Mereka yang terakhir itulah yang dinamakan sebagai pengangguran terbuka. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah mereka yang masih bersekolah, ibu rumah tangga, pensiunan dan lain-lain.(8)

Mengutip data survei tenaga kerja nasional tahun 2009 yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Nasional (Bappenas), mengungkapkan bahwa dari 21,2 juta masyarakat Indonesia yang masuk dalam angkatan kerja, sebanyak 4,1 juta orang atau sekitar 22,2 persen adalah pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka itu didominasi oleh lulusan diploma dan universitas dengan kisaran angka di atas 2 juta orang. (7)

2.8 Quality of Life Di Puskesmas Campaka Kecamatan Campaka Kabupaten Purwakarta

Indeks pembangunan manusia di Jawa Barat tahun 2006 ialah 70,28 %, sedangkan indeks pembangunan manusia di kabupaten Purwakarta yaitu 69 %. (19)

Berdasarkan profil Puskesmas tahun 2009, Kecamatan Campaka memiliki beberapa nilai indikator QOL sebagai berikut :

1. Jumlah kepala keluarga di KecamatanCampaka ialah 9.605, dengan jumlah KK miskin sebanyak 1.305. Kepadatan penduduk sebesar 711 jiwa/Km2.

2. Rata-rata pendidikan di Kecamatan Campaka ialah tamat SD sebanyak 56,72%.

3. Rata-rata pekerjaan yang dimiliki kepala keluarga ialah petani sebanyak 47,00 %, sedangkan yang tidak bekerja sebanyak 214 kepala keluarga (2,22 %).

4. Angka kematian ibu sebesar 3 kasus, dan angka kematian bayi sebanyak 2 kasus.

BAB III

KESIMPULAN

Quality of life mengacu kepada kemampuan pasien dalam menikmati aktivitas kehidupan kesehariannya, yang dilihat dari berbagai indikator. Metodelogi pengukuran quality of life memiliki 2 (dua) dasar pengukuran, yaitu pertama, menilai kesejahteraan secara subjektif yang berfokus pada kebahagiaan, kepuasan dan rasa suka. Kedua, secara objektif yang menilai indikator umum seperti sosial, ekonomi dan kesehatan. Untuk menjadi negara maju, negara berkembang harus meningkatkan quality of life dari masyarakatnya secara lebih cepat daripada negara maju.

BUTUH DAFTAR PUSTAKANYA ??? (Gambar sulit di Upload, jadi gak muncul)

Hubungi aja 02291339839

Jangan berpikir macam2 dulu Dok, he2... SMS aja dulu...

Salam TS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar